malam outing itu mengubah segalanya. Ketika Erika mabuk dan hampir dibawa oleh Pak Dewa, Ayyara maju dengan tatapan tegas, menolak dengan sopan tapi keras. Erika masih samar-samar ingat, bagaimana suara istrinya terdengar begitu yakin, bagaimana tangannya menggenggam erat, seolah berkata: “Aku di sini. Aku yang akan menjaga kakak.”
Sejak saat itu, sesuatu bergetar dalam diri Erika. Ia mulai melihat Ayyara bukan hanya sebagai pasangan hidup, tapi sebagai seseorang yang begitu berharga.
Perubahan itu jelas terasa di rumah. Erika yang dulu acuh, sekarang mulai memperhatikan hal-hal kecil. Saat Ayyara sedang serius bekerja, Erika diam-diam menyelipkan segelas air putih di meja. Jika Ayyara pulang lebih dulu, Erika akan mampir membeli jajanan kesukaannya.
Pernah suatu malam, Ayyara sedang duduk membaca buku di sofa, sementara Erika mondar-mandir di dapur, berusaha membuat mi instan.
“Kak Eca ngapain dari tadi berisik banget?” tanya Ayyara tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
“Masak” jawab Erika singkat.
Tak lama kemudian, Erika keluar dengan dua mangkok mi yang asapnya masih mengepul. Tapi ekspresi Ayyara langsung berubah ketika melihat taburan bubuk cabai yang terlalu banyak.
“Kak… ini mi atau lahar Merapi?”
Erika terkekeh gugup. “kupikir kamu suka pedas.”
Ayyara menatapnya sejenak, lalu mendesah pasrah sambil mencicipi sedikit. Lidahnya langsung kepedasan. Erika buru-buru memberikan segelas air. Alih-alih marah, Ayyara tertawa di sela-sela kepedihannya, membuat Erika ikut tertawa sambil berkata, “pedes yah?.”
Ayyara hanya melirik.
"Pake tanya lagi"
Dan berakhir mereka memesan makanan secara online.
.
Perubahan sikap Erika juga terlihat jelas oleh Kayla dan Revan. Mereka tahu Erika sebagai sosok yang kaku, jarang menunjukkan emosi. Tapi kini, setiap kali nama Ayyara muncul, wajah Erika jadi lain—lebih lembut, lebih hidup.
Kayla menatap Erika sambil menyipitkan mata. “Ca jujur aja. Lo kenapa tiap kita ngomongin Ayyara, muka lo langsung kayak orang habis nonton drama Korea episode terakhir tau gak.”
Erika terbatuk, hampir tersedak dengan kopinya. “Apaan sih, Kay. Nggak ada hubungannya.”
Revan menambahkan, “Ah, jangan bohong. Gue saksi mereka tiap kali jemput Calista. Nih anak langsung gugup ampe nabrak meja yang bahkan gak pernah pindah tempat."
Kayla langsung menimpali dengan tawa keras, “HAH! Jadi itu alasannya kamu tadi jalan pincang. Kupikir sepatumu kepeleset, ternyata hatimu yang kepeleset.”
Erika membuang wajahnya, setengah malu setengah kesal. “Kalian tuh… mulutnya suka seenaknya.”
Tapi Kayla dan Revan hanya makin menggoda. “Nggak apa-apa, Ca. Kami malah seneng lihat kamu berubah. Jujur aja, sejak outing kemarin, kamu lebih manusiawi. Dulu kan kayak robot dingin. Eca bucin has comes?!.”
Erika tak bisa menahan senyum. Dalam hatinya ia sadar, teman-temannya benar. Ia memang jatuh cinta lagi pada Ayyara—istrinya sendiri.
.
Malam itu, setelah teman-temannya pulang, Erika duduk di samping Ayyara di sofa apartemen. Ayyara sedang fokus menulis sesuatu di laptop, tapi Erika hanya menatapnya.
