Ketidakhadiran Erika selama beberapa hari itu terasa… aneh.
Bukan karena Erika biasanya tidak pernah cuti — tapi karena saat Erika tidak ada, ritme kantor seperti kehilangan poros.
Meja Erika kosong. Lampunya mati. Ruangannya sunyi.
Tim saling pandang.
“Bu' Er ke mana?”
“Katanya cuti mendadak.”
“Dia? Cuti?”
Kalimat itu saja sudah terdengar janggal.
Di sisi lain, Tama dan Albert tidak menerimanya dengan tenang.
Hari pertama tanpa Erika, mereka masih sabar.
Hari kedua, chat mereka mulai memanjang.
Hari ketiga, tone berubah.
📱 Tama: “Ini mau kita terusin atau gimana?”
📱 Albert: “Timku nunggu approval.”
📱 Tama: “Kalau lama begini, kita bisa jalan sendiri.”
Erika tidak membalas.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang lebih penting dari pekerjaan.
Dan itu membuat Tama dan Albert — yang terbiasa selalu menjadi prioritas — merasa tersinggung.
Hasilnya muncul keesokan harinya.
Saat Erika kembali masuk kantor.
Ia bahkan belum sempat menaruh tasnya, ketika Tama sudah berdiri di depan mejanya.
Albert menyusul di belakangnya.
“Finally,” kata Albert setengah bercanda tapi nadanya tajam. “The queen is back.”
Erika menatap mereka datar.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Tama menyodorkan tablet.
“Kamu tahu ini sudah lewat deadline, kan?”
Erika membaca cepat.
“Ini belum saya approve karena data ROI-nya belum lengkap.”
Albert mengangkat alis.
“Kami kirim tiga hari lalu.”
“Versi yang salah,” jawab Erika tenang. “Saya sudah kirim feedback sebelumnya.”
Tama menghela napas keras.
“Kamu cuti tanpa bilang ke partner proyek.”
“Saya bilang ke manajemen,” jawab Erika datar. “Dan itu cukup.”
Nada itu membuat Albert tersenyum tipis — bukan senyum ramah.
“Kamu berubah.”
Erika menatapnya.
“Tidak. Saya bukan power ranger Tam”
Ayyara, yang duduk tidak jauh dari situ, mendengar semuanya.
Dan jujur — itu membuat dadanya mengencang.
Bukan karena cemburu.
Tapi karena lelah.
Ia lelah melihat Erika selalu harus berhadapan dengan orang-orang yang merasa berhak atas waktunya.
Tama mencondongkan tubuh sedikit ke arah Erika.
“Kita ada meeting follow-up jam satu. Di luar kantor.”
Erika mengangguk.
“Oke.”
Nada profesional.
Bersih.
Tapi Ayyara tetap kesal.
Bukan karena Erika salah.
Tapi karena dunia terus menarik Erika ke arah yang membuat Ayyara merasa… harus selalu berbagi ruang.
Saat Tama dan Albert pergi, Ayyara menghampiri.
“Kamu tahu mereka sengaja bikin kamu kerja rodi, kan?”
Erika menatapnya.
“Aku tahu.”
“Kok kamu tetap ladenin?”
Erika menatap layar komputernya sebentar, lalu ke Ayyara.
“Karena kalau aku tidak pegang kendali, mereka akan mengacak-acak semuanya.”
Ayyara mendengus kecil.
“Kadang aku ingin kamu sedikit lebih egois.”
Erika menoleh.
“Khusus ke siapa?”
Ayyara terdiam.
“Ke aku.”
Erika menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Aku sedang belajar.”
Dan entah kenapa, jawaban itu membuat kesal Ayyara sedikit… turun.
Sedikit.
.
Coffee shop itu tenang, terlalu tenang untuk tiga orang dengan sejarah.
Albert sudah duduk lebih dulu, laptop terbuka, espresso di sampingnya.
Tama datang tepat waktu, seperti biasa.
Erika datang terakhir — bukan terlambat, tapi jelas disengaja.
Ia duduk di samping Albert, bukan di depan Tama.
Albert tersenyum kecil.
“Kalian ini selalu konsisten. Bahkan dalam cara duduk.”
Erika menoleh.
“Kalau mau mulai meeting, kita mulai.”
Albert terkekeh, menutup laptop setengah.
“Langsung kerja ya. Baik.”
Ia memulai presentasi ringan tentang konten lapangan padel.
Erika mencatat.
Tama diam.
Beberapa menit berlalu, Tama akhirnya bicara — tapi bukan tentang project.
“Kamu terlihat capek, Erika.”
Albert melirik cepat, lalu tersenyum tipis.
“Observasi yang personal untuk meeting bisnis.”
Erika tidak menoleh ke Tama.
“Ada yang mau ditambahkan soal konten?”
Tama tidak menjawab itu.
“Kamu kelihatan berubah.”
Albert bersandar.
“Ah. Itu lagi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
