Drama

1K 99 6
                                        

Sekitar jam 03.15 pagi, kamar tamu rumah utama hening.
Ayyara tidur pulas setelah perjalanan panjang dan kekacauan semalam.

Tiba-tiba, ada suara lirih.

"Ay…”

Ayyara tidak bergerak.

“Ayyara… perut aku kayak… aduh…”

Ayyara membuka mata perlahan dan melihat Erika meringkuk seperti udang rebus, wajahnya memelas, selimut menutupi setengah badan.

“Kamu mual lagi?”

Erika mengangguk lemah.
"Parah banget… aku takut…”

Ayyara langsung duduk, panik.
Tapi setelah dicek:
Nafas normal.
Suhu normal.
Pucat juga tidak.

Drama.

Tapi Ayyara tetap membelai punggung Erika.
“Sini, tenang dulu. Aku ambilin air hangat.”

Erika buru-buru pegang tangan Ayyara.
“Jangan pergi… please.”

Ayyara akhirnya berbaring lagi dan memeluknya dari belakang.

Dan sepanjang sisa malam itu, Erika mengeluarkan **20 jenis keluhan berbeda**, mulai dari:

* “Kepalaku muter,”
* “Perutku narik,”
* “Aku meriang,”
* “Kenapa aku ngerasa jari aku mati rasa?”
* “Yar jangan tinggalin aku kalau aku pingsan…”

Padahal 80% keluhan itu cuma biar Ayyara gak bisa ninggalin ranjang.

Setiap Ayyara mau berdiri, Erika langsung menggenggam tangan.
Kadang pura-pura merintih.
Kadang memeluk pinggang sambil bilang “jangan kemana-mana”.

Ayyara akhirnya pasrah dan bilang tidak masuk kerja.
Erika langsung tenang… dan tidur pulas dalam 3 detik.

Ayyara menatap langit-langit.
“Ini manusia apa anak kecil manja sih…”

---

Pukul 8 pagi.
Ayyara turun sambil menguap lebar, mata panda jelas sekali.

Erika?

Sudah duduk manis di meja makan, rambut rapi seperti tidak ada drama mual-mual subuh-subuh.
Semua ART langsung berdiri memberi salam.

Erika tersenyum manis.
“Selamat pagi.”

Ayyara memelotot sedikit dari jauh.

Saat sarapan, interaksi mereka bikin seluruh ART kepo:

* Erika mengambilkan roti untuk Ayyara.
* Erika menuangkan susu ke gelas Ayyara.
* Erika menyentuh punggung Ayyara pelan tiap Ayyara batuk kecil.
* Erika duduknya deket *banget*.

ART saling pandang.
Ada yang hampir senyum-senyum.

Mang Dimin sampai nyeletuk lirih:
“Neng Erika ceria pisan ya ayeuna.”

Ayyara hanya bisa menunduk menahan malu.

---

Setelah sarapan, mereka balik ke kamar utama Erika.

Erika langsung freeze.

Meja riasnya—yang biasanya tampilannya seperti toko kosmetik high-end—penuh barang Ayyara:

* Sunscreen kebuka
* Karet rambut
* Airpods
* Pulpen
* Kartu akses
* Catatan kecil
* Lip balm nyaris jatuh
* Charger nyangkut

Erika menatap Ayyara dengan slow turn ala film thriller.

“Ay… ini apa?”

Ayyara polos.
“Aku cuma taruh bentar.”

Erika mendekat.
“Bentar itu definisinya berapa jam? Berapa hari?”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang