Apartemen terasa terlalu luas untuk hanya tiga orang. Tak ada suara tv, tak ada suara gesekan sendok, bahkan bunyi napas terasa terdengar jelas.
Erika dan Ayyara masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Erika meletakkan tas, melepas jam tangan, dan duduk di tepi ranjang. Ayyara mengganti baju Calista dengan gerakan pelan dan penuh hati-hati, seolah keberadaannya sendirilah yang mengisi ruang.
Calista, yang biasanya suka merengek didekati Erika, malam itu hanya menempel ke tubuh Ayyara. Tak banyak suara "maaa" atau ocehan lucunya. Seakan ia mengerti—malam ini bukan waktunya untuk ribut.
Erika sesekali melirik ke arah mereka.
Ingin berkata sesuatu. Tidak tahu apa.
Pada akhirnya, lampu dimatikan. Ayyara tidur membelakangi Erika, memeluk Calista. Erika mematung cukup lama, hingga akhirnya ikut berbaring. Tak ada yang saling bersentuhan.
---
Ayyara bangun lebih dulu. Tanpa menoleh, ia perlahan bangkit dan berpindah ke luar kamar untuk bersiap. Ia tidak membangunkan Erika.
Di dapur, ia menyiapkan susu botol Calista, lalu memasukkan beberapa potong biskuit ke dalam tas kecil. Calista masih mengantuk, tapi tidak rewel. Duduk di stroller dengan tenang, hanya memainkan jari-jari kakinya.
Erika sebenarnya sudah bangun sejak Ayyara keluar kamar. Tapi ia berpura-pura tidur, masih memejamkan mata sambil mendengarkan suara sendok, suara ritsleting tas, suara kaki kecil yang diseret di lantai.
Ketika pintu apartemen tertutup pelan dari luar, barulah Erika membuka mata.
Menatap langit-langit sebentar. Lalu menutupnya lagi.
Hari ini… ia memilih datang telat.
---
Pagi itu kantor terasa seperti studio yang lampunya sengaja diredam. Hening tapi penuh tekanan.
Ayyara sudah duduk di meja desainnya, membuka file campaign untuk klien otomotif besar. Jemarinya bergerak di keyboard, tapi pikirannya tidak sepenuhnya ikut. Tini memperhatikan dari balik monitor, bibirnya mengerucut.
“Kalau aura dingin bisa didaur ulang jadi listrik… kantor ini udah bisa nyalain satu kota,” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, pintu utama terbuka.
Erika datang.
Langkahnya tetap mantap, tapi tidak seagresif biasanya. Matanya menatap lurus ke depan, tidak menyapa siapa pun, bahkan tidak menoleh ke arah Ayyara sekalipun.
Semua langsung pura-pura sibuk.
Sampai suara berat terdengar dari ruang tengah.
“Erika.”
Pak Dewa berdiri di depan ruang meeting terbuka. Wajahnya datar, tapi jelas itu nada panggilan yang tidak menerima alasan.
Erika berhenti, menatap, lalu perlahan mendekat.
“Progress pitch untuk klien Hyundai—saya belum lihat final presentation-nya,” ujar Pak Dewa, tangan bertaut di depan dada.
Erika menjawab tenang, tapi pasti.
“Belum saya submit karena konsep revisi dari tim Finance bertabrakan dengan storyboard yang sudah disetujui klien pada preview sebelumnya. Kalau saya paksakan masuk sekarang, kita akan ulang meeting dari awal.”
Pak Dewa menaikkan alis.
“Jadi kamu tunda semua karena kamu tidak setuju dengan pendekatan cost-cutting-nya?”
“Saya nggak menunda. Saya memastikan kita nggak mempermalukan diri dua kali.”
Nada ruangan berubah.
Bukan karena suara keras, tapi karena kalimat Erika terlalu tajam untuk ukuran diskusi kerja.
Pak Dewa tidak meninggikan suara, tapi intonasinya menusuk.
“Kalau kamu tidak bisa kompromi dengan divisi lain, kamu bukan leader. Kamu cuma perfeksionis dengan ego.”
Erika menatap balik. Tidak bergeming.
“Kalau saya mengiyakan semua hanya demi cepat selesai, saya bukan leader. Saya cuma karyawan yang cari aman.”
Keheningan turun lagi.
Tim lain — pura-pura bekerja sambil menunggu siapa yang tembak duluan.
Pak Dewa menarik napas, menahan emosi.
“Saya minta final presentasi sebelum jam tiga. Apapun bentuknya.”
Erika tidak menunduk. Tapi ia mengangguk singkat.
“Baik.”
Pak Dewa berjalan pergi, tapi tidak sebelum berkata tanpa menoleh,
“Kalau kamu terlalu terbiasa berjalan sendiri, kamu akan lupa bagaimana rasanya percaya pada tim.”
Erika tetap diam.
Tapi Ayyara yang mendengarnya… merasa kalimat itu bukan cuma untuk kerja.
Itu untuk *mereka*.
---
Tini menunduk ke arah Ayyara dan berbisik sangat pelan,
“Ini lebih ngeri dari serial perselingkuhan.”
Ayyara tidak menyahut. Tapi jemarinya mengepal sedikit.
Karena ia tahu — masalah semalam belum selesai.
Dan sekarang, semuanya mulai merembet ke tempat di mana mereka tidak bisa sembunyi lagi.
---
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
