Pagi itu, suasana kantor terasa lebih ceria dari biasanya. Para peserta outing kantor berkumpul di titik keberangkatan dengan semangat tinggi, siap untuk memulai petualangan mereka. Namun, di tengah keramaian, ada satu sosok yang tampak berbeda: Erika, sang atasan yang selalu terlihat serius.
Acara ini pertama kalinya Erika ikut outing kantor dengan menaiki bus. dengan penampilan yang lebih santai, ia menggunakan Jeans dan atasan kaos berwarna putih tapi tetap ada aura profesional yang tetap menyelimutinya.
Ikky, yang melihat Erika yang sedang berdiri sambil memainkan ponselnya, ia memutuskan untuk menyapa Erika. "Selamat pagi, Bu ER! Bu'Er duduk bareng sama Mba Siska ya?" tanyanya dengan senyum ramah. Erika hanya mengangguk pelan.
Begitu menaiki bus, Erika memilih duduk di dekat jendela. sementara Ayyara tiba-tiba duduk di sebelahnya. membuat Erika tampak binggung. "tadi ada perubahan tempat duduk" ucap Ayyara. hanya di sambut anggukan oleh Erika.
Suasana dalam bus mulai hidup dengan suara canda tawa rekan-rekan lainnya, namun Erika tetap terlihat tenang, hampir seperti mengamati semua orang tanpa mengucapkan banyak kata. Ayyara, yang tak bisa membiarkan suasana menjadi terlalu sunyi, mulai berbicara.
"ini perjalanannya bisa 4 jam, bu Er bisa tidur. nanti aku bangunin kalau sudah mau sampai" ucap Ayyara, Erika meliriknya sekilas dan menjawab dengan nada datar, "aku belum ngantuk." Namun, meski kata-kata itu terdengar dingin, Ayyara bisa melihat bahwa Eika sedikit melonggarkan ketegangan di wajahnya.
Sepanjang perjalanan, Ayyara terus mencoba mengajaknya berbicara dengan pertanyaan ringan. "Waktu kita sampai nanti, mau coba beberapa aktivitas tim gak, Bu? Aku sih pengen banget coba flying fox," ujar Ayyara dengan antusias. Erika hanya mengangguk, tetap dengan ekspresi datar, "Mungkin."
Saat perjalanan memasuki wilayah yang lebih hijau dan alami, Ayyara sekali lagi berusaha mencairkan suasana. "Lihat itu, Bu! Pemandangannya bagus banget, kan? Aku sampai nggak sabar buat foto-foto." Eika hanya menatap lurus ke depan, tapi ada sedikit kelembutan di matanya. "iya bagus. " jawabnya.
Saat bus mendekati lokasi tujuan, dia tak bisa menahan diri untuk menyarankan sesuatu lagi. "Bu, nanti kalau kita ada waktu, gimana kalau foto bareng ya? tadi Daddy chat aku nanyaiin tentang acara ini" katanya sambil memberikan pesan dari Daddy Erika.
Eika tampak berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara datar, "kamu sering chat sama Daddy? jangan terlalu sering, nanti bisa jadi boomerang buat kamu." Ayyara hanya mengganguk menyetujui.
Sekitar pukul 09.00, bus akhirnya berhenti di lokasi tujuan. Semua orang tampak bersemangat, dan meskipun Erika masih mempertahankan karakter dinginnya, dia turut berdiri dan berjalan menuju lokasi.
.
Ayyara ditarik oleh Tini "Raaa. kamu diajak tukeran bus sama kamar juga sama mba siska?". Ayyara menyetujuinya. "kenapa? kamu sebenernya emang mau sekamar sama bu'er yah?" Ayyara hanya menatap sinis Tini.
Semua sudah memasuki kamar masing-masing.
"Siska yang nyuruh kamu pindah kamar?". Erika melihat Ayyara membuka pintu kamar.
"Iyaa kak. Tapi kak Eca jangan berantem lagi yah sama mba siska. Aku takut" ucap Ayyara dengan wajah khawatir.
Tok
Tok
Tok
"Raaa. Ini akuu Tinii" teriak dari luar pintu.
Erika dan Ayyara serentak meneggok ke arah pintu. Ayyara dengan cepat membuka pintu dan membawa Tini masuk.
"bu'Er dimana?" Bisiknya. Ayyara menunjuk ke arah kasur.
"Kenapa cari saya?" Erika berjalan keluar dari area kasur.
"eee, saya mau menyapa aja bu. Gimana perjalanannya tadi bu?" Gelagap Tini.
"Kamu terlalu basa-basi Tini" Erika duduk di sofa sambil mengecek ponsel.
"Pak Dewa sudah sampai?" Erika menatap Tini.
"Infonya sih sudah bu" Tini sudah terbiasa dengan tingkah Erika.
Ting!
Notifikasi grup kantor, menghimbau untuk berkumpul ke area ruang keluarga.
.
.
Semua sudah berkumpul dengan pakaian santai. Semua melihat ke arah Erika yang menggunakan pakaian kaos putih dipadukan jeans. Mereka belum pernah melihat Erika yang menggunakan outif santai.
"Auranya tetep aja kaya mau kerja yah" bisik yang lain.
"Iyaaa, tapi keliatan lebih manusia aja klo pake kaos" sambung lainnya.
Semua berbisik, sebab Pak Dewa pun menggunakan kaos putih dan juga jeans yang hampir senada dengan Erika.
"Kalian terlihat sangat serasi" ucap Adam. Semua langsung menyoroti Pak Dewa da Erika.
"Lohh iya yaah. Janjian kah pak?" Agnes menyahut.
Erika tidak memperdulikan obrolan, sedangkan Tini menyenggol Ayyara. "Sabar yah" bisik Tini ke Ayyara.
"Jangan gitu guys. nanti suaminya bu'Er cemburu. Ehh atau jangan-jangan pak Dewa suaminya.. ups" Siska nyeletuk.
"Sudahh-sudahh. Jangan gosip terus, Kita foto bareng dulu" menarik Erika untuk berada di sampingnya. Erika hanya menurut saja. Dan yang lain segera mengambil tempat untuk foto bersama, Tini dengan sigap membuat ayyara berdiri di belakang Erika, dan menggarahkan tangan memegang pundak Erika.
Erika mendonggak ke atas, ia terkejut melihat Ayyara memegang pundaknya. Erika, pak Dewa, Siska, dan Agnes duduk di sofa. Dan tanpa sadar Erika tersenyum dalam foto. Entah ternsenyum saat di foto atau tersenyum karna Ayyara memegang pundaknya.
.
.
.
Guys! Tetap stay safe yaaa dimanapun kalian berada. Terutama yang dekat dengan area Demo.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
