Pagi itu, udara di kantor terasa lebih dingin dari pendingin ruangan.
Erika datang terlambat dengan alasan “macet”, sementara semua orang tahu ekspresinya bukan karena jalanan — tapi karena suasana hati.
Di sisi lain, Ayyara sudah duduk di meja kerjanya sejak pagi, wajahnya fokus menatap layar monitor tapi sorot matanya datar.
Tini yang duduk di antara mereka dua seperti orang yang terjebak di medan perang.
Dia menatap ke kiri, saat Erika memasuki ruangan dengan wajah datar tapi aura tekanan tinggi.
Lalu ke kanan, ada Ayyara yang tenang tapi menusuk dengan keheningan.
Sampai akhirnya Tini berbisik ke rekan di belakang,
“kenapa lagi tuh?”
Yang dibalas lirih,
"Alamat maju kena mundur kena, pas diem makin parah” Adam menyambung
Gosip kecil itu cepat menyebar seperti kabut pagi.
---
Selang beberapa jam, suara pintu ruang CEO menutup pelan, tapi tekanan yang ada di dalam ruangan itu seperti menembus dinding kaca.
Erika berdiri tegak di hadapan Pak Dewa, menatapnya tanpa gentar, meski ekspresi pria itu sudah tampak menahan marah.
“Jadi ini hasil kerja kamu?” suara Pak Dewa berat, tapi ada nada sindiran di baliknya.
“Presentasi untuk klien utama kita—berubah total dari arahan yang aku kasih dua minggu lalu.”
Erika menarik napas dalam. “Saya ubah karena data engagement drop signifikan, Pak. Strategi lama udah nggak relevan.”
Pak Dewa mendekat, meletakkan kedua tangannya di meja, menatap Erika tajam.
“Relevan atau tidak, kamu tetap harus izin. Jangan bertindak seenaknya hanya karena kamu ngerasa paling paham tren digital.”
“Kalau saya nggak bertindak cepat, klien bisa pindah ke agensi lain,” balas Erika, nada suaranya meninggi tapi masih terukur. “Saya nggak bisa terus menunggu persetujuan yang datangnya setelah semuanya terlambat.”
Pak Dewa menatapnya lama, matanya gelap — bukan hanya karena amarah.
“Sekarang kamu bicara seperti ini di depanku, Erika? Setelah semua yang aku lakukan buat kamu?”
Erika mengerutkan alis, nada herannya tajam. “Saya nggak ngerti maksud Bapak.”
“Sudah cukup, jangan pura-pura.” Pak Dewa berdiri tegak, menatap langsung ke arahnya. “Aku tahu kamu lagi dekat lagi dengan Tama. Aku lihat sendiri waktu kalian, minggu lalu. Jadi ini? Kamu mau pindah ke agensi Tama, ya? Atau mau main dua kaki?”
Ucapan itu menghantam seperti tamparan. Erika mematung sesaat, lalu tertawa kecil tanpa senyum.
“Jadi sekarang masalahnya bukan soal kerjaan, ya, Pak? Ini tentang asumsi pribadi?”
Nada bicaranya turun satu oktaf — datar, tapi tajam seperti pisau.
“Saya pikir Bapak cukup profesional untuk bedain antara pekerjaan dan lainnya”
Wajah Pak Dewa menegang. “Hati-hati kamu ngomong, Erika. Jangan lupa siapa yang bikin kamu bisa duduk di posisi ini.”
Erika menatapnya lurus. “Saya duduk di posisi ini karena hasil kerja saya sendiri, bukan karena simpati siapa pun.”
Suasana membeku.
Hening.
Hanya terdengar suara jam berdetak dan napas berat dari keduanya.
Akhirnya Erika menghela napas, mengambil file dari meja.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya permisi. Saya masih punya deadline yang lebih penting dari gosip pribadi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
