---
Malam itu suasana outing kantor benar-benar terasa berbeda dari hari-hari kerja biasanya. Setelah seharian penuh bermain games seru yang menguras energi sekaligus mempererat kekompakan tim, para karyawan berkumpul di area terbuka. Lampu-lampu hias berkelap-kelip menggantung di atas, menambah suasana hangat di bawah langit malam. Aroma daging yang dipanggang di atas bara api membuat semua orang bersemangat menikmati pesta barbeque.
Beberapa orang mulai menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas, saling bersulang, tertawa, dan berbincang akrab. Suasana benar-benar cair. Ayyara duduk santai di kursi kayu, menikmati jagung bakar dan segelas jus jeruk. Ia memang tidak begitu menyukai minuman beralkohol, apalagi rasa pahitnya yang menurutnya mengganggu. Namun, teman-teman lain terlihat begitu larut dalam kebersamaan, hingga tawa riuh tak henti-hentinya terdengar.
Di sisi lain, Erika sebenarnya tidak ingin ikut meminum minuman keras itu. Ia awalnya menolak dengan halus, namun yang lain terus menggoda dan mendesaknya agar mencoba. "Ayolah, sekali aja, biar seru!" Pak Dewa menggoda. Akhirnya, dengan sedikit enggan, Erika mengangkat gelas itu dan meneguknya. Rasa hangat sekaligus getir langsung menyerang tenggorokannya. Dalam beberapa waktu, wajahnya mulai memerah, langkahnya goyah, dan tawanya berubah lebih keras dari biasanya. Erika mabuk.
Melihat kondisi Erika yang tidak lagi bisa mengendalikan dirinya, beberapa orang mencoba menolong. Pak Dewa berdiri dan berinisiatif untuk membawa Erika kembali ke kamarnya agar bisa beristirahat. Ia melangkah mendekat dengan maksud baik. Namun, sebelum tangannya menyentuh lengan Erika, Ayyara berdiri cepat. Dengan nada tegas namun tetap sopan, ia berkata,
“Biar saya saja, Pak. Saya sekamar dengan bu Er, jadi lebih baik saya yang membawanya.”
Pak Dewa sempat terdiam, kemudian mengangguk pelan. Ia bisa melihat kesungguhan di wajah Ayyara. Tidak ingin memperpanjang, ia pun mundur dan membiarkan Ayyara mengambil alih. Dengan hati-hati, Ayyara meraih lengan Erika yang kini sudah sulit berjalan lurus. Ia menopang tubuh sahabatnya itu, membimbingnya pelan melewati kerumunan.
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Erika sesekali menggumam tidak jelas, bahkan tertawa kecil tanpa alasan. Ayyara hanya menghela napas, berusaha tetap sabar. “udah tau gak kuat minum. Malah maksaaiin. Akhirnya begini kan,” ucapnya lirih sambil tersenyum tipis. Meski lelah, ia tetap menjaga Erika agar tidak jatuh.
Setibanya di kamar, Ayyara membaringkan Erika di tempat tidur dengan hati-hati. Ia menutupinya dengan selimut tipis, lalu menaruh segelas air putih di meja kecil di samping ranjang. Erika yang masih dalam kondisi setengah sadar hanya bergumam pelan sebelum akhirnya tertidur.
Ayyara duduk di kursi dekat jendela, memandang keluar ke arah pesta yang masih berlangsung di kejauhan. Musik dan tawa masih terdengar samar-samar, namun di dalam kamar itu suasananya jauh lebih tenang. Ia menarik napas panjang, merasa lega karena berhasil menjaga Erika dari kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan.
Ayyara masih duduk di kursi dekat jendela, sesekali menoleh ke arah Erika yang tertidur setengah sadar. Lampu kamar hanya menyala redup, membuat suasana terasa tenang dan hangat. Ia sempat mengira Erika sudah benar-benar terlelap, namun tiba-tiba terdengar suara lirih.
“Ayyaraaa…” panggil Erika dengan suara serak, nyaris seperti bisikan.
Ayyara segera bangkit dan mendekat. “Iya kak? , aku di sini. Minum dulu airnya, biar besok nggak terlalu pusing,” ucapnya lembut sambil mencoba membantu Erika duduk. Erika menatapnya dengan mata setengah tertutup, senyumnya samar namun tulus.
Tiba-tiba, tanpa diduga, Erika meraih tubuh Ayyara. Ia menunduk, lalu bibirnya mengecup lembut pundak istrinya itu. Sentuhan itu begitu singkat namun terasa mengejutkan. Ayyara terdiam, matanya membesar tak percaya.
“Terima kasih… udah jagain aku…aku suka di peluk kamu” bisik Erika, suaranya pelan dan nyaris tenggelam oleh desah napasnya. Setelah itu, Erika memeluk Ayyara erat, seakan tidak ingin dilepaskan. Tubuhnya terasa hangat, aroma alkohol masih samar-samar tercium, namun ada ketulusan di balik pelukan itu.
Ayyara sempat kaku, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Namun, melihat kondisi Erika yang benar-benar rapuh malam itu, ia hanya membalas dengan tepukan lembut di punggungnya. “Istirahatlah, kak. Aku nggak akan kemana-mana,” ucapnya dengan suara pelan.
Erika akhirnya terlelap kembali dalam pelukan itu, sementara Ayyara hanya bisa duduk diam, menatap langit-langit kamar yang temaram. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya — campuran bingung, haru, sekaligus hangat. Malam outing kantor itu ternyata menyimpan kenangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
.
.
Hii. Aku lagi banyak waktu luang nih, jadi bakal sering up buat gadis kecil miliku 🫣
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficción GeneralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
