Kamar sebelah

1.3K 109 4
                                        

Ayyara sudah mulai masuk ke ambang tidur. Napasnya pelan, lengannya melingkari pinggang Erika setengah sadar. Erika membuka mata, mengamati tengkuk Ayyara dalam remang lampu tidur. Senyum tipis muncul… masih tersisa unek-unek, tapi ada satu hal yang Erika tahu: cara terbaik “menetralkan” amarah istrinya bukan dengan debat — tapi dengan sentuhan.

Perlahan, jemarinya menyusuri lengan Ayyara. Awalnya ringan, seperti tak sengaja. Ayyara mendengus pelan, masih setengah tidur.

Lalu sentuhan itu naik—dari siku menuju bahu, turun lagi ke sisi pinggang. Dalem. Konsisten. Ada tekanan manja yang bikin bulu kuduk meremang. Erika makin dekat, bibirnya menyentuh pelan belakang telinga Ayyara.

“…kamu masih marah?” bisiknya, suara rendah dan hangat.

Ayyara yang tadi nyaris tidur, langsung melek setengah. “Jangan mulai…” gumamnya, tapi suaranya kecil—dan jelas tidak tegas.

Erika tahu itu tanda bagus.

Ia mencium perlahan garis rahang Ayyara. Tangannya yang semula di lengan kini turun ke perut, mengusap melalui kaos tidur tipis yang Ayyara pakai. Ketuaan napas perempuan itu langsung berubah ritme.

“Calista tidur…” lirih Ayyara mencoba sadar situasi.

“Makanya pelan,” jawab Erika, nada licin.

Dan benar saja — Erika pelan tapi nekat. Tangan itu bergerak ke paha, menekan sedikit, menarik kain selimut. Ayyara menahan napas, matanya terbuka sepenuhnya sekarang.

“kaaak… jangan di sini…” bisiknya rendah, tapi tangannya justru refleks memegang pergelangan tangan Erika—bukan untuk menolak, tapi untuk memperlambat.

Erika mendekat, bibirnya menyentuh bahu Ayyara dari belakang. “Kalau kamu gak mau, kamu sudah tendang aku dari tadi.”

Ayyara menggigit bibir. “…kamu licik banget.”

“Hmm,” Erika membalas dengan senyum tak berdosa, lalu tangannya menyusuri paha Ayyara perlahan lagi. “Kita pindah?”

Ayyara melirik Calista yang tidur dengan damai, pipinya nempel bantal kecil. Dia menarik napas berat. Kalau mereka lanjut di kamar ini, ribet kalau tiba-tiba Calista bangun dan duduk manggil “mama”.

Dengan gerakan berusaha anggun tapi jelas gelagapan, Ayyara bangkit diam-diam. Erika mengikuti, dan mereka keluar kamar seperlahan ninja takut digebuk ibu kos.

Begitu pintu kamar tamu tertutup, Erika langsung menarik Ayyara mendekat sampai punggungnya menyentuh dinding. Tidak ada kalimat basa-basi, hanya napas berat dan tatapan yang sudah penuh tujuan sejak di kamar sebelumnya.

Tangan Erika bergerak berani—menyusuri sisi tubuh Ayyara dari lengan, ke pinggul, lalu naik ke punggung bawah. Ayyara sempat menahan, tapi itu cuma gaya—karena detik berikutnya, dia malah narik kaos Erika sendiri agar lebih cepat dilepas.

“Mau menang sendiri ya…” desis Ayyara setengah menggoda, setengah pura-pura marah.

Erika balas dengan tatapan rendah, bibirnya mendekat ke telinga Ayyara. “Daripada kamu tambah ngamuk, mending aku tutup mulut kamu pakai cara lain.”

Jawaban resmi Ayyara?
Menarik kerah Erika dan mencium balik tanpa kompromi.

Kaos, celana pendek, hoodie tidur, ikat rambut—semuanya berjatuhan tanpa arah, sampai akhirnya mereka jatuh ke atas kasur. Lampu mati? Enggak. Remangnya sengaja, cukup untuk melihat ekspresi satu sama lain dengan jelas.

Suara napas berat, desahan tertahan, dan kecupan yang makin panas bersahutan. Erika menelusuri bahu Ayyara, lidahnya menyapu kulit yang sudah memanas. Ayyara menggigit bibir, tapi tangannya menahan punggung Erika makin dekat.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang