Hari-hari setelah outing kantor kembali berjalan normal. Rutinitas pekerjaan di kantor menggantikan suasana santai di vila, namun kenangan tentang malam barbeque itu masih segar di ingatan Erika.
Sesekali, saat ia duduk di meja kerjanya, bayangan wajah Ayyara yang dengan sabar menuntunnya ke kamar kembali terlintas.
Erika ingat samar-samar, bagaimana Ayyara menolak dengan tegas ketika Pak Dewa hendak membantunya. Walau ia mabuk saat itu, rasa hangat karena dijaga dan dilindungi tetap menempel di hatinya.
Sejak hari itu, pandangan Erika terhadap Ayyara berubah. Ia mulai lebih sering memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Di ruang kerja, Erika mendapati dirinya tanpa sadar mengikuti arah langkah Ayyara.
Saat Ayyara berbicara dalam rapat, ia memperhatikan dengan serius—bukan hanya isi perkataannya, tapi juga ketegasan dan ketenangan yang ditunjukkan.
Suatu siang, ketika mereka sama-sama sedang lift, Erika memberanikan diri membuka percakapan.
“Ayyara, waktu itu… terima kasih ya. Kalau bukan kamu, mungkin aku sudah dipermalukan karena mabuk.”
Ayyara hanya tersenyum kecil, menatap Erika sekilas lalu mengaduk minumannya. “Aku cuma melakukan apa yang harusnya dilakukan. Lagipula, aku memang memang seharusnya gitu kan kak”
Kalimat itu membuat dada Erika terasa hangat. Ada sesuatu yang berbeda dalam nada bicara Ayyara—tenang tapi melindungi. Sejak saat itu, Erika merasa semakin ingin dekat dengannya.
Hari demi hari, Erika mulai menunjukkan perhatian kecil: membelikan minuman san makanan ketika tahu Ayyara begadang menyelesaikan laporan, menawarkan diri untuk membantu pekerjaan kecil, bahkan sekadar menyapa dengan senyum lebih lebar dari biasanya. Meski terlihat biasa di mata orang lain, di hati Erika, setiap langkah kecil itu adalah cara untuk mendekatkan dirinya pada Ayyara.
Dan tanpa disadari, tatapan mata Erika yang sering terarah pada Ayyara mulai disadari pula oleh beberapa rekan kerja. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang hanya tersenyum penuh tanda tanya. Tapi Erika tidak terlalu peduli. Yang ia tahu, sejak malam outing itu, Ayyara —ia adalah seseorang yang berarti.
Awalnya, Ayyara hanya menganggap semua itu hal biasa—gestur ramah dari seorang atasan. Tapi lambat laun, ia mulai menyadari bahwa tatapan Erika berbeda. Ada sesuatu di balik mata itu; rasa kagum, juga perhatian yang tidak lagi bisa dianggap sekadar atasan dan bawahan
.
“Kenapa kak Eca sering sekali memperhatikan aku,?” tanya Ayyara suatu sore ketika mereka pulang bersamaan. Nada suaranya ringan, tapi penuh tanda tanya.
Erika sempat terdiam, wajahnya memerah, lalu tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. “Nggak ada… aku cuma… ya, ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Jawaban itu membuat Ayyara mengernyit, tapi ia tidak menanggapi lebih jauh. Namun dalam hati, ia menyimpan rasa penasaran.
Di kantor, beberapa rekan mulai menyadari kedekatan mereka. Bisikan-bisikan mulai terdengar di pantry maupun ruang kerja.
“bu Er sekarang lebih keliatan ramah ya?”
“Iya, aku sampe kaget, jangan-jangan krisis identitas”
Kabar itu bahkan sempat sampai ke telinga Pak Dewa.
Dalam sebuah rapat kecil, ia melontarkan komentar sambil tersenyum samar, “Sepertinya ada yang berubah yah. Ruangan meeting jadi lebih manusiawi” Ucapan itu membuat beberapa orang menahan tawa, sementara Erika hanya memasang wajah tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
