Mobil berhenti di depan rumah bergaya klasik yang hangat lampu kuning dari dalam menyala lembut, kontras dengan udara dingin di luar.
“Akhirnya,” gumam Erina sambil turun lebih dulu.
Begitu pintu rumah terbuka—
Suara kecil langsung terdengar dari dalam.
“Mamaa… mamaaa!”
Langkah kecil berlari cepat.
Calista.
Rambutnya sedikit berantakan, pipinya merah karena hangat di dalam rumah. Ia tidak melihat siapa-siapa dulu langsung ke arah Ayyara.
Tanpa ragu, Calista memeluk kaki Ayyara.
“Mamaa…!”
Ayyara langsung kaget, tapi refleks membungkuk.
“Eh… iya… iya sayang…”
Tangannya mengelus kepala kecil itu.
Calista mendongak, matanya berbinar, lalu langsung mengangkat tangan ke arah Erika.
Erika, yang biasanya tenang dan terukur, langsung berubah.
Ia berlutut sedikit, mengangkat Calista tanpa banyak kata.
Ekspresinya… lembut.
Berbeda.
Ayyara memperhatikan itu. Diam-diam.
Di dalam rumah, suasana langsung ramai.
Beberapa anggota keluarga menyambut, ada pelukan, ada sapaan dalam bahasa campur, ada tawa yang gak dibuat-buat.
Ayyara sedikit canggung di awal, tapi cepat ditarik masuk ke lingkaran.
“Ini Ayyara?” salah satu tante bertanya.
“Cantik ya…”
Erika hanya berdiri di samping, tidak banyak komentar.
Erino sudah nyelonong duluan ke sofa.
“Udah gue bilang, tipe gue banget.”
“DIEM LO,” Erika langsung menyenggol.
Tawa pecah.
Mereka semua akhirnya duduk di ruang keluarga.
Calista masih di gendongan Erika, tapi tangannya sesekali meraih Ayyara.
Seolah gak mau jauh.
“Dia cepet banget lengket ya,” komentar Erina sambil tersenyum.
Ayyara tersenyum kecil.
“Kayaknya dia cuma… ramah.”
“Enggak,” sahut Erino santai.
“Dia selektif.”
Ayyara melirik.
“Serius?”
“Serius. Sama gue aja dia mikir dulu,” jawabnya tanpa malu.
“Ya kamu serem,” balas Erina cepat.
Tawa lagi.
Salah satu anggota keluarga menatap Erika, lalu geleng pelan.
“Kamu tuh ya,” katanya.
“Di luar dingin banget, di rumah… ternyata masih bisa gendong anak.”
Erika menghela napas kecil.
“Aku gak sedingin itu.”
“Aduh,” sahut yang lain.
“Defensif.”
“Jarang-jarang loh liat Erika kayak gini,” tambah Erina, sengaja mengompori.
“Biasanya kalau di rumah cuma buka laptop.”
Ayyara melirik Erika.
Sedikit senyum.
“Sekarang upgrade,” celetuk Erino.
“Udah pegang bayi + pegang istri.”
“ERINO!!.”
“YA APA SALAHNYA?.”
Suasana makin cair.
Obrolan mulai mengalir ke banyak hal. Kerjaan, perjalanan, sampai akhirnya—
Topik itu muncul.
“Jadi… kalian ke sini sekalian kontrol juga?” tanya salah satu tante, nada hati-hati tapi penasaran.
Erika sedikit menegakkan posisi duduknya.
“Aku cuma—”
“Sekalian IVF, tante.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dari Ayyara.
Tenang.
Cepat.
Tanpa jeda.
Semua langsung diam.
Erika menoleh.
Pelan.
Tatapannya bukan marah.
Tapi… jelas terkejut.
Ayyara sendiri baru sadar beberapa detik setelahnya, tapi tidak menarik ucapannya.
Salah satu anggota keluarga mengangguk pelan.
“Oh… bagus sih kalau dipikirkan dari sekarang.”
“Iya, apalagi fasilitas di sini lengkap,, dan memadai.” tambah yang lain.
Erina melirik Erika.
Ia langsung bisa membaca ini belum pernah dibicarakan selesai.
Erika menarik napas.
“Ayyara masih kuliah,” katanya akhirnya, nada tetap tenang tapi lebih tegas.
“Kita belum sampai ke keputusan itu.”
Ayyara menoleh cepat.
“Aku gak masalah.”
Erika langsung menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
