Chapter 55. Orang-Orang Beruntung

156 13 0
                                        

Ketika mereka kembali ke kamp darurat, hal pertama yang dilakukan Nephis adalah menghampiri Cassia. "Hai, Cass. Coba tebak."

Gadis buta itu menoleh padanya dan tersenyum: "Kau akhirnya menerima Memori tipe armor?"

Pada saat yang sama, Nephis berkata: "Aku menemukan sesuatu yang layak untuk dikenakan..." Kemudian dia terdiam dan menatap temannya yang tersenyum.

Cassia tertawa. "Suara langkah kakimu berubah."

Changing Star berkedip. "Ah. Begitu ya. Yah... ini dari Carapace Centurion."

Selagi menjelaskan baju zirah itu pada Cassia dan membiarkan dia menyentuh logam putih misterius tempat baju zirah itu ditempa, Sunny bersantai dan beristirahat di dekat api unggun. Beberapa waktu kemudian, Nephis sibuk menyiapkan makan malam. Sunny sekali lagi berbaring malas diatas batu dan menatap ke langit. Langit, seperti biasa. Kelabu dan tidak bersahabat.

Dengan ketiganya yang dilengkapi dengan armor yang layak, mereka akhirnya mulai menyerupai kelompok Awakened yang sebenarnya. Bahkan, Sunny berpikir bahwa kelompok mereka cukup menarik perhatian bahkan menurut standar Awakened.

Dalam balutan tunik tipis dan jubah gelombang lautnya, Cassia yang cantik dan lembut tampak seperti seorang putri. Lincah dan tenang, Nephis bagaikan seorang ksatria mulia yang bertugas melindunginya. Namun, Sunny... Kalau dia baik hati pada dirinya sendiri, dia akan berkata bahwa dia tampak seperti seorang pengawal berkuda. Tapi sejujurnya, dia lebih mirip seorang pelayan - lebih tepatnya. Jika ada orang asing yang melihat mereka bertiga, orang asing itu kemungkinan besar akan menganggap Sunny adalah seorang pelayan rendahan atau penjahat lemah yang telah ditangkap oleh pengawal wanita bangsawan itu.

Wah, itu akan menambah keterkejutan mereka saat aku menusuk mereka dari belakang. Tunggu... kenapa aku menusuk orang asing secara acak? Ah, siapa peduli. Aku yakin pasti ada alasannya.

Pada saat itu, Cassia duduk di sampingnya. Sunny menoleh, menatap gadis buta itu dengan sedikit terkejut.

Gadis itu menggigit bibirnya. "Nephis memberitahuku bahwa kau hampir mati kemarin."

Oh, jadi itu maksudnya. "Ya." Lalu, sambil mendesah pelan, Sunny menambahkan: "Tapi jangan terlalu khawatir. Itu bukan pertama kalinya aku berhadapan dengan kematian." Meskipun sejauh pengalaman nya, itu adalah yang paling dekat. Kenangan itu masih membuatnya merinding.

Cassia terdiam beberapa saat. Kemudian, dia berkata pelan: "Aku minta maaf."

Sunny mengangkat alis. "Maaf? Apa yang membuatmu berpikir harus mengatakannya?"

Gadis buta itu menundukkan matanya. "Karena aku tidak berguna."

Sunny mengerutkan kening dan mengalihkan pandangan. Sedetik atau dua detik kemudian, dia berkata dengan nada acuh tak acuh seperti biasanya: "Kau tidaklah tidak berguna."

Cassia terkekeh pelan. "Bukankah begitu? Jika aku ingin berjalan, aku harus diikat olehmu atau Neph. Jika aku ingin makan, aku harus menunggu salah satu dari kalian untuk memberiku makan. Itulah hidupku sekarang. Aku tidak dapat melakukan hal-hal yang paling sederhana sekalipun tanpa bantuan... apalagi bisa berguna bagi kalian berdua sebagai balasannya."

Perlahan, suaranya berubah serak karena emosi. Ini adalah pertama kalinya Sunny melihat topeng tekadnya sedikit tersingkap, memperlihatkan wajah putus asa, marah dan ketakutan di balinya. Ia teridam cukup lama. Kemudian berkata: "Hei, pernahkah aku bercerita padamu tentang Mimpi Buruk Pertamaku?"

Gadis buta itu menggelengkan kepala. Sunny setengah menutup matanya. "Mimpi Buruk Pertamaku adalah yang terburuk. Sejujurnya, situasinya sangat tidak ada harapan. Aku adalah seorang budak yang ditakdirkan untuk mati kedinginan atau dianiaya. Dirantai, berdarah, tak berdaya. Yang lebih buruk, Aspekku ternyata sama sekali tidak berguna. Maksudku, secara harfiah. Jika aku ingat dengan benar, frasa yang dipilih Spell untuk menggambarkannya adalah "orang malang yang tidak berguna tanpa keterampilan atau kemampuan yang layak disebut."

Cassia menoleh sedikit, tampak tertarik oleh kata-katanya. "Lalu... bagaimana kau bisa bertahan? Apakah keadaan berubah menjadi lebih baik?"

Sunny tersenyum. "Tidak. Malah, keadaan memburuk dengan cepat. Jauh, jauh lebih buruk. Tapi, apa yang kau ketahui? Dalam sebuah takdir yang aneh, Aspekku yang tidak berguna ternyata menjadi satu-satunya hal yang dapat membimbingku melewati kekacauan itu hidup-hidup. Dalam hal itu, aku sangat beruntung."

Sunny bergeser sedikit dan melirik gadis cantik itu, memperhatikan kerutan serius di wajahnya. "Namun, ada satu hal tentang keberuntungan. Orang-orang biasanya membicarakannya seolah-olah keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi begitu saja pada mereka. Padahal tidak. Keberuntungan adalah lima puluh persen kemampuan mu sendiri untuk meraihnya. Keberuntungan adalah sesuatu yang harus kau wujudkan sendiri. Aku berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Itulah salah satu dari dua alasan mengapa aku masih disini."

Sambil berkata demikian, Sunny teringat akan gunung yang dingin dan gelap itu dan menggigil. Kemudian, sambil menyingkirkan kenangan yang mengerikan itu, ia melanjutkan: "Alasan kedua adalah Spell itu sendiri. Aku tidak akan mengatakan bahwa itu masuk akal, tapi itu adil... dengan caranya sendiri yang menyimpang. Spell itu mengambil dengan satu tangan dan memberi dengan tangan yang lain. Seperti itulah Mimpi Buruk Pertamaku, dan begitu pula denganmu."

Kerutan di dahi Cassia semakin dalam. Sunny memilih kata-kata berikutnya dengan sangat hati-hati. Akhirnya, dia berkata: "Kelemahanmu adalah kelemahan yang paling melemahkan yang pernah kulihat atau kudengar. Kau benar, tanpa bantuan seseorang seperti Neph, itu pasti akan menjadi hukuman mati. Dan orang-orang seperti dia... yah, aku bahkan tidak yakin apakah ada orang lain seperti itu. Tapi..."

Gadis buta itu menggertakkan giginya. "Tapi apa?"

Sunny menatapnya dengan ekspresi serius. "Tapi itu juga berarti sisi lain dari Flaw/Cacat itu, kekuatanmu, sama luar biasanya. Kau hanya belum menemukan cara untuk memahaminya. Ketika kau berhasil... percayalah, kau akan mengingat percakapan ini dan merasa sangat malu tentang betapa naif dan bodohnya dirimu."

Ekspresi Cassia berubah menjadi keraguan dan kebingungan. "Apakah kau benar-benar berpikir begitu?" bisiknya.

Ada sedikit hasrat putus asa dalam suaranya. Namun, pertanyaan itu sendiri hampir membuatnya tertawa, karena alasan yang jelas.

"Percayalah. Aku orang paling jujur di dunia. Dua dunia, sebenarnya."

...Sunny sebenarnya ingin sekali bersikap kurang jujur, tapi, sayangnya, dia secara fisik tidak mampu melakukannya. Tentu saja, dia tidak perlu tahu itu.

Cassia terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikirannya. Tampaknya dia sedang dilanda pergumulan batin. Sunny hampir berasumsi bahwa percakapan mereka sudah berkahir, tapi kemudian dia tiba-tiba berkata dengan suara rendah dan serak: "Aku mendapat lebih banyak penglihatan daripada yang ku ceritakan pada kalian."






TBC

Shadow SlaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang