Ternyata ponsel Ayyara mati. Dan ia baru sadar kalau di matikam oleh Erika semalam.
"Aduhhh. Mampus part 2 deh gue" berlari menuju lift.
Saat di nyalakan ponselnya terus-terusan memunculkan notif pesan masuk dan panggilam tak terjawab. Semua dari Siska.
Dimana pesan terakhir dari siska bahwa ia meminta Ayyara tiba 30menit sebelum jam kerha dimulai.
Ayyara bersandar di lift. Ingin menangis tapi tak bisa.
.
.
Siska ternyata sudah berada di meja Ayyara.
"Duuuh. Alasan apaa yaaa" jalan lesu Ayyara.
"Pagi kak siska" sapa Ayyara dengan pelan.
"Waaahh. Mentang-mentang udah jadi karyawan tetap, lo seenaknya banget ya! Bisa-bisanya lo mangkir dari kerjaan lo" siska bersidekap menatap Ayyara dengan penuh rasa tidak suka.
"maaaf kak. Aku baru liat chat kak siska" Ayyara rasanya ingin sekali menangis. Pasalnya semua mata tertuju pada Ayyara. Malu. Serasa ia sedang di telanjangi
"Gue chat lo gak lama setelah gue telpon yaa. Dan, bisa-bisanya lo bilang baru baca chat gue ta-di?! Presiden lo? Sesibuk itu dirumah. Hah?!" Kali ini suaranya terdengar keras.
Semua terkejut bagaimana Siska memarahi Ayyara didepan divisi tim planner.
"Ada apa ini?" Suara Agnes muncul di keheningan.
"Vanya, bu Erika sudah datang?" Agnes mengalihkan wajah ke Vanya.
"Siska dan Ayyara. Nanti keruangan saya, setelah saya selesai dari ruangan bu Erika yah. Semuanya silakan melanjutkan pekerjaannya." Tegas Agnes
"Bu Erika sudah di dalam bu, tapu sedamg ke toilet sepertinya. Silakan tunggu di dalam ruangan yah bu."
Agnes hanya mengangguk saja.
Tak lama Erika muncul dengan hawa aneh.
'Siska? Ngapain dia kesini? Diskusi sama Ayyara?' Gumam Erika
"Bu'Er. Ada bu Agnes di dalam ruangan. Katanya sudah janjian sama ibu?" Erika hanya mengangguk saja.
Mereka membahas project untuk outing dan meminta tanda tangan Erika selaku head divisi dan mewakili pak Dewa yang sedang cuti.
"Pak Dewa bisa hadir ga yah bu?"
"Harusnya si dia udah pulang dari cuti yaah, dab harusnya lagi dia bisa datang"
Tawa bersama.
"Bu' Er, bisa ikut juga kaan?"
Erika terdiam. Jujur walaupun pekerjaannya berurusan dengan orang asing, tapi sebetulnya Erika sangat tidak suka bertemu banyak orang.
"Nanti akan saya pikirkan nes"
"Harusnya bisa yah bu, agar tim bu'Er dan tim siska bisa bersinergi, dan berteman bu"
"Loh? Memangnya ada apa dengan tim saya?" Bingung Erika.
"Sudah beberapa hari ini saya mendengarkan keluh-kesah karyawan bu. Sepertinya tim Siska dan bu'Er sering cek-cok masalah pekerjaan bu. Yaa semoga benar masalah pekerjaan sih yah"
"Siapa?" Erika mendelik
"Pagi ini saya memanggil Ayyara dan siska untuk ke ruang HRD bu"
"Kenapa lagi mereka? Bukannya sudah selesai?"
Agnes menarik nafas
"Tapi pagi mereka berulah lagi bu. Yaa mungkin karna Ayyara Gen- Z kali yah bu, jadi memang seperti itu cara kerjanya"
Erika menatap Agnes tanpa ekspresi
"Memangnya ada apa dengan Ayyara? Dan kenapa dengan Gen-Z?"
"Banyak yang bilang Gen-Z kerja sesuka hati bu. Banyak melalaikan tugasnya. Tapi saya nanti akan coba ajak Ayyara sharing"
Erika terdiam sejenak.
"Baik bu'Er. Kalau tidak ada pembahasan lagi, saya pamit yah. Dan saya harap ibu hadir di acara nanti. Permisi". Agnes berjalan keluar.
Erika masih memikirkan di mana korelasi antara Gen-Z dengan pekerjaan. Padahal hanya pe-nama-an dalam batas tahun kelahiran.
