kegaduhan

1.1K 98 8
                                        

Matahari baru menembus tirai ketika aroma roti panggang memenuhi apartemen.
Ayyara sibuk di dapur, rambutnya masih acak-acakan, kausnya kebesaran — kaus Erika.

Erika duduk di kursi dapur, masih pakai piyama, dagunya bertumpu di meja sambil memperhatikan Ayyara bolak-balik membuka lemari. Tatapannya lembut, tapi menyebalkan.

“Kamu liatin apa sih?” tanya Ayyara tanpa menoleh.
“Kamu,” jawab Erika santai.
“Laper?”
“Iya. Tapi bukan roti.”
“Apaan dong?”
“Kamu.”

Ayyara langsung menoleh dengan ekspresi separuh geli, separuh pasrah.
“Kaaaaakk… pagi-pagi udah gombal mode on aja.”
“Biar harimu manis.”

Ayyara menggeleng, lalu meletakkan piring roti di depan Erika. “Tuh, manis dari selainya aja udah cukup.”
Erika malah bangkit, memeluk dari belakang, dagunya bersandar di bahu Ayyara.

“Aku gak cukup. Kamu harus di sebelahku terus.”
“Erika, aku mau ke minimarket bentar, stok susu Calista abis.”
“Ya udah aku ikut.”
“Ngapain kamu ikut, cuma lima menit.”
“Lima menit tanpa kamu tuh kayak… jam kerja lembur.”

Ayyara mendengus geli. “Terserah, tapi naik motor ya. Gak usah pake mobil, deket kok.”

Erika berhenti sejenak, wajahnya langsung berubah.

“Motor?”
“Iya, motor.”
“Yang dua roda itu?”
“Iya. Jangan bilang kamu gak bisa.”
“Bisa sih… tapi terakhir kali tuh naik ATV di outing kantor, dan aku jatuh pas mau belok.”
Ayyara ngakak. “Yah, kan ini bukan sirkuit pasir. Tenang aja, aku yang nyetir.”

.
Lima menit kemudian, Ayyara udah duduk di depan motor, helmnya siap.
Sementara Erika berdiri di belakang sambil melipat tangan dan wajahnya cemberut.

“Ayolah, naik. Aku udah nyalain.”
“Tunggu, ini beneran aman?”
“Ya aman lah. Pegangan aja.”
“Pegangan ke mana?”
“Ke aku, lah!”
“Oh, itu bagian favoritku.”

Erika langsung naik, tapi begitu mesin menyala, dia otomatis melingkarkan tangan di pinggang Ayyara… terlalu erat.

“kak, napas aku masih perlu, tau,” keluh Ayyara.
“Aku takut jatuh.”
“Baru jalan dua meter.”
“Ya tetep aja.”

Selama perjalanan, Erika seperti anak kecil:
teriak pelan setiap motor lewat dari arah berlawanan, nempel terus, bahkan sempat menempelkan dagu di bahu Ayyara.

“Kamu tau gak, aku baru sadar helm kamu wangi banget.”
“Itu helm aku, ya jelas wangi aku.”
“Oh iya. Pantes aku nyaman banget.”

Setiap kali berhenti di lampu merah, Erika selalu menyandarkan kepalanya di punggung Ayyara. Orang-orang di sekitar sempat melirik, tapi Ayyara cuma bisa nyengir malu.

“kakk, jangan nempel gitu dong. Nih orang-orang pada liatin.”
“Biarin. Aku mau semua orang tau aku bahagia.”

.

Begitu sampai, Ayyara turun duluan. Tapi Erika malah gak mau turun.
“Ayo, turun.”
“Gak mau. Di sini hangat.”
“ini bukan pelukan romantis. Ini parkiran, ada tukang galon ngeliatin.”
“Biarlah, cinta gak mengenal tempat.”

Ayyara sampai harus menepuk helm Erika biar mau turun.
Di dalam minimarket, tingkahnya gak kalah lucu.

Erika terus ngikut di belakang Ayyara, kadang pura-pura baca label susu, kadang malah jalan terlalu deket sampai Ayyara hampir nabrak rak biskuit.

“Kamu bisa gak, jaga jarak dua langkah?”
“Gak bisa. Aku kehilangan arah kalau kamu jauh.”
“Yah, alesan.”

Kasir sampai senyum-senyum waktu mereka bayar.
Ayyara cuma bisa menunduk, sementara Erika nyengir lebar.
.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang