Matahari sudah tinggi ketika Erika terbangun. Biasanya ia yang paling cerewet soal jam kerja, tapi pagi itu alarm dibiarkan berbunyi tiga kali sebelum akhirnya ia membuka mata.
Di sebelahnya, Ayyara masih terlelap dengan wajah lelah, rambut berantakan, dan selimut yang hanya menutupi separuh tubuh.
Erika mengernyit, lalu tersenyum geli. Wajar aja dia masih nyenyak begini… semalam aku keterlaluan, batinnya.
Tatapannya kemudian beralih ke ranjang bayi kecil di pojok kamar, di mana Calista, sudah duduk tegak dengan boneka kesayangannya, menepuk-nepuk kasur seakan protes karena sudah bosan.
“Ya ampun, kita telat!” Erika buru-buru melompat dari tempat tidur, hampir tersandung selimut.
Ayyara bergumam tak jelas sambil menutup wajah dengan bantal.
“Lima menit lagi…” suaranya serak dan manja, membuat Erika menahan tawa.
“Lima menit?, kita udah telat setengah jam. Kalau kamu tambah lima menit lagi, nanti kamu resmi jadi pengangguran.”
Dengan malas, Ayyara bangun juga. Rambutnya acak-acakan, mata sembab karena kantuk, dan setiap gerakannya terlihat lambat.
Erika yang biasanya tegas di pagi hari malah jadi penuh rasa bersalah melihat istrinya seperti itu.
.
karena terlalu mepet, mereka tak sempat mengantar Calista ke rumah Revan seperti biasa. Akhirnya, diputuskan untuk langsung membawa Calista ke kantor.
.
Begitu pintu lift terbuka di lantai kantor, semua kepala langsung menoleh. Erika masuk dengan wajah canggung, menenteng tas kerja di satu tangan.
Ayyara berjalan sambil menguap besar-besaran, berusaha menutupi mulut dengan tangan tapi tetap saja terlihat jelas, dengan membawa Calista distroller.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Vanya
Erika hanya menggangguk sok tenang, padahal jelas raut wajahnya menunjukkan ia ikut kurang tidur.
Ruangan mendadak riuh.
Vanya langsung bangkit dari kursinya, matanya berbinar melihat Calista.
“Ya Tuhan, ini siapa Raa? Lucu banget!” serunya sambil mendekat.
Ikky ikut menyusul. “kamu nyulik bayi siapa? Jangan-jangan ini anak kamu ya Raa?”
Belum sempat Ayyara menjawab, Pak Dewa ikut nimbrung dengan tatapan serius. “Oh, jadi Ayyara sudah punya anak ya?”
Erika spontan terbatuk keras, tak ingin mendengar obrolan lainnya, ia pun langsung masuk ke ruangam.
Ayyara yang masih setengah mengantuk langsung melek dengan ekspresi panik.
“Eh… bukan begitu, Pak,” Erika mencoba menjelaskan, tapi suaranya tertelan oleh hebohnya orang-orang.
"Masih pagi, udah pada ngegosip?" Erika keluar dari ruangan.
"Vanya, mana list yang saya minta kemarin?"
Vanya bergegas ke ruangan Erika dengan cepat.
Semua orang memencarkan diri dengan kalimat ketus yang di ucapkan oleh Erika.
.
Tini, yang sudah tahu hubungan Erika dan Ayyara sejak lama, langsung menutupi mulutnya sambil menahan tawa.
Apalagi ketika melihat Ayyara kembali menguap lebar-lebar.
“Ya ampun, Ayyara, jangan-jangan semalam begadang ya? Aduh, kasihan banget kalau harus ngurus bayi sambil kurang tidur,” godanya sambil menyenggol pelan lengan Ayyara.
Wajah Ayyara langsung merah padam.
Calista sendiri tampak menikmati semua perhatian. Ia menepuk-nepuk meja kerja Tini sambil tertawa renyah, membuat semua orang semakin gemas.
“Mirip banget sama Ayyara,” celetuk Ikky. “Matanya, senyumnya, persis banget. Pantes aja Pak Dewa bilang begitu.”
Ayyara hanya bisa menghela napas. Astaga, kalau dibiarkan, nanti mereka bikin gosip yang aneh-aneh lagi, pikirnya.
"Ini adiknya Ayyara guys! Yakali semuda ini jadi mahmud" Tini menjelaskan, sambil menciumi Calista.
.
Ayyara memasuki ruangan Erika, ia membawa Revisian yang semalam ia kerjakan. Sambil menyiapkan laptopnya, Erika menoleh pada Ayyara yang duduk di kursi sebelah. Istrinya benar-benar terlihat kewalahan, menguap tiap lima menit sekali.
“Lihat? Ini gara-gara kak Eca nih” gumam Ayyara lirih, suaranya penuh protes.
Erika mendekat, berbisik dengan nada nakal, “Gara-gara aku? Kamu juga kan yang tadi malam nggak berhenti ngerespon.”
Ayyara melotot kecil, pipinya makin panas. Untung suaranya cukup pelan sehingga orang lain tidak dengar.
Hari ini, suasana kantor benar-benar berbeda. Ada Calista yang jadi pusat perhatian, ada Ayyara yang berkali-kali digoda karena kantuknya, dan ada Erika yang berusaha mati-matian menjaga tawa meski Ayyara menahan kantuk dan revisiannya jadi bahan ejekan.
Namun, di balik semua kehebohan, Erika merasa bahagia. Menggingat ia, Ayyara dan Calista bersama
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Genel KurguTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
