Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Predator

1.4K 108 8
                                        

Pagi itu kantor terasa lebih sepi dari biasanya.

Vanya tidak masukdemam tinggi.
Dan Erika baru menyadarinya setelah duduk di kursi eksekutifnya.
Ia memanggil Ayyara lewat interkom.
“Ay, kamu bisa masuk sebentar?”
Beberapa menit kemudian Ayyara masuk dengan laptop dan berkas meeting.
“Vanya gak masuk, jadinya hari ini kamu yang dampingi aku,”
kata Erika sambil membuka agenda di tablet.

Ayyara mengangguk.
“Iya, Bu Erika.”
ia menyengir.

Erika melirik tajam.
“Kamu pikir lucu?”

Ayyara menutup mulut menahan senyum.
Tadi malam Erika super clingy, sekarang kembali ke mode CEO galak.
Kontrasnya luar biasa.

.

Pukul 10.00 tepat, sekretaris cadangan mengetuk pintu.

“Bu Erika, Pak Albert sudah datang.”
Erika berdiri.
“Ayo kita ke ruang rapat.”

Ayyara berjalan di belakangnya sambil membawa semua dokumen.
Begitu pintu ruang rapat dibuka, pria berperut rata, tampan matang sekitar 40-an, duduk menyilangkan kaki sambil tersenyum.

Albert.

Ia berdiri sambil merentangkan tangan.
“Erikaaa… semakin hari semakin mempesona.”
Erika menyambut dengan jabat tangan formal.
“Selamat pagi, Pak Albert.”

Albert menatapnya dengan cara yang terlalu intens untuk profesional.

Ayyara di belakang mengangkat alis:
Baru 10 detik udah mulai modus…
Namun sebelum Erika sempat duduk, pintu ruang meeting terbuka, patner Albert

“Oh ya, hari ini saya membawa rekan baru. Ia akan memimpin joint investment kita ke tahap implementasi.”

Pintu kembali terbuka lebar.

Seorang pria menampakkan diri sambil menenteng tablet dan kunci mobil.
Langkahnya rapi, percaya diri, wangi parfumnya sampai ke kursi Erika.
Erika mematung.

Ayyara ikut freeze.

Aditya Pratama.
TAMA.
Mantannya Erika.
Mantan tunangan, bahkan hampir menikah.

Tama tersenyum kecil—senyum yang terlalu tenang untuk orang yang baru saja muncul kembali setelah bertahun-tahun.

“Lama tidak bertemu, Erika.”
Erika terdiam sesaat… tapi matanya tetap netral.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan balik.
Hanya tatapan sedingin dokter bedah yang baru melihat hasil lab pasien.

Tama menoleh pada Ayyara.
“Dan kamu… Ayyara, kan?”
Ayyara berusaha sopan.
“….Iya, Pak.”
Tama tersenyum ramah.
“Terakhir kita ketemu di mall yah. Kayla bilang kamu sepupunya.”

Ayyara mengangguk dengan bingung.
Jadi  kak Kayla pernah ngomong ke Tama?

Kenapa juga kak Kayla bilang aku sepupunya??

Erika hanya mendengarkan tanpa berkedip.
Tangannya mengeras di pinggir meja.
.

Rapat dimulai.

Materi pertama berjalan normal—strategi pipeline, schedule, budget, timeline.

Tapi ada polusi lain di ruangan:
Rayuan Pak Albert.
Albert meletakkan siku di meja sambil menatap Erika.
“Erika… kamu tetap ya, aura CEO-nya bikin ruangan panas.”
Erika datar.
“AC kita 18 derajat, Pak Albert.”
Ayyara hampir ketawa.
Tapi Albert tidak menyerah.
“Well… 18 derajat pun bisa mencair kalau kamu di dalam ruangan ini.”

Ayyara langsung menunduk, pura-pura fokus pada laptop.
Pak ini gombalnya kelas internasional.
Dan Tama…

berbeda dengan Albert, tidak banyak bicara.
Ia hanya terus memperhatikan Erika.
Setiap kali Erika bicara, Tama merekam dengan matanya.
Sedikit nostalgia.
Sedikit menyesal.
Sedikit… rasa memiliki yang belum hilang.
Dan itu jelas terlihat.
Ayyara sadar, sangat sadar.
Oke… ini mulai bahaya.
.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang