Persiapan ke Jerman berjalan pelan tapi padat. Koper-koper terbuka di lantai vila, isinya campur antara pakaian musim dingin, sandal pantai yang belum sempat dikeringkan, dan oleh-oleh yang entah kapan dibelinya. Di luar, suara ombak masih terdengar samar—kontras dengan kenyataan bahwa besok mereka akan meninggalkan Bali.
Erika duduk di tepi ranjang, ponselnya di tangan.
Ia scroll pelan.
Satu per satu foto muncul di layar:
Ayyara dengan rambut berantakan tertawa lepas.
Foto grup dengan kembang api.
Video singkat saat Ayyara mencium pipinya—yang sempat bikin Erika kaget, tapi sekarang malah bikin sudut bibirnya naik sendiri.
Ia berhenti di satu foto.
Foto mereka berdua.
Agak blur.
Agak miring.
Tapi hangat.
Erika menghela napas kecil, seperti baru sadar sesuatu yang selama ini terlewat.
“Lucu ya,” gumamnya, lebih ke dirinya sendiri.
Ayyara yang sedang melipat baju menoleh.
“Hm?”
Erika mengangkat ponsel sedikit.
“Kita bahkan gak punya foto bareng yang… resmi.”
Ayyara berhenti bergerak.
“Maksudnya?”
“Foto yang beneran kita,” lanjut Erika pelan. “Bukan kerjaan. Bukan formal. Bukan yang… kebetulan.”
Ia tersenyum kecil, tapi ada jeda aneh setelahnya.
“Kecuali foto nikah itu,” sambungnya, nadanya datar.
“Dan itu pun… tanpa perasaan.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.
Ayyara meletakkan bajunya. Duduk di hadapan Erika.
Menatapnya lama, tanpa bercanda, tanpa senyum Gen Z-nya yang biasanya.
“Kak,” katanya akhirnya, suara lebih rendah.
“Kamu nyesel?”
Erika langsung menggeleng. Cepat. Refleks.
“Bukan gitu.”
Ia menggeser ponsel ke samping, lalu menatap Ayyara sepenuhnya.
“Aku cuma…” Erika berhenti sejenak, memilih kata.
“Aku baru sadar, aku melewatkan banyak momen kecil karena terlalu hati-hati. Terlalu mikir. Terlalu dewasa.”
Ayyara mengernyit.
“Dan itu salah aku?”
“Bukan.”
Erika tersenyum, kali ini lebih hangat.
“Itu salah aku.”
Ia mengulurkan tangan, menarik Ayyara lebih dekat sampai lutut mereka bersentuhan.
“Kamu tau gak,” lanjut Erika pelan,
“aku gak pernah kepikiran foto sama siapa pun sebelumnya. Aku gak butuh. Aku gak peduli.”
Ia menatap mata Ayyara.
“Tapi sekarang aku malah kepikiran.”
Ayyara menahan napas, lalu terkekeh kecil.
“Berarti itu kemajuan dong.”
Erika ikut tertawa pelan.
“Iya. Dan jujur… agak menakutkan.”
Ayyara menyentuh tangan Erika, menggenggamnya.
“Tenang aja. Kita bisa mulai sekarang.”
Erika mengangkat alis.
“Sekarang?”
Ayyara sudah berdiri, meraih ponsel Erika.
“Iya. Sebelum ke Jerman. Sebelum dunia kamu balik ribet.”
Ia menarik Erika berdiri, mengarahkannya ke dekat jendela vila. Cahaya sore masuk lembut, gak sempurna tapi cukup.
“Gak usah pose aneh,” kata Ayyara.
“Cuma berdiri.”
Erika berdiri kaku.
“Kayak gini?”
Ayyara mendengus, lalu melangkah mendekat.
“Deketan, Kak. Ini foto pasangan, bukan foto KTP.”
Ia menyelipkan lengannya ke pinggang Erika. Santai. Natural.
Erika refleks menegang sebentar… lalu mengendur.
Klik.
Satu foto.
Ayyara melihat hasilnya, tersenyum puas.
“Nah. Ini baru kita.”
Erika menatap layar. Lama.
Lalu berkata pelan, hampir seperti janji:
“Kali ini… ada perasaannya.”
.
.
Pagi keberangkatan datang terlalu cepat.
Langit Bali masih abu-abu, belum sepenuhnya terang. Suasana vila yang kemarin ramai, sekarang terasa lebih sunyi—hanya suara koper diseret dan resleting yang ditutup terburu-buru.
Ayyara duduk di atas koper, berusaha menutupnya.
“Ini kenapa gak mau nutup sih,” keluhnya.
Erika berdiri di sampingnya, menatap sebentar, lalu dengan tenang menekan sisi koper itu.
Klik. Tertutup.
Ayyara mendengus.
“Yaelah… padahal tadi aku udah dudukin.”
“Tekniknya salah,” jawab Erika singkat.
Ayyara melirik, setengah kesal setengah geli.
“Semua juga harus pake teknik ya sama kamu.”
Erika tidak membalas. Tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Perjalanan ke bandara diisi obrolan ringan. Tidak ada drama, tidak ada pembahasan berat. Hanya sisa-sisa tawa dari malam tahun baru, dan rasa enggan yang belum sempat diakui.
Begitu sampai di bandara, suasana langsung berubah ramai.
Revan sibuk urus bagasi.
Anya mengecek tiket.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