.
.
Berika akan di adakannya Outing membuat heboh semua karyawan. Pasalnya kegiatan jarang sekali terjadi.
Banyak yang suka dan banyak juga yang menunggu momen langka ini.
Berita Outing tidak menutup rumor perselisihan antara Siska sang senior dan Ayyara sang junior.
Mereka menjadi buah bibir setelah kejadian pagi tadi.
Rumor tentang Ayyara yang akan di SP tersebut sampai ke Erika.
Erika yang merupakan atasan langsung dari Ayyara tak tau sama sekali perihal Ayyara yang akan di SP.
"Ayyara. Kamu ikut saya" Erika memerintah dengan nada seolah menahan emosinya. Ayyara tau ekspresi Erika. Jangan membantah dan ikuti.
Ia bergegas mengekori Erika.
"Bawa surat SP kamu." Ayyara menuruti.
Ceklek
Pintu HRD terbuka
Erika melempar dengan pelan surat SP Ayyara di depan Agnes.
"Siapa yang suruh anda memberikan SP dan ACC siapa surat ini?" Erika dengan Nada mengintimidasi.
Agnes terdiam
"Panggil siska sekarang" Erika menurunkan nada bicaranya.
Tak lama Siska datang
"Ada apa nes?" Tanyanya. Tak tau kalau ada Erika di dalam.
"Gak usah basa-basi. Anda ada masalah apa sama Ayyara?" Erika bersedikap.
"Ngadu apa nih anak sama lo? Hebat banget bisa ngebuat seorang Erika turun tangan" melihat sinis Ayyara.
Ayyara reflek memegang lengan Erika.
Erika hanya menoleh sedetik, lalu memandang Siska kembali
"Ayyara tim saya. Semua pekerjaan dan projeck melalui saya. Dan saya berhak tau apa yang terjadi dalam hal pekerjaannya bukan?"
"Tim lo ini, kerjaannya gak bener! Banyak gak masuk, datang seenaknya dan melalaikan tugas yang harus gue lanjutkan" jawab Siska.
"Ada bukti kalau dia melalaikan tugasnya? Dan saya tanya. Harusnya yang mengecek kerjaan nya Ayyara siapa? Sayakan? Oh jelas kan saya ussernya Ayyara. Sedangkan anda hanya ketua regunya. Seharusnya anda nelaporkan-nya ke saya terlebih dahulu right?" Erika menjeda
"Sekarang siapa yang tidak menghargai saya sebagai head dan sekaligus project menejer di sini?" Erika bangun dari posisi duduknya
"Ini adalah project perrama dan TERBESAR untuk El's Companny. Tapi apa yang anda perbuat? DRAMA gak ada habisnya!"
"Dan untum bu'Agnes. Kalau mau memberika surat ini, atau ingin memberikan teguran ke anak Tim saya. Tolong ke saya terlebih dahulu. Mana SOP perusahaan? Tidak berjalan? Atau sudah bosan dengan SOP perusahaa?
Bisa saya ganti. Ganti orang yang lebih kompeten untuk menjalankan peraturan perusahaan" Erika merobek kertas SP.
"Satu lagi Siska. Be Profesional, hubungi pekerjaan pada saat jam kerja. Rekan kerja bukan teman apalagi pesuruh pribadi. Kalau mau cepat, kerjakan sendiri"
Duar!
Pintu terbanting sangat kencang.
"Kaakkk. Sakittt" renggek Ayyara.
Tangannya di tarik secara paksa oleh Erika untuk keluar dari ruangan tadi.
"Ini kantor! Bukan rumah. Jangan pangil saya kak-kak-kak!" Memasuki lift.
Ayyara mengangguk.
Tak lama ia duduk dan menangis di dalam lift.
Sangat kencang
"Stop. Seetoppp Ayyaraaa! Jangan nangiss"
Ayyara semakin kencang nangisnya
'Ish dasar bocil' gumam Erika
Erika memeganggi pelipisnya
"Mau permen? Eskrim? Please! Seet.. "
"Maaauuu eskrimm" Ayyara berhenti nangisnya mendengar kata eskrim.
"Beneran bocil" Erika mengerutu
"Kak Eca ngomong apa?" Ayyara Mengelap air matanya.
"Ini kantor Ayyara"
"t-tapikan di sini cuma kita berdua"
"Bocil"
.
.
Suka gak sama sikap yang di ambil sama Erika? 🙃
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Tiểu Thuyết ChungTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
