Chapter 35.Bayangan, Bintang, dan Oracle

176 16 1
                                        

Langit kelabu diatas, lumpur hitam dibawah, lautan merah tak berujung diantaranya. Pada latar belakang yang seperti mimpi ini, dua gadis cantik tengah berjalan melintasi labirin. Yang satu lembut dan rapuh, dengan rambut pirang dan mata biru tanpa tujuan. Ia mengenakan tunik sederhana, dengan sandal kulit dikakinya dan jubah berwarna ombak laut yang melilit bahunya. Yang satunya tinggi dan lincah. Rambutnya perak seperti sutra dan matanya abu-abu jernih. Pakaiannya yang terbuka terbuat dari rumput laut hitam, sehingga kulitnya yang putih dan tubuhnya yang atletis terekspos. Dia tenang, waspada, dan bertelanjang kaki.

Seutas tali menghubungkan dua gadis itu.

'Wah, pemandangan yang luar biasa,' pikir Sunny. Ia tiba-tiba kecewa karena ia bukan seorang seniman. Potrait dihadapannya seperti memohon untuk dibuat menjadi sebuah lukisan. 'Tunggu... kenapa aku jadi memikirkan itu? Manusia! Aku bertemu manusia!'

Jantung Sunny berdebar kencang. Jika Nephis dan Cassia ada disini, maka cahaya jingga tadi kemungkinan besar ada hubungannya dengan mereka. Itu artinya mereka tahu cara menuju ke bukit tinggi itu. Yang berarti Sunny tidak akan tertimpa musibah hingga tewas akibat air pasang.

'Uh... jadi apa yang harus kulakukan sekarang?'

Dia bukan orang yang pandai mengambil hati orang lain. Malah, dia kebalikannya - orang-orang biasanya secara naluriah menghindarinya. Dan itu dalam keadaan normal. Namun, kali ini, dia telah menghabiskan empat minggu penuh untuk memastikan bahwa semua orang di Akademi membencinya...

'Kerja bagus, Sunny!'

Tetap saja, dia setidaknya berguna. Dalam situasi ini, tubuh tambahan sudah menjadi anugerah besar saat menghadapi monster lapar. Dan dia bukan sembarang orang: kemampuannya untuk mengintai ke depan saja sudah sangat berharga. Tentunya mereka akan mengerti itu... kan?

Sambil mendesah berat, Sunny melangkah kedalam bayangan dan bergegas menuju tempat terbuka. Ia mencapainya dalam waktu sekitar satu menit, bersembunyi dan mengamati kedua gadis itu sebelum membuat keputusan akhir.

Sambil memegang tongkat kayunya, Cassia yang buta perlahan mendekati bagian tengah lapangan dan mengulurkan tangan, menemukan Nephis dan menyentuh bahunya. "Kenapa kau berhenti?"

Nephis menopang gadis buta itu dan melirik ke langit. "Sudah terlambat."

Jeda canggung terjadi diantara mereka. Setelah beberapa saat, Cassia bertanya: "Jadi menurutmu kita harus kembali?"

Nephis berkedip dan berdeham. "Ya."

Sunny sedikit geli dengan percakapan mereka. 'Siapa dia, tipe yang kuat dan pendiam?' Lalu dia kembali dalam dilemanya dan meringis. 'Bagaimana cara mendekati mereka? Sial, kenapa ini sulit sekali! Aku tidak sedang mengajak mereka berkencan. Maksudku, salah satu dari mereka, atau keduanya? Apa yang sedang kupikirkan?! Langsung saja sapa mereka!'

Tapi, jika dia tiba-tiba muncul dari balik bayangan... tidak seperti orang menjijikan... seberapa besar kemungkinan mereka akan ketakutan dan menyerangnya sebelum menyadari bahwa dia bukanlah monster? 'Tunggu, kenapa mereka harus... argh, persetan dengan ini!'

Setelah memutuskan pendekatan yang paling aman, Sunny memerintahkan bayangannya untuk meninggalkan tempat persembunyiannya dan pindah ke tempat yang dapat dilihat dengan jelas oleh Nephis. Dia dapat dengan jelas merasakan bayangan itu memutar matanya saat mematuhi perintah itu. Begitu bayangan mulai bergerak, Nephis tiba-tiba menjentikkan tangannya ke samping. Seketika, sebilah pedang muncul didalamnya, memotong udara saat bayangan itu mengambil posisi bertahan. Sebelum bayangan itu bahkan bisa mengambil langkah kedua untuk keluar dari tampat persembunyiannya, bayangan itu sudah tertusuk oleh mata abu-abu si Changing Star.

Bayangan itu membeku. Ia tampak sedikit terkejut.

Cassia mundur selangkah. "Neph? Ada apa?"

Nephis tidak langsung menjawab, mengamati bayangan itu dengan seksama. Kemudian dia hanya berkata: "Ada bayangan."

Shadow SlaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang