Semua masih gaduh menentukan posisi kamar untuk pengginapan Outting.
Dalam satu kamar akan di huni 2-3 orang. Tini dengan cepat mengisi kamar bersama Ayyara karna tak ingin bertiga katanya.
.
Rupanya di bawah Erika dan Kayla bertemu dengn Bryan.
"Ecaaa?" Bryan lebih dulu melihat dan menyapa.
"Ngapain lo kesini?!" Kayla maju dan menarik mundur tubuh Erika.
Bryan berusaha untuk menarik Erika
"Gue ada perlu sama Eca. Please bolehin gue ngomong empat mata sama Eca, kay" melirih melihat Erika.
Kayla melihat Bryan dan Erika bergantian.
"Sorry, yan. Gue hari ini lagi banyak banget kerjaan. Next time ya." Erika melihat jam dan beberapa orang yang melihat pula ke arah mereka bertiga, karna suara Kayla lumayan terdengar.
"Oke, Ca. Gue cabut yah." Menghadap Erika.
"Dan lo! Balik sana" menatap sini Bryan.
"Caa! Nanti kita berkabar ya, banyak yang harus di bicarakan antara kita" Bryan memeggang bahu Erika, namun Erika memundurkan bahunya perlahan.
"Oke" jawab singkat Erika.
.
Erika menarik nafas dalam.
Pasalnya ia satu lift dengan Agnes dan Siska. Suasana lift sangat canggung.
"Bu'Er. Sudah isi link untuk hadir Outing bu?" Akhirnya Agnes memecahkan suasana canggung.
"mm. Belum, saya baru aja selesai meeting" jawab sekena nya Erika.
"Tapi, bu'Er ikut kan?" Selidik Agnes.
"Kalau di wajibkan, memang harus ikut kan?" Melirik Agnes dan siska bergantian.
Ting!
Bunyi lift membuyarkan obrolan basa-basi ini. Erika keluar dengan penuh percaya diri dengan langkah kaki yang tegas.
.
.
"Vanya, tolong telfon OB. Pesenin saya kopi double shoot" Erika berhenti di meja Vanya.
"Baik, bu. Ohiya bu'Er, sudah isi untuk Outing? Sama pilih bangku bis nya?"
"Memangnya kapan sih acaranya? Sudah 2 orang yang menggigatkan saya dalam waktu kurang dari 1 jam" jengkel Erika.
"Jumat ini acaranya." Jawab cepar Vanya.
"Sebentar. Tadi, kamu bilang pilih bangku bis?" Erika berbalik mendekati Vanya.
"Iya bu, semua di wajibkan menaikin Bis. Nih, liat aja bu" Vanya menunjuk layar peta bis.
"Coba kamu tanyakan sama Agnes, saya akan membawa mobil saya sendiri dan.."
Ucapan Erika terpotong.
"Noooo. Erikaa ini acara untuk mengakrabkan diri dengan para karyawan." Dewa yang menyambung obrolan Erika dan Vanya.
"Kalau gitu, pak Dewa juga naik bis dong?." Seru Erika.
"Tentu!. Jadi, kamu cepat pilih tempat duduk" menepuk bahu Erika dan tertawa pelan.
Vanya hanya tersenyum paksa melihat raut wajah Erika.
Menurut Vanya, Erika merupakan atasan yang sangat sulit untuk membaur dengan para karyawan kantor.
Padahal Erika merupakan atasan yang sangat Royal dalam memberikan reward ke Tim-nya. Jika ada penggangkatan menjadi karyawan tetap, bonus tambahan, cemilan ketika lembur dan sering kali menggunakam kartu kantor untuk kami. Alasannya, saya jarang menggunakan-nya.
Tapi, karna Erika terlihat jutek, dingin dan jarang, bahkan tidak pernah berbicara santai (selain pekerjaan) terhadap karyawan lainnya. Kecuali dengan Vanya.
Vanya merupakan adik tingkat ketika berada di Universitas yang sama di Indonesia. Sebelum melanjutkan magister di luar negri.
Vanya sangat ingat kejadian sewaktu ia menjadi mahasiswa baru yang akan di Ospek.
Saat itu Vanya pingsan saat melaksanakan kegiatan ospek, namun di tolong oleh Erika dengan CPR. Dan memarahi para anggota BEM yang terlihat menyiksa mahasiswa baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Genel KurguTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
