Setelah itu

1.4K 109 18
                                        

Setelah Itu

Matahari menembus tirai kamar perlahan, mengusir sisa malam yang masih bertahan di dalam ruangan.
Erika terbangun lebih dulu — untuk pertama kalinya bukan karena alarm, tapi karena sesuatu yang lain.

Seseorang di sampingnya.
Ayyara masih tertidur, wajahnya menghadap ke arah jendela, rambutnya berantakan tapi entah kenapa justru terlihat menenangkan.

Erika diam beberapa detik, hanya menatap.
Setiap tarikan napas Ayyara terasa seperti ritme kecil yang membuat pagi ini lebih hidup.

Erika tersenyum tipis. “Aneh banget, ya,” gumamnya pelan. “Baru semalam rasanya kayak mimpi, tapi sekarang nyata banget.”

Ia bangkit pelan, menyelimuti Ayyara sebelum keluar kamar.
Di dapur, aroma kopi dan roti panggang mulai mengisi udara.

Entah kenapa, pagi itu Erika ingin segalanya terasa “normal” — seolah semuanya baik-baik saja, seolah tidak ada yang berubah.

Padahal, dalam dirinya, ada sesuatu yang jelas berubah.
Tak lama, Ayyara muncul dengan kaus longgar dan wajah setengah ngantuk.
“Pagi…”
“Pagi,” jawab Erika lembut sambil menyodorkan cangkir. “Kopi susu, pakai gula.”
Ayyara tertawa kecil. “Masih hafal aja.”
“Mana mungkin lupa,” sahut Erika cepat, lalu langsung menyesali nadanya yang terlalu jujur.

Ayyara hanya mengangkat alis, tapi tidak membalas.

Ia duduk di kursi meja makan, membuka laptop kecil yang sudah ia siapkan sejak semalam.
“Aku ada tugas kelompok. Sore ini harus ke kampus, ada pembahasan lanjutan,” katanya sambil menyeruput kopi.

Erika yang sedang mengoles selai ke roti langsung menoleh cepat.
“Sore ini?”
“Iya. Kenapa?”
“Gak bisa online aja?”
Ayyara menatapnya, separuh bingung, separuh geli. “kak, ini diskusi besar. Harus tatap muka.”
“Kan bisa video call.”
“Enggak semua orang bisa ikut online.”
Erika mendesah dramatis, bersandar di meja.

“Aku baru aja dapet pagi yang tenang, terus kamu mau pergi?”
“Kemarin kamu yang bilang aku harus tetap fokus kuliah, inget gak?”

“Ya tapi—” Erika terhenti, matanya menatap lekat Ayyara. “Sekarang beda.”
Ayyara tertawa kecil. “Beda apanya?”
“Ya… aku gak mau kamu jauh dulu.”
“Erika…” nada Ayyara terdengar lembut, tapi matanya menatap dengan sabar.

“Cuma beberapa jam kok. Aku janji pulang gak malam.”
Erika mendengus seperti anak kecil.
“Kalau gitu aku anterin.”
“Gak usah, aku bisa naik ojek.”
“Enggak. Aku anterin, atau kamu gak usah ke kampus sekalian.”
Ayyara menatapnya, menahan tawa.

“Kamu tuh kenapa sih, tiba-tiba protektif banget?”
“Bukan protektif,” jawab Erika cepat. “Aku cuma… gak pengin jauh dari kamu hari ini.”
“Gak bisa, kaaak” balas Ayyara sambil berdiri, mulai membereskan laptop dan kertas tugas.

Tapi Erika malah berdiri di depan pintu kamar, menghalangi jalannya.

“Kalau kamu keluar sekarang, aku ganti semua password WiFi di apartemen ini.”

“Yaampun kak Ecaa”

“Dan aku gak janji bakal kasih makan Calista malam ini.”

Ayyara menatapnya dengan ekspresi setengah kesal, setengah geli.

“Gila juga ancamannya.”
“Aku serius,” ucap Erika dengan wajah datar — tapi bibirnya menahan senyum.

Ayyara akhirnya mendekat, menepuk bahu Erika perlahan.

“Kalau kamu terus kayak gini, aku gak bakal bisa fokus kuliah.”
“Bagus dong,” gumam Erika pelan tapi cukup jelas.

“kak Ecaa…”
“Hmm?”
“Jangan manja gini terus, nanti aku beneran gak bisa ninggalin kamu.”
Kata-kata itu membuat Erika refleks diam.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang