-Ay… bude sudah meninggal. Tadi pagi. Kami mau makamin sore ini.-
Ayyara membaca itu dua kali.
Tiga kali.
Lalu ponselnya turun perlahan ke pangkuannya.
Ia duduk diam. Terlalu diam.
Tidak menangis. Tidak bicara.
Hanya menatap lantai.
Erika pertama kali sadar ada yang salah bukan karena Ayyara bicara —
tapi karena Ayyara tidak bergerak sama sekali.
“Ay?”
Tidak ada respon.
Erika mendekat, jongkok di depannya.
“Ayyara.”
Ayyara menoleh. Matanya kosong, seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu tapi belum sempat merasakannya.
“Bude… meninggal.”
Itu saja yang keluar.
Erika terdiam.
Ia tahu siapa bude itu.
Orang yang menjaga Calista sejak bayi.
Orang yang menggantikan peran ibu jauh sebelum kata “ibu” itu sendiri terasa nyata.
Erika menelan napas.
“Kapan?”
“tadi pagi, sore ini mau dikubur.”
Dan setelah itu… Ayyara tidak bicara lagi.
Piring Ayyara tetap utuh.
Erika memotong ayam. Memindahkan sedikit ke piring Ayyara.
“Makan dikit.”
Ayyara menggeleng.
“Cuma dua suap.”
Geleng lagi.
Erika menarik kursi lebih dekat.
“Ayyara.”
Nada Erika tidak tinggi, tapi ada tekanan di dalamnya.
“Kamu gak bisa kosong gini.”
Ayyara menunduk. Tangannya gemetar sedikit.
“Gak bisa.”
Erika menghela napas, menahan diri agar tidak terdengar seperti memerintah.
“Kalau bukan buat kamu, buat aku.”
Ayyara mengangkat wajah. Matanya merah, tapi belum menangis.
“Aku gak laper, kak.”
“Tubuh kamu tetap butuh.”
“Aku gak peduli.”
Kalimat itu bikin Erika menegang.
“Kamu peduli sama Calista tapi gak peduli sama diri sendiri?”
Ayyara menutup mata.
Dan di situ, air mata pertama jatuh.
Tanpa suara.
Erika kaku.
Salah.
Ia sadar nadanya salah.
Ia berdiri cepat, mendekat, jongkok lagi.
“Ay… maaf. Aku gak bermaksud—”
Isak itu pecah.
Ayyara menutup wajah dengan kedua tangan.
Erika mematung dua detik, lalu menarik Ayyara ke dalam pelukan.
Ayyara tidak menolak.
Ia runtuh.
Di mobil, Ayyara duduk disaping pengemudi.
Diam.
Tasya dan Kania duduk dibelakang.
Mereka saling melirik, bingung melihat Erika sesekali menoleh ke samping dengan wajah tegang.
“kak Erika?” tanya Tasya pelan.
Erika menjawab singkat, “Dia belum makan seharian.”
Tasya melirik Melihat Ayyara yang berdiam diri.
“Ya Allah…”
Mobil berjalan lagi.
Tiba-tiba suara Ayyara terdengar, lirih.
“kakk...”
“Iya?”
“Budeh udah gak adaaa lagi”
Nada itu rapuh.
Erika menelan.
Erika refleks menoleh.
“iya, ini kita kerumah budeh Ay.”
Ayyara menatap jendela.
“Ngebuutt kakk ngebuut, aku takut aku gak ketemu budeh. Aaaa aku mau ikut budeeeh"
Kalimat itu membuat Erika mengerem.
Mobil berhenti di pinggir jalan.
Tasya dan Kania terdiam.
Erika memutar badan setengah ke arah Ayyara.
“Ayyara… lihat aku.”
Ayyara mengangkat wajahnya perlahan.
“Aku cuma mau kamu jalan dengan kondisi kamu masih… ada.”
Itu tidak puitis. Tidak lembut. Tapi jujur.
Ayyara menggeleng pelan.
“Aku udah gak utuh.”
Dan di situlah Erika kehilangan kontrol kecilnya.
“Ayyara, kamu gak bisa mati berdiri gini!”
Suara itu tidak keras. Tapi cukup tajam.
Ayyara langsung terkejut. Dadanya naik turun cepat.
Air matanya jatuh lagi, kali ini dengan suara.
“Jangan marah…”
Itu hancur.
Erika langsung turun dari mobil, membuka pintu samping, jongkok di depan Ayyara.
“Bukan marah… aku panik.”
Ia menahan tangan Ayyara.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficción GeneralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
