Setelah makan siang bersama, mereka sudah kembali. Mereka menggunakan mobil Revan. Karna memang Erika tidak mau menggunakan mobil pribadinya untuk orang kantor.
Dalam perjalanan hanya Erika yang tidak banyak bicara.
Mereka membicarakan hal-hal random.
Seperti bagaimana Ayyara bisa sakit, dapat Kamar RS yang oke dan kehidupan seputar anak kost.
"Kamu pernah masak ikan kaleng di setrikaan Ra?"
"Malahan pernah pake lilin. Biar hemat listrik kak!" Tawa nya pecah, di ikuti lainnya.
Sampailah mereka.
"Van! Gue belum beli kopi!" Erika menyeletuk
"Astagaaa! Lupaa. Duh gue harus balik ke RS nih. Minta is.. eh! Si Ayyara yang beli aja yaah. Gue telat pake banget.bye"
Langsung masuk kedalam mobil.
"Bu' Er mau kopi apa? Sekalian aku mau beli sandwich juga" Ayyara menyamakan langkah kaki Erika.
"Ice Americano 1, latte less sugar 1" memberikan kartu ke Ayyara.
Untung saja karyawan yang lain tidak melihat kalau kartu yang diberikan adalah kartu pribadi Erika. Bukan kartu fasilitas kantor.
Dan jelas Ayyara tau pin dari kartu tersebut. Karna itu kartu untuk belanja semua keperluan rumah dan itu memang untuk Ayyara, tapi Ayyara tak mau menerimanya.
.
"Vanya! Si anak baru itu mana? Gak masuk lagi dia?" Siska
Belum sempat vanya menjawab, Ayyara sampai.
"Iya kak? Aku di sini"
"Dari mana aja lo?" Menelisik Ayyara dari atas hingga ke bawah
"Baru balik dari makan siang? Enak banget lo! Ini udah hampir jam 2 siang. Mau laru dari tanggung jawab kerjaan?" Bentak siska dengan nada ketus dan menaikkan volume suaranya.
"Eehh. Bu'Er tadi nitip kopi ke aku kak" Ayyara menundukkan kepala.
"Oh! Kenapa gak jadi OB aja lo sekalian" sahut Siska.
"emm. Raa, sini kopinya ke aku aja. Bu' Er lagu ada tamu" Vanya mengalihkan perhatian. Ayyara hanya menuruti.
"Ke ruang meeting SEKARANG!" Siska
"Iya kak" Ayyara.
.
"Ka siska kayanya udah nargetin Ayyara untuk jadi bahan ledakkan emosinya deh. Aku gak tega sama Ayyara, mana mereka 1 tim lagi" vanya berbisik dengan karyawan lainnya mengangguk setuju.
Saat ini Ayyara sedang bergelut dengan perkerjaan yang menggunung.
Setelag beberapa revisi, dia harus membuat 3 opsi untuk pemilihan. Dengan, 3 story board untum opsi lainnya.
Sungguh! Ayyara pikir Siska dan Erika adalah kembaran yang terpisah.
S-a-n-g-a-t mirip!
Apalah daya Ayyara. Ia tetap mengerjakan walaupun rasanya ingin membanting laptop dan monitor ke arah Siska dan Erika.
'Betapa dewasanya diriku' ucapnya sambil merapihkan rambutnya untum di cepol.
"Lembur Ra?bertanya dengan nada lembut" tini bertanya dengan wajah menyebalkan.
"Gak! Mo nginepp! Jagaiin kantor! Dengan nada capslock!" Kesal Ayyara.
Tini berlari sebelum bolpoin mengarah ke wajahnya.
.
Di tempat lain Erika baru saja sampai ruangannya. Ia sempat melirik ke meja Ayyara, kosong.
"Bu'Er. Ini latte kopinya mau saya siapkan sekarang?"
(Ayara sengaja tidak memisahkan kopi latte dengan es nya)
"Ya boleh, van." Berdiri tetapi melihat kearah meja Ayyara.
"aa, kartu bu'Er yah? masih sama Ayyara. Tadi saya lupa mintanya"
Erika akhirnya menatap Vanya.
"Terus orangnya kemana?" Wajah datar Erika.
"Ruang meeting. Sama si siska" sinisnya Vanya.
"Kamu kenapa gitu nadanya?" Bingung Erika.
"mm. Bu'Er, sebenernya.." ucapan Vanya terpotong
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