“kak Eca, kenapa lihat aku begitu?” tanya Ayyara, menyadari tatapan itu.
Erika tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Aku cuma liatin kerjaanmu.”
Ayyara terdiam sejenak, lalu menghela napas sambil tersenyum. “kenapa? Kurang emang ngasih revisian ke aku?”
Erika langsung tergelak. “mangkanya kerjaiin laporan tuh yang bener, jangan ngerumpi aja kerjaannya dikantor”
Ayyara hanya menoleh, pura-pura kesal. padahal ia gerogi ditatap oleh Erika.
.
Semakin larut apartemen terasa tenang. Lampu ruang tamu temaram, hanya menyisakan cahaya hangat yang membuat ruangan seakan lebih dekat.
Ayyara masih duduk bersandar di sofa, rambutnya tergerai, sambil memegang secangkir teh hangat. Erika duduk di seberang, tapi pandangannya jelas-jelas tak pernah lepas dari istrinya.
Ayyara merasa tatapan itu—tajam, tapi juga dalam, seolah mengupas lapisan yang selama ini ia sembunyikan.
“Kenapa sih kak. Kak eca masih sehat kan?” tanya Ayyara, berusaha terdengar tenang, padahal hatinya berdebar tak karuan.
Erika tersenyum samar. “Aku baru sadar… kamu cantik sekali malam ini.”
Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi cukup membuat wajah Ayyara memanas.
Mata Erika turun perlahan, berhenti di bibir Ayyara. Ada sesuatu di sana yang membuatnya sulit berpaling—lekuknya, warna merah muda yang lembut, bahkan cara Ayyara menggigit pelan bibir bawahnya saat gugup.
Ingatan tentang aroma khas Ayyara—perpaduan sabun mandi dan wangi lembut parfumnya—menyeruak lagi, aroma yang dulu selalu menenangkan, kini justru membuat Erika gelisah.
Ayyara berusaha mengalihkan pandangan, tapi tubuhnya malah bereaksi berbeda. Panas merayap dari leher hingga telinga. Ia bahkan merasa napasnya tidak beraturan, hanya karena perhatian penuh dari Erika.
“kak… udah ih jangan lihat aku kayak gitu,” bisiknya lirih.
Erika bangkit, melangkah perlahan mendekat. Ia berhenti tepat di depan Ayyara, menunduk sedikit hingga jarak wajah mereka nyaris bertemu. “Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyanya, suaranya rendah dan penuh maksud.
Ayyara terdiam. Ia ingin berkata tidak, ingin menolak, tapi tubuhnya justru membeku. Matanya tanpa sadar menatap balik, lalu turun ke bibir Erika. Ada tarikan halus, magnet yang seolah menyeretnya lebih dekat.
Dan saat Erika mendekatkan wajahnya, jarak itu runtuh. Udara di antara mereka dipenuhi wangi yang familiar, ditambah detak jantung yang sama-sama tak terkendali. Ayyara sempat menahan napas, tapi begitu bibir Erika menyentuh lembut bibirnya, seluruh pertahanan runtuh.
Ciuman itu awalnya pelan, penuh ragu, tapi dengan cepat berubah lebih dalam—bergairah, seolah menyalurkan semua perasaan yang selama ini terpendam.
Erika menahan wajah Ayyara dengan kedua tangannya, sementara Ayyara, yang awalnya kaku, akhirnya menyerah pada perasaan aneh yang sejak tadi menguasai tubuhnya.
Sampai akhirnya, tanpa sadar, mereka terbawa situasi. Sofa yang tadinya hanya tempat duduk sederhana kini menjadi saksi, bagaimana dua orang yang sudah lama menikah, tapi baru kali ini benar-benar saling menginginkan, larut dalam momen penuh gairah yang tidak pernah mereka rencanakan.
.
.
.
Happy Weekend 🤏
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Genel KurguTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
