Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Outing end

1.4K 133 7
                                        

Pagi itu kamar masih temaram, udara dingin AC bertabrakan dengan kehangatan tubuh di balik selimut. Ayyara menggeliat kecil, merasa ada sesuatu yang menempel erat di pinggangnya. Saat membuka mata, ia tersadar: lengan Erika melingkar kuat di tubuhnya, wajah istrinya menempel hangat di bahunya.

Gerakannya membuat Erika ikut terbangun. Ia membuka mata perlahan, lalu menegakkan tubuhnya dengan kaget, seakan baru sadar posisi mereka. Pelukannya terlepas, namun bekas hangatnya masih tertinggal di kulit Ayyara.

“Aku…” suara Erika serak, matanya menatap ke bawah. “Aku tidak biasanya… begini.”

Ayyara duduk perlahan, wajahnya kikuk. “Kak Eca mabuk semalam. Aku pikir—”

“Aku ingat,” potong Erika cepat, tatapannya tajam tapi bergetar. Ia menarik napas panjang. “Dan aku sadar, Ayyara. Aku memelukmu karena aku menginginkannya.”

Ayyara membeku, dadanya terasa penuh. Ia ingin menjawab, tapi sebelum sempat, Erika meraih dagunya. Tatapan itu dalam, mengunci, lalu bibirnya menyentuh dengan lembut.

Ciuman pertama terasa ragu, lalu berubah mantap. Erika menundukkan tubuhnya, menekan Ayyara ke ranjang, gerakannya tegas, mendominasi. Tangannya menyusuri rambut, kemudian pipi, lalu merengkuh pinggang. Ayyara terkejut, tubuhnya menegang sejenak, tapi segera luluh, pasrah dalam kendali sang istri.

“Aku gak sula kalau kamu terlalu dekat dengan Adam. ” bisik Erika di sela napas, bibirnya masih menempel di leher Ayyara.

“A-aku gak deket sama Adam” jawab Ayyara gugup, suaranya pecah.

“Lalu?” Erika menatapnya tajam, jemarinya mengunci tangan Ayyara di sisi kepala. “Kamu semalam dekat banget sama Adam, mana ketawa terus"

Ayyara terdiam, pipinya panas, matanya bergetar. Erika menunduk kembali, mencium bibirnya dalam. Kali ini lebih lama, lebih menuntut, hingga napas Ayyara tersengal.

Detik demi detik berlalu, keintiman itu makin dalam. Gerakan mereka saling bertaut, selimut berantakan, napas berpacu. Erika memimpin, Ayyara hanya mampu mengikuti, sesekali menggenggam lengan istrinya erat, seolah takut terlepas.

"Kaak.. Aaaahhh..kak Ecaaa.."

Di antara desah dan tatapan, Erika tidak ada kata-kata berlebihan. Hanya gerakan yang berkata: keinginan, kerinduan, dan rasa memiliki yang terlalu lama disembunyikan.
.
.

Hingga akhirnya—

Tring! Tring! Tring!
Suara telepon berdering kencang di meja samping.

Keduanya berhenti seketika, masih dalam posisi saling berdekatan, napas terengah. Ayyara buru-buru meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Erika tetap di atasnya, menatap dengan senyum kecil penuh kecangunggan.

“H… halo?” suara Ayyara bergetar.

“AYYARA! Kamu belum bangun? Ayoo Cepat turun! Semua sudah siap untuk kegiatan outdoor. Kalau kalian kelamaan, nanti di tinggal!” suara Tini nyaring di speaker.

Ayyara menutup mata, menahan malu. “I-ya… sebentar lagi.”

Sebelum telepon ditutup, Tini menambahkan dengan nada penuh candaan:
“Oh iya, kalau nanti jalannya agak limbung, tenang aja. Aku nggak bakal bilang kamu kelelahan di kamar.” bisik Tini.

Ayyara langsung membeku, wajahnya merah padam. Erika terkekeh bingung, lalu menunduk. Ia ingin melanjutkan.

“kaaak. Kita udah di tungguin dibawaah. Masih ada satu kegiatan lagi, setelah lunch baru pulang.” menahan bahu Erika.

"Aku gak mau ikut. Aku mau disini ajaa.." menahan lengan Ayyara.

"Yaudah. Oke" Ayyara ingin bergegas. "Aku mau turun kebawah"
"Kamu mau ikut mereka?" Terdorong oleh Ayyara
Ayyara menggangguk.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang