Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Meledak

1.2K 115 7
                                        

Sejak perdebatan dengan Pak Dewa, suasana kantor jadi seperti ruangan ber-AC tapi tidak ada yang merasa sejuk. Semua karyawan bekerja lebih hati-hati… bahkan suara keyboard pun terasa diketik dengan sopan.

Erika duduk di kursinya, membuka folder presentasi, lalu mulai menyusun ulang slide demi slide tanpa bicara. Wajahnya datar, tapi dari caranya menggulir mouse terlalu cepat, semua tahu ia sedang menahan ledakan.

Ayyara memperhatikannya diam-diam. Ingin mendekat, tapi terlalu banyak mata. Dan terlalu banyak batas tak terlihat di antara mereka hari ini.

Hingga tiba-tiba, suara dari belakang memecah keheningan:

“Bu… saya udah update file Hyundai-nya. Ada di folder revisi final, tapi—”

Junior designer bernama Oliviamendekat, membawa laptop. Ia baru 3 bulan magang, sering panik kalau dipanggil, dan jelas tidak tahu seberapa buruk timing-nya.

Erika tidak menoleh.

“Tadi saya minta file-nya dikirim ke folder presentasi utama, bukan ‘revisi final’.”

Revan menelan ludah.

“I-iya, saya baru aja mau—”

“Kalau ‘baru mau’ selalu datang setelah diminta, itu bukan inisiatif. Itu penyesalan yang telat.”

Tini langsung menatap Ayyara dengan ekspresi: *oh tidak ini mau meledak*.

Revan masih berdiri, tangan gemetar sedikit.

"Saya—saya belum sempat—”

Erika menoleh.

Tatapannya dingin sekali. Tidak keras. Justru terlalu tenang.

"Kamu tahu kenapa kamu saya minta pegang layout Hyundai?”

Revan menggeleng pelan.

“Karena saya percaya kamu bisa cepat tanpa saya perlu mengulang instruksi tiga kali. Kalau ternyata saya harus mikirin hal se-detail ini… buat apa saya punya tim?”

Ruangan terasa membeku.

Semua menunduk. Bahkan printer pun seperti berhenti berbunyi.

Ayyara spontan berdiri — refleks.

“Izin bu, biar saya handle. Saya yang akan gabungkan file-nya sekarang,” katanya datar, mengambil laptop Olive.

Erika menatap Ayyara, agak terkejut. karena menyela dan bica  dan juga1 Ayyara bicara tanpa menoleh padanya sama sekali.

Olivie mundur perlahan, wajahnya pucat.

Tini buru-buru menariknya ke pantry sebelum menangis di depan umum.

Erika akhirnya kembali menatap layar — tapi jari-jarinya berhenti bergerak.

Ia tahu. Ia kebablasan.

Dan ia tahu — Ayyara melihat semuanya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan berat.

---

Notifikasi Erika berbunyi pelan.
**Pop-up Teams dari: Pak Dewa.

"Ke ruang saya. Sekarang."

Hanya tiga kata. Tanpa emotikon.

Itu bukan gaya Pak Dewa yang biasa.
Biasanya masih ada bercandaan kecil atau titik-titik dramatis.
Tapi kali ini… *resmi*. *Formal*. *CEO mode*.

Ruangan terasa semakin dingin saat Erika berdiri.

Seluruh karyawan menunduk pura-pura tidak memperhatikan.
Tapi semua tahu… *ini sidang terbuka tanpa suara*.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang