Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Perdebatan

840 98 2
                                        

Ayyara berdiri di balkon apartemen sambil menggigit sedotan minuman kaleng yang sudah habis. Angin malam dingin, tapi kepalanya lebih penuh dari itu.
Ia menekan nama “Kak Nana”.
“Kak,” ucap Ayyara begitu telepon diangkat. “Aku bingung.”
“Tumben. Biasanya kamu sok kuat,” jawab Nana santai.
Ayyara mendengus kecil.

“Aku harus milih liburan.”
“Bali sama temen kampus… atau Jerman.”
“Terus?”
“Aku gak mau ribut. Tapi aku juga gak mau nyesel.”

Nana diam sebentar.
“Kamu pengin yang mana?”
Ayyara terdiam terlalu lama.
“Itu dia masalahnya,” jawabnya akhirnya.
“Aku pengin dua-duanya.”
Nana tertawa kecil. “Ya udah keduanya.”

“Aku abis cuti kemarin masa cuti lagi kak,” lanjut Ayyara cepat, nadanya turun, “kalau aku ke Bali, Erika mikir aku terlalu childish. Tapi kalau aku gak ke Jerman, Daddt sama mommy kecewa.”

Nana menghela napas.
“Erika gak pernah maksa kamu, kan?”
“Enggak. Dan itu malah bikin aku makin gak enak.”
“Karena kamu ngerasa utang,” potong Nana tepat sasaran.
Ayyara terdiam.
“Iya.”
.

Sementara itu, sore yang sama, Erika duduk di café rumah sakit, masih pakai blazer kerja.
Nana baru saja masuk, langsung duduk tanpa basa-basi.
“Dia nelpon aku,” kata Nana.
Erika mengangguk. “Aku tau.”
“Terus?”

Erika menyandarkan punggung, melepas napas panjang.
“Aku gak mau jadi orang yang ngerampas masa mudanya.”
Nana mengernyit. “Kamu ngomong kayak dia mau kabur dari kamu.”
“Kadang rasanya iya,” jawab Erika jujur.
“Bukan karena dia mau. Tapi karena aku tau… dunia dia masih luas.”

Nana menatap Erika lama.
“Kamu takut ditinggal?”
Erika tersenyum tipis. “Aku takut jadi alasan dia berhenti jalan.”
“Kamu tau gak?” Nana bersandar ke kursi.
“Dia takut kamu mikir dia gak dewasa kalau milih Bali.”
Erika terdiam.
“Lucu ya,” lanjut Nana.
“Kalian berdua mikirin perasaan satu sama lain, tapi gak ada yang berani ngomong jujur.”

Erika mengaduk kopinya pelan.
“Aku ke Jerman itu wajib. Keluarga. Mommy. Tapi Bali…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku gak mau melarang.”
“Dan kamu juga gak mau ditinggal sendirian,” kata Nana.
Erika menatap Nana.
“Jangan gitu dong.”
Nana tersenyum kecil. “Fakta aja.”
.
.

Malamnya, di apartemen.
Ayyara duduk di lantai, laptop terbuka, tapi matanya gak fokus.
Erika keluar dari kamar, berhenti di depan Ayyara.
“Kamu abis nelpon Kak Nana?” tanya Erika datar.
Ayyara mendongak, kaget sedikit. “Iya kok tau?.”
“Aku juga ketemu dia tadi.”
Ayyara tertawa kecil. “Kompak amat.”

Hening sebentar.

“Aku gak mau kamu milih aku karena ngerasa harus,” kata Erika akhirnya.
Ayyara langsung menatapnya.
“Aku juga gak mau kamu mikir aku gak mikirin kamu.”
Erika duduk di lantai, sejajar dengan Ayyara.
“Terus?”
Ayyara menghela napas kesal.
“Terus kenapa liburan aja ribet sih?”
Erika tersenyum tipis. “Karena kita pasangan yang menikah.”
Ayyara mendecak. “Nah itu dia.”

Erika melirik tajam. “Ay.”
“Maksudku—” Ayyara cepat membetulkan, “kadang rasanya aku masih anak kampus biasa. Terus tiba-tiba aku istri orang yang keluarganya di Jerman.”
Erika terdiam.

“Aku mau Bali,” kata Ayyara jujur.
“Tapi aku juga gak enak sama Daddy, Mommy kamu”
Erika menatapnya lama, lalu berkata pelan tapi tegas:
“Kalau kamu ke Bali, pastiin itu karena kamu pengin. Bukan karena takut sama aku.”
Ayyara mengangguk.

“Dan kamu ke Jerman, jangan kepikiran aku terus.”
Erika tersenyum kecil. “Aku bohong kalau bilang bisa.”
Ayyara nyengir.
Belum ada keputusan malam itu.
.
.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang