---
Sejak Calista muncul di kantor, suasana berubah drastis. Orang-orang yang biasanya sibuk dengan komputer, laporan, dan rapat mendadak jadi tukang pantau stroller. Ayyara yang biasanya keliatan profesional dan muda, hari itu malah terlihat seperti ibu baru yang kurang tidur. Rambutnya digelung asal-asalan, mata setengah merem, dan kaosnya sempat terbalik sebelum Tini memperingatkan.
“Raa, bajunya kebalik. Label-nya nongol di luar. Itu bukan fashion Korea, ” bisik Tini sambil ngakak tertahan.
Ayyara cuma menarik napas dan menghela panjang. “Salah aku apa semalam mau diladeni orang itu,” gumamnya lirih sambil melirik ruangan Erika yang sedang kerja dengan wajah tanpa dosa.
---
Sementara itu, Calista jadi magnet utama. Hampir semua staf datang pura-pura “ada urusan”, padahal ujung-ujungnya cuma mau lihat bayi. Bahkan bagian HR yang biasanya tegas, ikut nunduk-nunduk di sisi stroller sambil bilang, “Siapa yang gembul banget ya iniii…”
Pak Dewa tak mau kalah. Pria yang sehari-hari logatnya formal mendadak berubah jadi penyanyi lagu anak-anak.
“Siapa namanya, Nak? Hah? Cucu siapa kamu?” tanyanya dengan tatapan berbinar.
Calista menatap balik, lalu tangannya menunjuk pak Dewa sambil ngoceh pelan, “mmmmmaaa… mmmaa…”
Pak Dewa langsung makin terpukau. “Yaampuun! Pintaar banget sih ini anak! Baru datang langsung manggil! Manggil siapa nih? Mamanya? Ih lucunya…”
Tini dari balik meja cuma cekikikan, “Pak, itu anak belum bisa ngomong, jangan GR.”
---
Jam sebelas siang, Erika harus ikut meeting di lantai bawah. Ia keluar dari ruangannya—rapi, serius, aura bos besar masih utuh. Karyawan lain langsung minggir otomatis, seperti jalan memberi ruang untuk komandan lewat.
Calista, yang sedang digendong Tini, spontan noleh dan gerakin badannya maju. Bocah itu menjulurkan tangannya ke arah Erika sambil teriak kecil, “Mmmaaa! Ma maaa!”
Semua kepala refleks menoleh ke sumber suara itu. Erika yang sudah berjalan beberapa langkah otomatis berhenti. Sedetik ia menatap Calista, lalu sudut bibirnya terangkat sedikit—senyum refleks, lembut, tulus.
Namun setelah itu, ia lanjut jalan tanpa menghampiri.
Tini melongo. Tini berhenti ngunyah keripik. Pak Dewa tertegun di depan dispenser.
Beberapa orang langsung mulai bisik-bisik.
“Ya ampun, kok cuek banget…”
“masa lewat aja gituu”
“Senyum sih senyum, tapi ditinggal juga.”
“Aduh, nih atasan punya hati nggak sih?”
Tini langsung tutup mulut sambil ngakak tertahan di balik map.
Ayyara, yang duduk tak jauh dari situ, otomatis berdiri dan menghampiri Calista. Wajahnya ada perpaduan malu, lelah, dan sedikit berusaha maklum. Ia menepuk lembut kepala adiknya sambil berbisik, “Ssst.”
Tapi damage sudah terjadi. Para karyawan sudah keburu punya asumsi masing-masing.
---
Beberapa jam kemudian, suasana mulai tenang. Calista tertidur di sofa kecil ruang istirahat, sementara Ayyara duduk dengan wajah capek yang tak bisa lagi disembunyikan.
Pak Dewa mendekat pelan, duduk di kursi seberangnya. Tatapannya masih ke arah Calista. “Lucu ya anaknya… mirip sekali sama kamu Ayyara. Jadi… memang anak kamu?”
Beberapa staf yang mendengar langsung pasang kuping, pura-pura sibuk ngetik tapi mata mantul ke kaca monitor.
Ayyara menarik napas dalam. Ia sudah mendengar asumsi itu sejak pagi. Kali ini, ia jawab pelan tapi jelas, “Bukan, Pak. Dia adik kandung saya.”
Suasana seketika hening.
“Hah?” spontan nyletuk dari belakang. “ maksudnya… adik bayi?”
Ayyara mengangguk tanpa senyum. “Ibu saya menikah diusia muda, jadi… ya, memang mungkin punya anak lagi di usia saya sekarang. Umur saya dua puluh satu, Pak. Jadi orang sering kira itu anak saya.”
Pak Dewa manggut-manggut. “Ah… begitu. Lalu ibunya… sekarang di mana?”
Pertanyaan itu membuat Ayyara terdiam. Bibirnya sempat bergerak tapi suaranya tertahan. Beberapa detik kemudian ia menjawab pelan, “Ibu saya… sudah meninggal, Pak. Beberapa bulan lalu.”
Dalam sepersekian detik, ruangan yang tadinya berisik karena bayi, kerjaan, dan candaan langsung sunyi. Tini menunduk. Kayla berhenti menggoyang-goyang kursinya. Revan yang tadinya makan gorengan langsung letakkan plastiknya.
Pak Dewa menatap penuh empati, nada suaranya turun. “Maafkan saya. Saya tidak tahu.”
Ayyara menggeleng, tersenyum tipis meski matanya berkabut. “Tidak apa-apa, Pak.”
Calista masih tidur pulas, tenang di kursi panjang. Tapi kali ini, tidak ada yang menggoda, tidak ada yang bertanya macam-macam. Semua pelan-pelan kembali bekerja… dengan pandangan yang sedikit berubah pada Ayyara.
Dan di sudut ruangan, Tini hanya berbisik lirih, “Pantesan keliatan kelelahan…”
---
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
