Drama

1.2K 110 2
                                        


“**PAPAA! PAPAAA!**”
Calista makin semangat, “PAPAA! PAPAA! PAPAA!!”
Sekarang dia tepuk-tepuk paha Tama kayak ngajak main kuda-kudaan.

Tama senyum terpaksa, “Eh… saya Tama. Teman lama Erika.”

“Teman lama?” sahut Ayyara dengan nada selembut silet.

"Tam, ku duluan yah. Lagi buru-buru" membelokkan stroller Calista.

"Ok, see you yah. Byee! Tama melambaikan tangan kearah Erika.
.
.
"Siapa dia kak?" Ayyara bicara dengan santai setelah beberapa langkah.

Erika akhirnya bicara, “Dia mantan tunanganku dulu”
Satu kalimat yang sukses membuat dua orang yang lewat menoleh dengan *perfect timing*.

Ayyara jadi kayak patung lilin tapi matanya hidup. “Ooo… mantan. Yang hampir jadi keluarga.”
Erika menoleh dan cuma bisa batuk kecil.

...

Mobil melaju santai menuju apartemen. Lampu jalan berjatuhan di kaca depan seperti efek drama korea level diskon. Erika menyetir tenang, fokus, wajahnya datar tapi berkelas. Di belakang, Calista sudah tewas gaya katak tidur, buckled di car seat, kepala miring ke satu sisi, mulut mangap, tangan masih meluk bungkus permen kayak hadiah Nobel.

Sementara itu…
Ayyara duduk di kursi samping Erika dengan wajah seperti habis ngitung utang negara. Dia diem, tapi kepalanya rame.

*“Siapa sih itu Tama? Mantan tunangan, hah? Dari mana muncul? Kok ekspresi kak Eca biasa aja? Kok Calista nunjuk dia? Kok semesta mendukung kekacauan?”*

Dia melirik ke Erika.
Si perempuan itu nyetir dengan tenang, santai, kayak gak terjadi apa-apa hari ini.
Ayyara makin greget. “Ka…” panggilnya pelan.

“Hm?” jawab Erika sambil tetap lihat jalan.

“Dia… yang tadi…”

“Tama.”

“Nah itu. Kok kamu biasa aja?”

Erika cuma nyaut pendek, “Karena memang tidak perlu dibesar-besarkan.”

*TIDAK PERLU???* Ayyara dalam hati nyamber sandal.

“Mantan tunangan. Mantan. Mantan yang mana? Kamu tuh dulu mantanmu banyak? Atau spesialis ngumpulin mantan—”

“Dia yang sempat dijodohin sama daddy” potong Erika singkat. “Dan sudah selesai. Titik.”

Ayyara mendecak kecil, tapi diem. Namun otaknya lanjut ngejulidin bayangan Tama: *kemejanya rapi, suaranya kalem, mirip-mirip tipe bapak-bapak drama korea… tapi versi sedang kebingungan dan dibilang papa oleh anak tidak dikenal.*

Sebelum Ayyara sempat lempar pertanyaan babak dua, HP Erika yang terletak di cup holder bunyi.

TRRTT TTTRRRTTT…

Nama yang muncul di layar: **Annya**.

Ayyara otomatis menjulurkan leher sedikit. “kak Annya telpon kak.” gumamnya pelan tapi cukup jelas.

Erika menjawab telepon, suara tetap cool, “Halo.”

Di speaker kedengaran suara cewek ceria, “RIK!! GILA AKU BARU NYAMPE JAKARTA NIH! Weekend kosong kan? Besok nongkrong yuk! Aku kangen setengah mati!”

Erika menjawab singkat, “Baru sampai? nginep di mana?”

“Hahaha! Rumah sepupu. Tapi besok gue mau kita meetup dong Ca, Ayolah. Anak-anak  juga udah gue kabarin nih"

“Boleh,” jawab Erika tanpa ekspresi. “Nanti kabari jamnya.”

Begitu telepon ditutup, suasana mobil hening.

Ayyara menatap jalan, lalu menatap Erika, lalu menatap kaca depan, lalu balik menatap Erika.
“kak Eca mau kemana?”
“Annya ngajakin meetup”

“kapan?”
“entah, hari ini atau besok.”
Ayyara hanya mengangguk

Mereka parkir di basement apart. Erika turun lebih dulu dan ambil Calista yang masih pingsan manis dengan permen tergenggam kayak kontrak pernikahan.

Calista setengah sadar, nyebut pelan sambil merem, “Paa…”
Ayyara refleks: “ppapa mammma!”

Tapi ya… anaknya tidur lagi sebelum klarifikasi.

Erika melirik ke tumpukan plastik belanja, lalu ke Ayyara. “Bantu bawain?”

“suruh aja si Tama-tama ituu” gumamnya lirih dan pelan sekali.

Erika mengabaikan. Mereka naik lift, sampai apartemen, ganti baju masing-masing. Calista ditaruh di kasur, masih tidur posisi miring, pegang bantal kayak mantan.

Tapi otak Ayyara belum berhenti monolog.
*Hari ini Tama muncul. Ini parade masa lalu atau audisi perebutan singgasana?*

Erika selesai cuci muka, keluar kamar, langsung duduk di sofa sambil nyalain TV tanpa suara. Dia santai sekali. Ketidakterguncangan berjalan kaki.

Ayyara duduk di sebelah, tapi menyamping, tangan melipat bantal guling.

“kak Annya sampai kapan?”

“tadi pagi kayanya.”

Erika lalu bilang kalem, “Kalau kamu mau ikut, ikut aja.”

Ayyara bengong.

“Serius?”

“Kenapa tidak?”

“Emangnya siapa aja yang ikut?”

Erika mengangguk. “Revan, kayla annya.”

"Tapi aku kekampus dulu, mau ngasih tugas"
Erika hanya mengangguk saja sebagai jawaban

Calista dipindah ke kamar sendiri setelah bersih-bersih. Bocah itu tidur lagi tanpa beban, padahal siang tadi hampir menjodohkan diri dengan mantan orang.

Di ruang tengah, Ayyara rebahan sambil meluk guling, Erika duduk sambil memainkan ipad dengan santai.

“aku mau pesen kopi, kamu mau nitip gak?” tanya Erika.

“Nggak,” jawab Ayyara, tapi satu menit kemudian dia nyeletuk, “ tapi kalau selain kopi mau”

Erika memesan tanpa komentar. Ia tau Ayyara suka strawberry smoothies.

Ayyara berbisik ke dirinya sendiri, *Liat tuh. Tenang banget. Mantannya nongol, Dan aku yang deg-degan sendiri kek tanaman tanpa pupuk.*

Pesanan sudah datang, Erika duduk dan nanya santai tanpa lihat wajah Ayyara, “Kamu masih kepikiran Tama?”

BUUUGH. Tepat sasaran.

“Enggak lah,” bantah Ayyara dengan suara yang terdengar sangat “iya”.

Erika melirik sekilas, “Reaksimu bilang sebaliknya.”

“Aku cuma… kaget tiba-tiba muncul orang yang pernah punya kemungkinan jadi suami kamu.”

Erika tenang, “Tapi kenyataannya tidak.”

Ayyara menatapnya lama-lama, lalu tiba-tiba senyum miring, “Ya syukurlah dia gak jadi papa aseli. Kalau nggak, aku rebut keluarga ini.”

Erika menatap dengan satu sudut bibir naik tipis. “Sudah kamu rebut sejak awal.”

Dan kalimat sependek itu cukup bikin Ayyara terdiam… lalu hatinya meleleh kayak keju di roti panggang.

##

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang