Hari-hari belakangan terasa sepi, tapi bukan sunyi yang tenang — lebih seperti jeda yang dingin.
Sudah hampir seminggu Ayyara berangkat pagi dan pulang lewat tengah malam.
Proyek shooting iklan produk besar menyita waktunya habis-habisan; di rumah, hanya sisa jaket tergantung di kursi dan cangkir kopi dingin yang menjadi jejak keberadaannya.
Erika bahkan sudah hafal: suara pintu terbuka sekitar pukul satu dini hari, langkah pelan menuju kamar mandi, dan suara shower sebentar — lalu senyap.
Tak ada percakapan, tak ada sentuhan.
Semuanya digantikan notifikasi kerja yang terus berbunyi di ponsel masing-masing.
Sore itu, Erika menatap layar laptopnya yang sudah lama idle, sebelum akhirnya membuka pesan dan mengetik:
“Ay, kamu masih di lokasi?”
Tidak ada tanda dibaca.
Jam menunjukkan pukul 19.03, dan perutnya berteriak lapar.
Namun yang ia rasakan bukan lapar — melainkan semacam perasaan ketinggalan, seperti seseorang yang berjalan terlalu cepat meninggalkan yang lain.
---
Malam di Rooftop Bar
Erika akhirnya menyerah. Ia butuh udara — dan sedikit interaksi manusia yang bukan dari kantor.
Malam itu ia duduk di rooftop bar bersama **Kayla**, **Anya**, dan **Revan**, teman-teman lama yang sudah tahu separuh kisah hidupnya — kecuali bagian paling rumitnya.
Lampu kota berpendar lembut, suara musik chill beradu dengan denting gelas.
Kayla bersandar santai, memainkan sedotan dengan ekspresi tajam.
“Jadi, bocil kamu ke mana?”
Erika mengernyit, tersenyum tipis. “Masih sibuk shooting. Lembur tiap malam.”
“Dan kamu gak nyamperin?”
“Ngapain? Aku tahu dia kerja.”
“Bukan soal tahu, Ca” kata Anya menyela. “Kadang orang cuma pengen dicari. Itu aja udah cukup.”
Erika menghela napas, menatap cairan di gelasnya yang memantulkan cahaya oranye.
“Dia gampang ngambek. Kadang karena aku gak bales chat, atau gak ngomong sesuatu yang dia mau denger. Aku udah capek main tebak perasaan.”
Revan terkekeh pelan. “Klasik. Satu butuh validasi, satu butuh ketenangan.”
“Tapi lo sadar gak sih, Ca,” kata Kayla lagi, kali ini dengan nada agak menekan,
“buat dia, kata-kata itu penting. ‘Aku cinta kamu’, ‘aku sayang kamu’, hal kecil kayak gitu. Lo tuh gak pernah bilang, kan?”
Erika diam. Pandangannya menurun, jemarinya mengetuk meja perlahan.
“Aku gak perlu ngomong begitu buat buktiin.”
“Serius lo?” Anya langsung menatap tak percaya. “Lo pikir tanggung jawab itu ganti kata cinta?”
“Aku bayar semua kebutuhan dia,” jawab Erika datar. “Kuliahnya, belanja bulanannya, bahkan keperluan Calista juga aku tanggung. Aku urus rumah, aku pastikan gak ada yang kurang. Itu bukan cinta?”
“Bukan,” Kayla menatapnya lurus, “itu kewajiban. Cinta itu rasa, bukan daftar pengeluaran.”
Erika terkekeh kecil, setengah getir.
>“Kalian gampang ngomong. Tapi kalian gak tahu rasanya bangun tiap pagi mikirin orang yang sama terus menerus. Gak tahu gimana rasanya jaga seseorang tanpa bisa ngomong ‘aku cinta kamu’ — karena kadang kata-kata itu malah bikin semuanya lebih… rapuh.”
Revan meletakkan gelasnya. “Atau lo cuma takut? Takut begitu lo ngomong, lo harus tanggung jawab sama emosinya juga.”
Erika memejamkan mata sebentar. Mungkin benar.
Karena di antara tanggung jawab, rutinitas, dan segala kedewasaan yang ia banggakan, kadang ia lupa — cinta yang tak pernah diucapkan bisa terdengar seperti tidak ada.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
