Sejak pagi, Ayyara sudah menyusun taktik pembalasan. Kalau Erika bisa ngajarin “Mama sayang,” maka dia bisa lebih gila lagi.
Saat Erika lagi mandi, Ayyara duduk manis di lantai bareng Calista. Dia buka video hewan di HP, lalu sok serius.
“Dede… bilang gini ya: E-ri-ka… Buuuu…”
Calista bengong sambil ngemut kaos kaki.
Ayyara nyoba lagi, “Coba bilang, ‘Bubu Ekaa’… atau ‘Kaa-Kaa’ kek… atau ‘Nyonya Galak’ juga boleh.”
Calista tepuk muka Ayyara pakai tangan licin iler.
“Taang!”
“Ya bukan itu, dek!”
Tapi Calista cuma cengar-cengir.
Tak sampai lima menit, Erika keluar kamar mandi dengan santai. Calista langsung noleh dan TEPAT pada target:
“Mamaaa yaaaaang!”
Ayyara langsung mental mentalnya, sementara Erika cuma anggap itu ucapan selamat pagi level premium.
“Dia konsisten,” komentar Erika datar.
Ayyara menatap langit-langit, mempertanyakan hidup.
.
.
Mereka bertiga ke mall dekat apartemen buat belanja kecil dan makan.
Di perjalanan, Ayyara masih mencoba taktik halus,
“Dek, panggil itu ‘Bu E Ecaa… "
Calista cuma jawab sambil nyengir, “Mama yaang!”
“BUSET SETIA AMAT!” Ayyara hampir beli es krim buat ngadem hati sendiri.
Begitu masuk area kids & snack, Calista melihat deretan permen warna-warni. Matanya langsung bersinar kayak lihat surga.
Dia nunjuk, “Ikiii! Ikii! Ikii!!” (versi bayi dari “ini!”)
Erika yang nyetir stroller dengan penuh wibawa langsung potong,
“Tidak. Gula berlebihan tidak perlu.”
Calista langsung manyun, menggembungkan pipi seperti ikan buntal murka. Dia mulai merengek kecil sambil dorong troli sendiri.
Ayyara mau ambil permen diam-diam, tapi Erika menatapnya dengan mata bos keuangan yang baru menangkap karyawan korupsi.
“Jangan kamu bantu konspirasi.”
Baru Ayyara mau ngegas mulutnya, tiba-tiba ada suara dari samping.
“Erika?”
Suara laki-laki. Hangat, sopan, tapi bikin napas berhenti.
Erika spontan noleh.
Di depan mereka berdiri pria tegap berkemeja santai, rambut rapi, senyum kaget: Tama.
Mantan tunangan Erika—satu masa lalu yang tidak pernah muncul lagi sejak mereka menikah.
Tama tersenyum ramah, sedikit gugup, “Lama gak ketemu ya?”
Erika mengangguk pendek. Nada suaranya tetap tenang, “Iya, sudah beberapa tahun.”
Calista berhenti merengek. Malah merhatiin Tama dengan tatapan polos.
Tama sempat melirik stroller. “Itu… anakmu?”
Erika baru sempat tarik napas mau jawab—
BRAK.
Ayyara muncul dari arah belakang asuana jadi layar sinetron.
Ayyara mendekat dengan alis setengah naik. “Ini… siapa, Bu?”
Tama menoleh, sopan, “Hai… saya Tama. Teman lama Erika.”
“Teman,” ulang Ayyara datar, tapi matanya berteriak: TEMANNYA DARI PLANET MANA.
Baru saja canggung itu mengental… Calista angkat tangan menunjuk Tama dengan penuh keyakinan sambil teriak sekerasnya:
“PAPppA!!”
SUASANA LANGSUNG BEKU.
Orang lewat sampai nengok.
Satu mbak SPG snack hampir jatuhin brosur.
Erika kaku seperti patung lilin.
Tama freeze total, antara kaget dan sok senyum.
Ayyara refleks membelalak, “DEK—JANGAN ASAL TEMPAT!”
Calista tidak berhenti. Dia tepuk-tepuk stroller sambil berdiri setengah dan teriak lebih keras:
“PAPAA! PAPAA! PAPAAAA!”
Tama mengangkat kedua tangannya pelan-pelan, “Eh…
Erika cuma menarik napas dalam, s
Ayyara berdiri kaku di sebelah, antara pengen ketawa, nangis, dan nendang permen.
Kepala Calista makin semangat manggil, kayak lagi orasi. “PAPAA! PAPAAA!!”
Dan Tama cuma bisa senyum bingung sambil garuk tengkuk, “…Saya gak tau harus respon apa.”
Sementara Ayyara berbisik ke Erika tanpa senyum:
“Udah. Terserah kamu. Besok aku ngajarin dia satu kata baru lagi.”
Erika mendelik tipis, “Apa?”
Ayyara membalas sengit:
“Panggil kamu ‘Mbak’.”
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
