Kesibukan Jakarta langsung menyambut begitu mereka menginjakkan kaki di kantor. Atmosfer dingin Jerman berganti dengan deru AC sentral dan aroma kopi yang memenuhi lorong-lorong gedung bertingkat itu.
Di lantai atas, Erika berjalan cepat menuju ruangannya. Langkah kakinya yang tegas beradu dengan lantai marmer, menciptakan irama yang menuntut fokus. Vanya, asisten pribadinya, sudah mengekor di belakang dengan tablet di tangan, suaranya terdengar seperti senapan mesin.
"Bu Er, laporan projek sudah ada di meja. Tim legal minta tanda tangan sebelum jam dua. Lalu soal tender di Kalimantan, pihak sana minta revisi anggaran karena ada kenaikan biaya logistik..."
Erika berhenti mendadak di depan pintu ruangannya, membuat Vanya hampir menabrak punggungnya. "Vanya, atur ulang jadwal tender itu. Soal Daddy... maksud saya Pak Wiliam, bilang saya akan telepon balik nanti malam. Dan tolong atur jadwal cuti half day buat saya sesegera mungkin."
Vanya mengerjap. "Untuk keperluan penting bu?"
"Yaa" jawab Erika singkat, lalu masuk ke ruangannya dan menutup pintu, meninggalkan Vanya yang penuh tanda tanya.
.
.
Sementara itu, di luar ruangan. suasana jauh lebih gaduh. Ayyara datang dengan dua tas besar berisi cokelat dan suvenir khas Munich yang ia beli di bandara semalam.
"Halo semuanya! Maaf ya cutinya kelamaan, ini buat kalian!" seru Ayyara sambil meletakkan oleh-oleh di meja tengah.
Rekan satu timnya langsung mengerubung. Namun, bukan cuma cokelat yang mereka incar, melainkan gosip.
"Gila ya, Ra! Cuti dua minggu lebih, wajah langsung glowing begini," goda salah satu rekan pria. "Ke mana aja sih? Katanya ke Bali, tapi kok oleh-olehnya cokelat Eropa?"
"Iya nih, jangan-jangan lanjut short trip ya?" timpal yang lain. "Eh, denger-dengar si Adam juga cutinya barengan sama kamu loh. Dia juga ke Bali awalnya. Kalian janjian ya?"
Wajah Ayyara sedikit menegang. "Hah? Adam? Enggak lah! Tapii Kebetulan emang ketemu waktu lagi di pantai nya."
Tini, rekan kerja yang duduk di sebelah Ayyara dan merupakan satu-satunya orang yang tahu rahasia besar itu, hanya bisa menahan tawa sambil mengunyah cokelat pemberian Ayyara. Ia melirik Ayyara yang mulai dikepung pertanyaan "kepo".
"Halah, ngaku aja, Ra. Si Adam kan emang udah lama naksir kamu. Pas banget cuti bareng, balik-balik Ayyara makin cantik. Jangan-jangan udah jadian nih?" celetuk seorang karyawati dengan nada usil.
"Enggak, beneran! Aku pergi sama temen kampus pas di Bali!" bantah Ayyara cepat.
"Temen apa gebetan baru?" goda mereka lagi. "Adam mana sih? Kok belum masuk? Ciee, janjian masuk siangnya ya?"
Tini akhirnya berdeham keras untuk menyelamatkan sahabatnya. "Sudah-sudah! Itu cokelat dimakan, jangan nanya terus. Ayyara itu pergi urusan penting, bukan main-main sama Adam."
Ayyara memberikan tatapan 'terima kasih' pada Tini. Namun, di dalam hati, Ayyara merasa sedikit sesak. Rasanya ingin sekali ia berteriak bahwa ia habis menghabiskan waktu romantis di Jerman bersama istrinya, Bos mereka sendiri, bukan dengan si Adam atau siapa pun.
Tapi ia ingat janjinya pada Erika. Profesionalitas di kantor tetap nomor satu, apalagi mereka akan segera memulai proses besar.
"Raa," bisik Tini saat teman-teman yang lain mulai bubar. "Tadi Bu Er lewat depan sini, dia sempat ngelirik meja kamu loh. Kayaknya ada yang cemburu denger nama Adam disebut-sebut."
Ayyara langsung pucat. "Serius? Duh, mampus aku. Habis ini pasti dipanggil ke atas."
Benar saja, hanya berselang lima menit, ponsel Ayyara bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.
Erika:Ke ruangan sekarang. Ada berkas yang perlu kamu 'jelaskan'. Dan singkirkan cokelat dari si Adam itu dari pikiranmu.
Ayyara menghela napas panjang, melirik Tini dengan wajah pasrah. "Tuhkan, kak Tin. Mood swing aku belum abis, sekarang giliran mood swing Bos yang kumat."
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
