Tegang

1.2K 117 5
                                        

Restoran itu bergaya semi-outdoor, lampu gantung kaca bohlam, berisik secukupnya, musik latar akustik, dan pengunjung yang suka pura-pura nggak nguping obrolan orang.

Erika sudah duduk duluan bersama Kayla, Revan, dan Annya. Mereka ambil meja panjang buat enam orang.

Kayla sibuk pesen camilan, Revan udah buka laptop padahal nggak ada kerjaan yang relevan, dan Annya duduk manis sambil cerita masa lalu dengan gaya pencerita film festival.

“GILA ya, Eca tuh dulu mana pernah mau ikut nongkrong lama-lama,” Annya terkekeh sambil nyeruput lemon tea. “Sekarang tiba-tiba bisa diajak hangout? Dunia udah mau kiamat nih.”

Kayla nyeletuk, “Bisa jadi. Apalagi kalau Erika tiba-tiba nikah diam-diam tanpa ngasih kabar—”

Erika menatap Kayla dengan sorot mata yang tajam. Kayla langsung minum air tanpa sedotan.

Revan ikut nimbrung, “Mana Ayyara? Katanya nyusul.”

Erika jawab, “Sebentar lagi datang.”

Annya mengerling jail, “Uh gemes sama bocilnya Eca ih?”

Erika cuma melirik tipis.

---

Pintu restoran terbuka hampir bersamaan. Pertama terlihat Ayyara — rambut dicepol asal, wajah cakep tapi kelihatan buru-buru, napas sedikit ngos-ngosan. Tapi sebelum sempat melangkah lebih jauh, seseorang muncul tepat di belakangnya.

Tama.

Sekilas seperti adegan sinetron: dua orang masuk barengan, buka pintu bersamaan, lalu refleks berhenti karena sama-sama kenal wajah satu meja.

Kayla hampir keselek kentang goreng.

Annya otomatis menegakkan duduk, “Gue nggak pesan paket nostalgia loh.”

Revan nyengir penuh dosa, “Kok dunia suka bikin prank begini ya?”

Erika menatap ke arah pintu. Tatapannya datar, tapi rahang bawahnya gerak halus.

Ayyara sempat noleh ke Tama dengan tatapan *“jangan bilang kita terlihat dekat”*, lalu tanpa salam langsung jalan cepat ke arah meja dan duduk PLEK di samping Erika—secepat ninja rebutan kursi bus transjakarta.

Tama berdiri dua detik sambil mikir: mundur malu, lanjut salah timing. Akhirnya dia jalan juga dan kursi yang kosong cuma… tepat di hadapan Erika.

Dia duduk pelan. “Hai… lagi?”

Kayla langsung nyengir simpati ngawur, “Mungkin takdir ya, Bang.”

Erika balas tenang, “Tama, ini Kayla, Revan, dan Annya.”

Annya senyum lebar tapi matanya jelas menilai, “kita pernah ketemu. Aku sering dengar namamu. Eh—versi yang jadul tentu saja.”

Tama senyum kaku.

---

Ayyara merapatkan duduknya ke Erika seperti kucing takut dicuri orang. Tangannya otomatis pengen nyolek paha Erika, tapi detik terakhir dia sadar: banyak saksi. Dia menarik tangan dan pura-pura ambil tisu.

Revan mengangkat alis ke Kayla, kode keras: *JANGAN BOCORIN STATUS.*

Kayla membalas anggukkan

Annya aslinya sudah tau hubungan mereka, tapi ikut-ikutan bungkam. Dia menatap Erika, lalu Ayyara, lalu Tama, lalu dia senyum-senyum sendiri karena paham ini akan seru.

Pelayan datang, tanya pesanan.
Ayyara masih gelisah, jadi Erika yang jawab, “ Satu Americano panas, satu Strawberry Smoothies"

Satu meja langsung tahu pesenan itu buat Ayyara dan Erika, tapi mereka pura-pura nggak sadar.

Tama memperhatikan interaksi kecil itu.

Annya sengaja bantu normalisasi, “Ra, kamu masih kerja bareng Erika?”
“Iya. Se… divisi,” jawab Ayyara cepat.

Erika lirih, “Satu tim.”

Kayla nyeletuk tanpa mikir, “Satu kasur juga ka—”

Revan langsung colek lengan Kayla di bawah meja sampai nyaris dislokasi. Kayla mendadak terbatuk 18 kali.

Tama melihat semua ini dengan mode bingung. Tapi belum sempat tanya, Annya potong pembicaraan, “Erika, inget gak zaman dulu kamu pernah—”

Erika mendelik. Annya langsung ubah topik, “ZAMAN DULU AKU KELIATAN GEMUK YA.”


Waktu obrolan ngalir, Tama sesekali ajak bicara Erika. Kayla dan Revan terus lempar topik biar dia nggak tanya soal hubungan pribadi.

Ayyara? Dia pelan-pelan ngunyah fries sambil nempel dikit ke Erika. Setiap kali Tama nanya sesuatu ke Erika, dia nyisip komentar random:

Tama: “Sekarang kamu tinggal di mana, Rik?”
Erika: “Apartemen dekat—”
Ayyara langsung motong, “Deket mall, deket Indomaret, deket tempat laundry, deket tempat beli emping.”

Tama cuma “…hmm.”

Annya hampir ngakak.

Erika menatap Ayyara sekilas, ekspresinya: *tolong kendalikan dirimu, tapi lucu juga sih.*

Revan bisik ke Kayla, “Ini kalau disuting bisa jadi sitcom.”

Kayla jawab lirih, “Judulnya ‘Mantan, Mertua Bohongan, dan Istri Tegang’.”

Di tengah obrolan, Tama natap Ayyara sekilas. “Kamu Ayyara, kan? Kita sempat ketemu kemarin di minimarket.”

Ayyara tersenyum manis tapi penuh aura “iya, itu hari yang sangat… spesial.”

Tama ngangguk simpati, “Anak itu… lucu sekali.”

Ayyara senyum kaku, “Anak siapa ya waktu itu?”

Tama angkat bahu, “Kupikir anaknya Erika.”

Erika baru mau klarifikasi, tapi Kayla keburu nyeletuk, “Iya kan mirip wajahnya! Ha-ha-ha…”

Revan nyeplos, “Tapi mirip Ayyara juga sih, ha-ha-ha…”

Mereka berdua sama-sama sadar kesalahan setelah mulut keburu ngacir.

Annya cepat interupsi, “MINUM DULU AHH, AUS YAAA GITU!”

Tama tampak makin penasaran sekarang.

Sementara Erika tetap diam… dan Ayyara dalam hati teriak: *HIDUP INI JANGAN-JANGAN SITKOM TURUNAN DOSA.*


gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang