Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bali

836 100 4
                                        

Begitu roda pesawat menyentuh landasan, semua teman Ayyara langsung hidup. Kursi belum benar-benar berhenti aja udah pada berdiri.
“Ra, bangun. Udah sampai.”

Ayyara buka mata pelan. Bukan tidur sebenarnya, cuma merem biar gak diajak ngobrol sepanjang flight.
“Iya.”
Jawabannya pendek. Dingin. Kayak AC pesawat.
Sasa lirih ke yang lain,
“Masih mode ditinggal meeting?”
“Masih,” jawab temannya.

Di luar bandara, udara Bali hangat, agak lembab. Bau khas laut samar-samar kebawa angin.

Tasya udah nunggu sambil berdiri nyender mobil, kacamata hitam, gaya paling santai sedunia.
“Woy mahasiswa stres akhirnya turun gunung!”
Semua pelukan, ribut, ketawa.
Ayyara dipeluk juga.
.

Di mobil menuju villa, obrolan rame banget. Bahas rencana hari ini, pantai mana, kafe mana, mau foto tema apa.
Ayyara duduk dekat jendela, lihat jalan. Sawah, pura kecil, motor seliweran.

HP di tangan, layar nyala tapi gak ada chat baru.
Dia tarik napas pelan.
Baru juga beberapa jam, tapi rasanya udah kayak ditinggal seminggu.

Sampai villa.
Tempatnya luas, banyak kayu, kolam renang di tengah, lampu-lampu kuning hangat.
Teman-temannya langsung heboh keliling.

“GILA INI!”
“Foto dulu sebelum berantakan!”
Ayyara berdiri sebentar di teras, liat air kolam yang tenang.

Harusnya dia seneng.
Harusnya.
HP bunyi.

Erika: “Udah sampai?”
Cepet banget Ayyara balas.
“Udah.”
“Villanya gimana?”
“Bagus.”
Beberapa detik.
Erika: “Kamu masih marah?”
Ayyara ngetik lama.
Hapus.
Ngetik lagi.
“Enggak.”
Padahal iya.
Balasan datang lagi.
“Aku baru masuk ruang meeting. Clientnya rewel. Bisa molor.”
Ayyara liat pesan itu agak lama.
“Oke.”
Singkat. Formal. Jauh.

Erika kirim lagi.
“Aku tetep usahain nyusul.”
Kali ini Ayyara gak langsung balas. Dadanya aneh. Antara mau percaya, takut kecewa.
Akhirnya dia cuma kirim:
“Hm.”

.

Tak lama mereka duduk di ruang tengah villa. Cemal-cemil, cerita kuliah, gosip lama.
Ayyara ikut duduk tapi gak terlalu masuk obrolan.

Kayla pindah duduk di sebelahnya.
“Masih kepikiran?”
Ayyara pelan angguk.
Kayla gak bercanda kali ini.
“Dia emang tipe kerja dulu. Tapi bukan berarti gak mikirin lo.”
Ayyara gumam,
“Justru itu. Aku ngerti… tapi tetep aja kesel.”
“Wajar.”

.

Angin Bali masuk pelan lewat pintu geser. Suara serangga, air kolam, tawa temannya jadi latar.

HP Ayyara nyala lagi.
Erika: “Masih meeting. Kamu udah makan?”
Kali ini Ayyara senyum tipis.
“Udah. Kamu?”
“Belum. Abis ini mungkin.”
Ayyara langsung ketik:
“Jangan telat makan.”
Kirim.
Beberapa detik kemudian muncul:
“iyaa, sayangku.”
Dan entah kenapa, kata itu bikin hatinya lebih ringan.

Di kamar, Ayyara rebahan sendirian.
Lampu redup. Koper belum dibongkar.
Dia buka galeri. Ada foto terakhir mereka bertiga sama Calista.
Dia usap layar pelan.
“Cepet nyusul ya…” gumamnya.
.

Di luar, teman-temannya masih ketawa di ruang tengah.

Di kota lain, Erika masih duduk di ruang meeting dengan wajah lelah.
.
.

Langit Bali udah mulai berubah warna.
Biru muda jadi keemasan, angin pantai gak terlalu panas, suasana rame tapi santai.

Rombongan Ayyara duduk lesehan di bean bag pinggir pantai, meja rendah penuh minuman dingin dan camilan. Musik beach club pelan, suara ombak jelas banget.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang