.
Erika berdiri di sana, menatap lurus ke arah tangan Adam yang masih menggenggam erat jemari Ayyara di atas meja pantry. Aura dingin yang mematikan langsung menguar hebat dari tubuh sang mantan atasan pusat, membuat suhu di dalam pantry mendadak terasa seperti kutub utara.
Erika berdiri mematung di ambang pintu pantry. Kedatangannya ke kantor pusat hari ini sebenarnya hanya untuk mengambil beberapa berkas proyek lama yang tertinggal di ruang arsip berkas yang ia butuhkan sebagai senjata untuk membersihkan namanya dari sistem audit. Ia sama sekali tidak menyangka akan disambut oleh pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat.
Mata tajam Erika menghunus lurus ke arah jemari Adam yang masih mencengkeram tangan Ayyara. Kalimat "aku bakal bertanggung jawab... anak yang ada di dalam kandungan kamu itu adalah anak aku" masih terngiang jelas di udara, memicu gemuruh amarah yang luar biasa di dada Erika.
"B-buu Erika..." Tini yang berdiri di depan pintu terbata-bata, wajahnya pucat pasi seperti melihat hantu.
Suara Tini membuat Adam tersentak. Ia menoleh dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari Ayyara saat menyadari siapa yang berdiri di sana. Aura intimidasi dari mantan atasannya itu begitu pekat hingga membuat nyali Adam ciut dalam seketika.
"Bu... Bu Erika?" Adam langsung berdiri tegak, membenarkan posisi kemejanya dengan gugup. "Maaf, Bu, kami sedang ada urusan pribadi..."
Erika tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam pantry. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai keramik terdengar seperti vonis mati.
Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup rapat menahan emosi yang siap meledak. Sisi Ice Queen-nya yang paling dingin kini keluar sepenuhnya.
"Urusan pribadi?" Erika mengulang kalimat Adam dengan nada suara yang begitu rendah, namun sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Erika berhenti tepat di samping meja, posisinya mengintimidasi Adam secara fisik dan mental. Ia melirik sekilas ke arah Ayyara. Ia bisa melihat mata istrinya yang berkaca-kaca, wajahnya yang pucat karena mual, dan biskuit gandum di atas meja. Hati Erika berdenyut sakit melihat kondisi Ayyara yang harus menahan beban ini sendirian di Jakarta.
Erika kembali menatap Adam, tatapannya begitu menusuk hingga Adam terpaksa menunduk.
"Saya rasa saya tidak salah dengar tadi," ucap Erika dingin, melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu bilang... kamu mau bertanggung jawab atas kandungannya Ayyara?"
"Bu, maaf, ini masalah internal kami-"
"Jawab pertanyaan saya, Adam," potong Erika tajam, suaranya naik satu oktav, memotong kalimat Adam tanpa ampun. "Kamu tahu persis apa konsekuensinya menyebarkan rumor menjijikkan seperti itu di lingkungan kerja? Atau kamu memang sengaja memanfaatkan kondisi rekan kerja kamu yang sedang sakit untuk jadi pahlawan kesiangan?"
"Bukan begitu, Bu'Er!" Adam panik, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. "Saya cuma mau melindungi Ayyara dari gosip kantor. Saya siap nikahin dia kalau emang itu anaknya-"
"Keluar."
Satu kata dari Erika menyela ucapan Adam. Pendek, namun mutlak.
"Tapi Bu-"
"Saya bilang KE-LU-AR!" bentak Erika, kali ini amarahnya benar-benar pecah. Ia memukul meja pantry dengan telapak tangannya hingga menimbulkan bunyi debuman keras yang membuat Adam melompat mundur karena terkejut.
"Tinggalkan ruangan ini sekarang juga, atau saya sendiri yang akan memastikan surat pemecatan dan tuntutan pencemaran nama baik sampai ke meja kamu dalam waktu lima menit!"
Adam tidak berani berkutik lagi. Dengan wajah merah padam karena malu dan takut, ia langsung melesat keluar dari pantry, melewati Tini yang buru-buru memberi jalan.
Begitu Adam menghilang, Erika langsung berbalik menutup pintu pantry rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Begitu kunci berputar, seluruh ketegangan profesionalnya menguap. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang teramat khawatir pada istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficción GeneralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
