Mulai lagi

1.2K 111 12
                                        

Suasana kamar masih dipenuhi aroma balsem dan obat demam.

Erika bersandar di headboard, rambutnya masih sedikit basah setelah diseka handuk hangat.
Di depannya, Ayyara duduk bersila sambil membuka bungkus obat tablet yang masih baru.

“Ini dua tablet sebelum makan,” ucap Ayyara datar, nada suaranya mirip instruksi suster di rumah sakit.
Erika melirik manja. “Tapi aku gak lapar.”
“Ya minum aja dulu. Obatnya bisa bantu nurunin panas.”
Erika mencebik. “Kamu gak mau suapin?”

Ayyara menatapnya lama, menahan senyum di balik kesal.
“Ini obat, bukan es krim, Kak.”
“Tapi aku lemes banget.”

Erika tersenyum nakal, menunjuk air putih, dan sengaja mendekat. “Bantuin dong…”

Ayyara menghela napas, tapi akhirnya memegang gelas itu, menyuapkan perlahan ke bibir Erika.
Mereka sempat saling menatap — jarak mereka terlalu dekat untuk ukuran -minum obat biasa.-

Udara tiba-tiba jadi lebih berat.
Tatapan Erika menurun ke bibir Ayyara yang bergetar kecil, sedangkan Ayyara bisa mencium wangi lembut minyak kayu putih bercampur sabun yang biasa Erika pakai.

Tapi tepat saat itu…
Kilasan gambar di layar ponselnya terbayang di kepala Ayyara — foto lama Erika dan Tama, berdua di taman, tersenyum hangat.
Seolah tubuhnya langsung kaku.

Ia menepis pelan tangan Erika.
“Minum aja sendiri.”

Erika terkejut. “Looh, kenapa?”
“Gak apa-apa.”
“Bohong. Mukamu langsung berubah.”

Ayyara berdiri. “Aku cuma… keinget sesuatu.”
Erika menatapnya dengan ekspresi bingung. “Sesuatu tentang?”

Ayyara tak menjawab. Ia hanya mengambil gelas kosong dan melangkah ke dapur, menyalakan air dengan agak berlebihan.

Dari belakang, suara Erika terdengar pelan tapi jelas.
“Aku beneran capek, Ayyara. Aku lagi sakit loh ini—”

“ siapa suruh masih simpen foto sama chatnya” gummam kecil Ayyara dengan nada dingin.
"Hah? Aku gak kedengeran, kamu ngomong apa sih?” Erika kebinggungan karna memang tak mendengar suara Ayyara.

Panggilan masuk
"Raaa. Please bantuiin gue dong! Tugas yang kemarin belum selesaii nih. Gue di cafe yang samping kampus yaaaaahh yaaa Raaa bantuiin"
"Oke, gue kesana"

Ayyara tanpa sepatah kata keluar. Erika hanya terdiam. Belum bisa menyerap situasi yang sangat cepat berubah ini.

---

Udara di luar apartemen lebih lega daripada yang Ayyara rasakan di dalam.

Setelah diisi diam dan napas berat, akhirnya ia menyeret diri keluar — hoodie, tote bag, dan wajah yang tidak ingin dilihat siapa pun.

Tasya sudah di kafe, wajahnya nyengir begitu melihat Ayyara.
“Lo kelihatan kayak file corrupt. Padahal gue yang kesusahan tugass. Bantuiin gue dulu, sambil pesen kopi. baru cerita.”

Ayyara mendesah. “Kalau bisa, kopi yang bisa hapus memori.”
“Sayangnya belum ada, tapi ada cappuccino double shot. Bisa bantu lupa dua jam, minimal.”

Begitu pesanan datang, Ayyara langsung menatap kosong ke permukaan kopi.

Tasya mencondongkan badan, “Oke, spill. Mukamu nyimpen masalah kayak drive penuh.”
Tasya sepertinya melupakan tugasnya karna Ayyara

Ayyara menggeser ponsel, menunjukkan foto lama Erika dan Tama.
“Masih ada. Dan jangan tanya kenapa aku tau.”
Tasya melotot. “Lo ngecek HP-nya?”
“Bukan gitu. Kemarjn penasaran tapii —”
“Yeah right. Semua orang yang bilang ‘enggak sengaja’ tuh udah niat dari awal.”

Ayyara hampir tertawa, tapi ekspresinya cepat berubah. “Aku cuma... gak ngerti. Katanya udah lama ending, tapi foto beginian masih ada. Lengkap sama isi chat dan PAP dia.” menunduk
"Whatt the... PAP? Seorang dingin gitu kasih PAP? Wahh.. ehh tapi emang ganteng sii" Tasnya mengigit bibirnya

Tasya menyeruput kopi. “Dia masih manusia, Ra. Kadang yang disimpan bukan orangnya, tapi versi dirinya waktu dia bahagia.”

Ayyara menatap ke luar jendela. “Masalahnya, mereka itu serasi banget.”

Mereka diam sebentar. Musik kafe berubah ke lagu lembut, lalu Tasya tiba-tiba bertanya, nada suaranya pelan tapi langsung menusuk.

“Aku boleh nanya agak frontal?”
“Nanya aja.”
“Hubungan lo sama kak Erika gimana? Pas kalian ngelakuiin 'itu'? ”

Ayyara menatapnya, lama.
"Aku gak ngertiii. Yaa terjadi gitu ajaaa" polos Ayyara.
"Wajar sih, kalian kan udah nikah yah"

Tasya menambahkan, “ehh, tapi sosok Kak Erika pas mau 'itu' kayak gimana? Kan orangnya dinggin gitu"
"mmm, gakk pernahh deh seinget gue. Dia langsungg...." Tasya langsung membekap mulit Ayyara

"Bentar. Jadi setelah lu di pake, gak ada ucapaan kaya aku cinta kamu, atau aku sayang banget sama kamu?" Sinis Tasya

Pertanyaan itu menampar lebih keras dari yang Ayyara kira.
Ia menelan ludah. “Seinget aku belumm. Aku gak tahu. Dia gak pernah bilang sayang. Tapi sikap dia tuh aneh. Hari nyari aku. Beberapa hari kemarin kita perang dinggin.”

Tasya mendengus. “Klasik. Tipe orang yang cinta, tapi gak mau ngaku supaya gak kelihatan lemah.”
“Dia bukan gak mau ngaku. Dia emang susah ngomong apa yang dia rasa.”
Tasya menatapnya datar. “Atau dia cuma mau muasin kebutuhan dia doang Ra?

Ayyara tersenyum pahit. “Lo jahat, tapi bisa jadi bener.”

---

Larut Malam di Apartemen

Lampu ruang tamu masih nyala.
Erika tergeletak di sofa, rambut berantakan, laptop masih menyala di sebelahnya — dokumen kerja terbuka tapi jelas gak dikerjain.
Dia ngorok kecil, dan di dadanya ada tisu bekas kompres.

Ayyara berdiri beberapa detik, memperhatikan. Dalam hati antara pengen marah, kasihan, dan... geli sendiri.
“Manusia aneh,” gumamnya pelan.

Pas Ayyara jalan pelan menuju dapur, suara serak terdengar,
“Kamu pulang jam berapa sih…”
“Baru aja.”
“Dari mana?”
“Keluar.”
“Keluar tuh bisa artinya banyak, Ayyara. Sama siapa?”
“Tasya.”

Erika setengah bangun, matanya sipit. “Yang rambut bob itu? Yang dulu bilang aku mirip karakter drama karena terlalu ngatur?”

“Yup, itu dia,” jawab Ayyara dengan nada sengaja santai. “Dan tebakan dia makin akurat.”

Erika mendengus, mengambil bantal dan menutup muka.
“kamu kenapa sih sebenernya?"
“g p p” jawab Ayyara, membuka kulkas.

Mereka sama-sama diam sebentar, sampai akhirnya Erika ngomong tanpa menatap.
“Lain kali kalau mau keluar izin ke aku dulu.”

Ayyara menatapnya, nada suaranya dingin tapi datar. “Kalo aku gak mau?”

Erika menurunkan bantal, menatap balik. “aku harus tau kemanapun kamu pergi.”

Keduanya saling menatap lama — bukan tatapan cinta, tapi dua ego yang sama kerasnya.
Ayyara akhirnya menutup kulkas, membawa segelas air ke kamarnya tanpa komentar lagi.

Erika menatap punggungnya yang menjauh.
“Kalau aku lagi ngomong tuh dengerin. Susah emang kalau ngomong sama anak kecil”

Ayyara menutup pintu lebih keras dari biasanya.

---

Keesokan harinya, Ayyara bangun lebih pagi, wajah masih dingin. Tapi saat melihat Erika tidur miring di sofa dengan posisi aneh, ia akhirnya menyelimuti pelan sebelum berangkat.

Begitu keluar pintu, ia cuma berbisik pelan, “Manusia paling nyebelin dasar. Maunya make doang! Minimal mah nembak mbak"

---

Erika mendengar ucapan Ayyara. Tapi tak mengerti maksud  ucapan dari Ayyara

.
.
.
Gimana weekend kalian?

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang