Bocilnya Aku

1.4K 118 9
                                        

Teman-teman menatap Erika antusias
mereka cuma tau dia bos besar yang dingin dan perfeksionis.

Tapi malam ini?

Erika duduk di kursi plastik ringkih
yang *krek krek* setiap ia bergerak.

Ada ayam geprek level setan di depannya.

Ayyara sengaja ambilkan level pedas non-manusia.

“Coba yang ini, katanya orang Jakarta kuat pedas.”
Nada manis, maksudnya jahat.

Erika menatap piring itu seperti tantangan hidup.

Ia ambil satu gigitan…

BRUGHHH!

Erika langsung terbatuk hebat.
Air mata meluncur. Hidung memerah.

“Ayyara ini… api neraka??”

Ayyara menepuk punggungnya sambil menahan tawa sampai wajah merah.

“Minum minum ini air.”

Erika meneguk cepat,
lalu menatap Ayyara dengan pandangan dingin + tersinggung + cinta

“Kamu mau bunuh aku ya?”

“Pengingat aja… jangan main-main soal ‘ditinggal’.”

Teman-teman semua:
“AAAAAAAAA!!🔥🔥🔥”
Heboh menahan jeritan baper.

Erika hanya melihat Ayyara,
Tapi senyumnya… tidak bisa ia sembunyikan.

---

Malam makin larut.
Erika mulai lebih rileks.
Ayyara mulai melunak.

Dan para teman kost?

Sibuk mengamati chemistry mereka
dengan tatapan ingin bergosip ke seluruh Bandung.

Suasana rooftop malam itu cukup ramai. Beberapa dosen muda yang juga tinggal di area kost sedang duduk bersama mahasiswa lingkup kampus yang akrab seperti keluarga kecil.

Di antara mereka, ada satu sosok yang mencuri perhatian: Pak Dimas, dosen muda yang gayanya santai dan wajahnya terlihat sebaya Erika.

Saat Ayyara pergi bersama Tasya untuk mengambil makanan khusus Erika tanpa pedas sama sekalihati Ayyara diam-diam terasa lebih hangat. Sesibuk apa pun ia tetap mengingat hal kecil seperti ini… dan Ayyara tidak ingin kejadian rumah sakit itu terulang.

Ketika kembali ke rooftop, Ayyara mendapati pemandangan yang membuat langkahnya otomatis melambat.

Erika duduk di antara dosen-dosen itu, dan Pak Dimas tepat di sebelahnya. Mereka berbincang serius dengan jeda tawa kecil. Cara dosen itu memandang Erika… seperti sedang mengagumi rekan kerja baru.

Erika tampak sangat… cocok berada di dunia itu.

Ayyara menundukkan pandangannya sesaat sebelum akhirnya meletakkan makanan untuk Erika.

“Kamu pasti belum makan dari tadi,” ucapnya pelan.

Erika terdiam sebentar lalu tersenyum kecil, “Makasih.”

Obrolan berlanjut, tapi suasananya berbeda. Erika sesekali melirik Ayyara, seolah memastikan ia masih di dekatnya. Namun jarak fisik tetap terasa… jauh.

---

Malam semakin dingin. Setelah pamit pada dosen-dosen, mereka naik ke kamar kost.

Dan di sanalah Erika berhadapan dengan kasur single ala anak kos yang lebarnya seperti papan setrika.

“Ini… buat dua orang?” Erika memastikan dengan wajah shock.

Ayyara mengangguk malas, “Kalau nggak muat, kamu bisa ke hotel, lho.”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang