Siang itu angin Bali berhembus pelan.
Erika duduk di teras vila, ponselnya di tangan. Ayyara ada di sampingnya, bersandar santai, menikmati suasana liburan yang akhirnya terasa benar-benar nyata.
“Di sana masih pagi,” ujar Erika sambil menekan video call.
Layar menyala.
Mama Erika muncul, lalu Papa—dan di pangkuan Mama, Calista.
Begitu layar menampilkan wajah Erika, Calista langsung berhenti bergerak.
Matanya membesar. Ia menatap lama, seakan mencoba memastikan.
Lalu bibir kecilnya bergetar.
“Maa… maa…”
Tangannya terulur ke layar.
Tangisnya pecah seketika—bukan tangis keras, tapi tangis kecil yang tersendat, khas anak dua tahun yang belum tahu cara mengungkapkan rindu.
Erika langsung menegakkan badan.
Dadanya terasa sesak.
“Hey… Tata…” suaranya turun, lembut, hampir berbisik.
Calista makin rewel. Ia menggapai-gapai layar, wajahnya merah, air mata mengalir begitu saja.
Mama Erika mengusap punggungnya.
“Dari tadi rewel. Begitu lihat kamu langsung nangis.”
Ayyara ikut mendekat, masuk ke frame.
Ia tersenyum lembut, melambaikan tangan kecil.
“Haiii Tataaa…” katanya pelan, nada suaranya dibuat ceria.
Calista menoleh sekilas. Tangisnya masih ada, tapi kini diselingi isak kecil.
“Maa… maa…” katanya lagi, menepuk-nepuk layar dengan telapak mungilnya.
Erika menutup mata sebentar, menahan rasa bersalah yang datang tiba-tiba.
“Nanti mama kesana ya…” ucapnya, meski tahu Calista belum benar-benar paham kata-katanya.
Calista hanya terus menggapai layar, merengek kecil, seolah ingin dipeluk sekarang juga.
Ayyara menyentuh lengan Erika, pelan.
Isyarat kecil tapi penuh makna.
Video call itu tidak lama—Mama menutupnya sebelum Calista makin rewel.
Layar gelap, tapi perasaan tertinggal.
Erika menurunkan ponselnya. Napasnya panjang.
“Kamu kuat banget,” ujar Ayyara lirih.
Erika menggeleng pelan.
“Enggak. Aku cuma belajar ninggalin sebentar.”
Ia menoleh ke Ayyara, tatapannya lebih dalam dari biasanya.
“Dan pulang ke dua tempat sekaligus.”
Ayyara tersenyum kecil.
Hangat.
Tenang.
Liburan ini bukan cuma soal Bali.
Tapi soal menyeimbangkan masa lalu, keluarga, dan kehidupan yang baru mereka bangun bersama.
Vidcall itu berakhir dengan tawa ringan dan janji basi untuk “nanti cerita lagi.”
Layar ponsel gelap, tapi sisa suaranya masih menggantung di udara vila.
Erika meletakkan ponsel lebih dulu.
“Keluar sebentar?” tawarnya.
“Cari tempat yang gak ramai.”
Ayyara mengangguk cepat. Ia memang ingin berjalan, tanpa agenda, tanpa harus jadi siapa-siapa.
Mereka memilih area yang bahkan jarang muncul di peta wisata—gang sempit, toko kecil, dan café-café yang seolah hidup untuk dirinya sendiri. Di sini, tak ada tatapan penasaran. Tak ada yang mengenali. Tak ada yang peduli.
Dan itu membuat Erika berubah.
Tangannya lebih sering berada di punggung Ayyara. Kadang di pinggang, kadang hanya menyentuh ujung jari—sentuhan kecil tapi konsisten. Saat Ayyara berhenti melihat etalase, Erika ikut berhenti. Saat Ayyara berjalan lebih pelan, langkah Erika otomatis menyesuaikan.
Dimanjakan.
Tanpa kata.
Tanpa alasan.
“Aku mau itu,” ujar Ayyara tiba-tiba, menunjuk toko es krim kecil dengan lampu kuning temaram.
Erika tersenyum.
“Dua rasa?”
“Kayak kamu tau aja.”
Mereka masuk. Duduk di bangku kayu sederhana. Ayyara mengambil foto es krimnya—dua scoop, warna pastel—lalu mengirimkannya ke seseorang.
Tak lama, ponselnya bergetar.
“Raya nelpon,” katanya.
“Istri Revan.”
Erika mengangguk, fokusnya tetap pada Ayyara, bukan es krimnya.
Panggilan diangkat.
Suara Raya terdengar ceria di awal, lalu pelan-pelan berubah menjadi curhat yang jujur. Tentang mual pagi hari yang datang tanpa izin. Tentang takut tidak cukup kuat. Tentang badan yang berubah dan perasaan yang ikut goyah.
“Capek ya,” kata Ayyara lembut.
“Tapi kamu gak sendirian, Kak.”
Erika diam. Tapi matanya tak lepas. Ia mendengar setiap kata, seolah ini bukan obrolan iseng—melainkan briefing penting.
Raya tertawa kecil di ujung sana.
“Kamu masih muda, Yara. Nikmatin aja dulu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
