kita perlu bicara

1.2K 110 5
                                        

Pagi itu masih agak kacau. Ayyara sibuk membereskan meja makan yang penuh sisa sarapan, sementara Erika dengan wajah masih malas duduk di sofa, Calista nempel manja di pangkuannya. Bocah itu sesekali menggumam, “mmh…baaa…mmhh,” sambil menepuk-nepuk pipi Erika, bikin Ayyara cuma bisa geleng-geleng kepala.

Di tengah suasana itu, ponsel Ayyara tiba-tiba berdering. Nama **“Daddy Erika”** tertera di layar. Ayyara sempat melirik ke Erika, heran.

“Eh… Daddy kamu nelpon aku, kak?” tanya Ayyara sambil menunjuk layar.

Erika yang tadinya santai langsung berubah ekspresi. Dari malas → jadi dingin, bahkan matanya menajam. “Angkat aja,” jawabnya singkat, nada setengah ketus.

Ayyara ragu. “Kok… aku?”

Sebelum ia bisa protes lebih jauh, telponnya diangkat otomatis karena udah terlalu lama berdering. Suara berat tapi halus terdengar dari seberang, dengan aksen bahasa Inggris yang terselip:

> “Hello, sweetheart. Daddy just landed this morning. Come home today, okay? Daddy wants to see you *and* Erika. Very important.”

Ayyara agak kaku. “Oh… iya, Daddy. Kami… kami lihat dulu waktunya ya.”

> “No, no. Not ‘lihat dulu’. You come *today*. I’m waiting at the main house. Bring Calista too, Daddy hasn’t seen her for a while. Don’t be late.”

Klik. Telpon langsung ditutup sepihak.

Ayyara melongo. “Uh… dingin banget ya. Tapi kenapa aku yang disuruh langsung datang juga? Bukannya biasanya kamu aja, kak?”

Erika tidak menjawab. Ia menunduk, mengelus kepala Calista yang sudah setengah mengantuk, wajahnya tertutup bayangan. Dingin, seperti memikirkan sesuatu yang berat.

“Ada apa sih?” desak Ayyara. “Aku kayak… ada yang nggak ngerti gitu.”

Erika menghela napas panjang, pura-pura tenang.

Ayyara masih mengernyit, tapi ia memilih diam. Ia tidak tahu kalau di balik dinginnya Erika, ada **rahasia besar yang ia sembunyikan**: bahwa Daddy sudah berulang kali menekan Erika untuk segera menjalani **program kehamilan**.

Erika tak sanggup memberitahu Ayyara. Baginya, Ayyara masih terlalu muda — masih kuliah, masih kerja paruh waktu. Erika takut kalau Ayyara tahu, semua akan jadi beban besar.

Calista tiba-tiba menyentuh dagu Erika dengan tangan mungilnya, gumamnya lembut, “mmh…maaa…” seakan ingin mencairkan suasana.

Erika tersenyum tipis, tapi di balik itu matanya penuh kerisauan. Ia tahu, cepat atau lambat, rahasia ini akan terbongkar.
.
.

Ketukan cepat di pintu apartemen membuat Erika menghela napas panjang. Ia sudah tahu siapa di baliknya bahkan sebelum Ayyara sempat mengintip lewat lubang pintu.

“Bukain,” ujar Erika datar sambil tetap bersedekap di sofa, Calista tertidur pulas di pangkuannya.

Ayyara membuka pintu—dan langsung disambut pemandangan Erina, dengan coat dokter yang masih menempel, mata sembab kurang tidur, dan yang paling mencolok… hidung merah serta tisu di tangan.

“HA-TSHII!” Erina bersin nyaris ke arah wajah Ayyara, untung cepat ditutup siku.

“Duh, Kak Nana. Masuk dulu,” ucap Ayyara sigap sambil menepuk bahunya dan menggiring masuk.

Erika langsung nyeletuk dari sofa tanpa menoleh. “Dokter kok sakit. Malu nggak sih ijazahnya?”

Erina mendelik, melepas maskernya. “Satu lagi komentar dari kamu, Ca, gue bersin sengaja ke mulut lo.”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang