Penggakuan Erika

1.2K 123 9
                                        

Apartemen itu sepi lagi.
Lampu ruang tengah menyala lembut, sisa cahaya dari jalan memantul di jendela besar.
Ayyara duduk di sofa, masih mengenakan gaun yang sama. Sepatunya sudah dilepas sejak masuk, dan rambutnya kini tergerai acak.

Erika baru keluar dari kamar, sudah berganti dengan kaus hitam polos dan celana santai, tapi auranya tetap sama: tenang, terkendali, dingin.
Ia berjalan melewati ruang tengah tanpa bicara, mengambil segelas air, lalu duduk di kursi seberang.

Tak ada suara, hanya dengung pendingin ruangan dan detik jam yang terasa panjang.
Sampai akhirnya Ayyara yang membuka suara.

“Kamu tahu gak, sepanjang acara tadi aku ngerasa kayak orang asing.”

Erika menatap tanpa ekspresi. “Karena kamu diem sendiri di pojokan?”
“Karena kamu sibuk pura-pura gak kenal aku,” balas Ayyara, nadanya pelan tapi menohok.

Erika meletakkan gelasnya, napasnya terdengar pelan namun berat.
“Aku cuma berusaha ngejaga situasi tetap normal, Kamu tahu sendiri siapa aja yang dateng—”
“Normal?” potong Ayyara cepat. “Kamu sebut itu normal? Bryan flirting di depan semua orang, dan kamu cuma senyum manis seolah gak ada aku di situ.”

Erika tak langsung menjawab. Matanya menatap ke arah lantai, seperti sedang menghitung sesuatu di pikirannya.
“Aku gak mau ribut di tempat umum,” katanya akhirnya.
“Dan kamu pikir aku gak malu?” Ayyara tertawa hambar. “Aku duduk di sebelah kamu tapi gak dianggap. Kamu tahu rasanya kayak apa?”

Erika diam.
Tapi keheningan itu, justru menambah luka.

---
Flashback — Beberapa Jam Sebelumnya

Di sudut ruangan ballroom, sebelum acara benar-benar dimulai, Kayla, Anya, dan Revan sempat duduk sambil menunggu Erika yang belum muncul.
Obrolan ringan berubah jadi sedikit serius ketika Revan nyeletuk,

“Gue tuh masih gak ngerti, gimana bisa orang kayak Erika jatuh cinta.”

Kayla tertawa. “Itu juga yang gue pikirin dulu. Otaknya tuh kayak mesin. Dia gak pernah nunjukin emosi yang gak perlu.”
Anya mengangguk. “Bener. Dulu aja waktu gue hampir cerai, Erika bukannya nyemangatin, malah ngomong gini — ‘logically, you’ll survive better alone.’ Gak ada pelukan, gak ada simpati. Tapi entah kenapa, tetap bikin kita nurut.”

Revan menyandarkan badan. “Dia kayak… hidup dalam mode strategi. Semua langkah harus efisien. Tapi lo tau? Orang kayak gitu biasanya paling takut gagal ngerasain perasaan yang dalam.”

Kayla menatap kosong ke arah meja. “Dia dari dulu udah begitu. Dia kabur dari life path keluarganya biar gak jadi dokter, dan sampai sekarang masih dihantui rasa bersalah. Mungkin makanya dia gak bisa santai bahkan dalam cinta.”

Hening sejenak, hanya suara musik instrumental di latar.
Anya akhirnya berucap pelan, “Kadang gue kasihan sama siapa pun yang nyoba deket sama dia. Karena kalau orang itu gak cukup sabar, bisa hancur di prosesnya.”

---
Kembali ke Malam Ini

Kata-kata itu terngiang di kepala Erika.
Ia tahu, sebagian besar benar.
Tapi mendengarnya dari mulut orang lain — apalagi yang mengenalnya selama bertahun-tahun — terasa seperti tusukan halus di sisi dadanya.

Ayyara menatap Erika dengan mata yang mulai berair.
“Kalau kamu emang gak bisa nunjukin perasaan, kenapa kamu maksain aku buat tetep di sini?”
Erika menegakkan tubuhnya. “Karena aku bertanggung jawab.”
“Bertanggung jawab,” ulang Ayyara, suaranya serak. “Kamu selalu pake kata itu. Tapi kamu sadar gak sih, dari semua hal yang kamu tanggung, satu-satunya yang aku butuhin cuma kamu bilang *kamu pengen aku*? Gak perlu bilang cinta, gak perlu janji — cuma pengakuan kecil aja.”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang