Mobil berhenti pelan di depan rumah.
Mesin dimatikan.
Tapi tidak ada yang langsung bergerak.
Di kursi belakang Ayyara masih diam.
Erika tertidur di bahunya, napasnya pelan, wajahnya jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.
Seolah semua yang berat tadi… hanya keluar sebentar, lalu menghilang bersama lelahnya.
Erina menoleh ke belakang.
“Udah sampai,” katanya pelan.
Ayyara mengangguk kecil.
Tapi tidak langsung membangunkan.
Tangannya masih menggenggam jemari Erika.
Seperti takut… kalau dilepas, semuanya ikut hilang.
“Gue bantu angkat,” kata Erino akhirnya, membuka pintu.
Ayyara pelan menggeser posisi.
“Pelan ya…”
Erino mendengus kecil.
“Iya, gue bukan tukang pindahan.”
Tapi tetap hati-hati.
Erika sedikit bergerak saat diangkat.
“Hmm…”
Matanya setengah terbuka.
“Ayyara…” gumamnya lirih.
“Aku di sini,” jawab Ayyara cepat.
Erika terlihat tenang lagi.
Lalu kembali terlelap.
Mereka membawanya masuk.
Rumah sudah lebih sepi.
Lampu masih menyala di beberapa sudut.
Erina membuka pintu kamar.
“Taruh sini aja.”
Erino meletakkan Erika perlahan di ranjang.
Ayyara langsung merapikan posisi Erika, menarik selimut, memastikan dia nyaman.
Tangannya otomatis menyentuh wajah Erika sebentar.
Lembut.
“Udah. Kita keluar dulu,” bisik Erina.
Ayyara mengangguk.
Erino sempat melirik, lalu nyeletuk pelan,
“Dia kalau bangun bakal malu sih.”
Erina langsung menariknya keluar.
“Udah, jangan ganggu.”
Pintu ditutup pelan.
Kamar kembali hening.
Hanya ada suara napas Erika.
Ayyara berdiri di sisi ranjang.
Menatap.
Lama.
Semua yang Erika katakan tadi… berputar di kepalanya.
Tentang takut.
Tentang masa lalu.
Tentang tidak ingin mengulang kesalahan.
Dan… kalimat itu.
aku tuh sayang banget sama kamu.
Ayyara menelan pelan.
Ia duduk di tepi ranjang.
Tangannya kembali mencari tangan Erika.
Menggenggam.
Kali ini bukan karena takut.
Tapi karena… ingin.
“Kamu tuh…” gumam Ayyara pelan.
Erika tidak menjawab.
Masih tertidur.
“Ternyata serumit itu ya…” lanjutnya lirih.
Ia tersenyum kecil.
Sedikit pahit.
“Aku kira kamu cuma… dingin aja.”
Hening.
Ayyara menunduk.
Jempolnya mengusap pelan punggung tangan Erika.
“Aku gak mau kamu takut sendirian,” bisiknya.
Kalimat itu… lebih seperti janji.
Beberapa detik.
Ayyara berdiri.
Mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di samping ranjang.
Ia berjalan ke arah pintu.
Berhenti.
Menoleh sekali lagi.
Erika masih sama. Tenang.
Tapi sekarang—
Ayyara melihatnya… dengan cara yang berbeda.
Bukan hanya sebagai seseorang yang kuat.
Tapi seseorang yang… pernah rapuh.
Dan mungkin… masih.
Ayyara kembali ke ranjang.
Bukan keluar.
Ia berbaring di samping Erika.
Pelan.
Hati-hati.
Tangannya melingkar ke lengan Erika.
Mendekat.
Seperti biasanya.
“Besok kita ribut lagi juga gapapa…” gumamnya pelan, setengah bercanda.
“Tapi jangan kabur lagi ya…”
Hening.
Tidak ada jawaban.
Tapi entah kenapa—
Ayyara merasa… didengar.
Dan malam itu—
Untuk pertama kalinya setelah semua konflik itu—
Mereka tertidur…
bukan dalam jarak.
Tapi dalam diam yang saling mengerti.
.
Dini hari.
Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari sudut ruangan.
Hening. Hangat.
Erika perlahan membuka mata.
Kepalanya masih sedikit berat, tapi kesadarannya sudah kembali utuh.
Hal pertama yang ia lihat Ayyara.
Tertidur di sampingnya.
Wajahnya tenang, napasnya pelan, tangannya masih setengah melingkar ke arah Erika.
Erika diam sejenak.
Menatap.
Lama.
Seolah memastikan… semua yang tadi malam benar terjadi.
Perlahan, ia mengangkat tangannya.
Menyingkirkan sedikit rambut yang jatuh di wajah Ayyara.
Lalu… tanpa banyak pikir Ia mendekat.
Mencium Ayyara.
Lembut.
Singkat.
Penuh rasa yang… lebih tenang dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
