Mobil

1.3K 125 13
                                        

“Daddy makin sering di rumah sakit sekarang,” ujar Daddy dalam panggilan telepon. “Teman-teman Daddt sudah gendong cucu semua. Kadang Daddy mikir… kapan giliran Papa.”
Nada suaranya datar.

Tapi Erika langsung menangkapnya.
Ayyara yang berbaring di sampingnya refleks melihat Erika. Senyumnya sopan, tapi tangannya mengencang di pinggang Erika.

Erika menggelus pundak Ayyara.
“Dad,” katanya tenang, terlalu tenang. “Itu bukan pembahasan yang ringan.”
Daddy mendengarkan. Tidak marah. Tidak memaksa.
Justru terlihat lelah.
“Daddy nggak maksa. cuma berharap.”
Dan kalimat itu—berharap—lebih berat dari perintah mana pun.

Begitu telpon tertutup  Ayyara melihat  Erika.
“Aku masih muda,” ucapnya pelan, bukan membela diri, tapi memastikan.
“Aku masih kuliah. Aku bahkan belum lulus.”

Erika mendekat, tapi menjaga jarak.
“Aku tau.”
“tapi Daddy nggak salah,” lanjut Ayyara. “Wajar kalau beliau mau cucu.”
“Aku nggak bilang Papa salah.”

Erika menyandarkan punggung ke lemari, menghela napas panjang.
“Yang aku tolak itu… idenya.”
Ayyara menoleh cepat.
“Kamu… nolak aku hamil?”
Erika langsung menggeleng.
“Bukan gitu.”
Suaranya turun. Lebih serius.
“Aku nolak dunia yang maksa kamu hamil sebelum kamu siap.”

Ayyara terdiam.
Erika melanjutkan, kali ini tanpa logika dingin yang biasa ia pakai.
“Aku tumbuh dengan tanggung jawab yang datang terlalu cepat. Aku nggak mau kamu ngalamin hal yang sama.”
Ia mendekat satu langkah.

“Kamu masih harus main, gagal, jatuh, bangun, lulus, marah sama hidup… tanpa harus mikirin nyawa lain yang bergantung sama kamu.”

Ayyara menelan ludah.
“Tapi kalau aku mau?” tanyanya pelan.
Erika terdiam lama. Matanya berubah—bukan keras, tapi takut.
“Kalau kamu mau karena kamu bener-bener mau… aku akan tanggung semuanya.”
Ia berhenti tepat di depan Ayyara.
“Tapi kalau kamu mau cuma karena tekanan Daddy, keluarga, atau status. aku nggak akan pernah izinin.”

Ayyara menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Erika yang sangat protektif bukan posesif, tapi menjaga.
“Kamu takut aku nyesel,” gumam Ayyara.
Erika mengangguk kecil.
“Dan aku takut kehilangan kamu… versi kamu yang sekarang.”

“Kalau suatu hari nanti aku hamil… kamu masih mau?”
Erika tidak menjawab cepat. Ia menarik Ayyara ke pelukannya, erat.
“Aku mau kamu,” katanya tegas.
“Dengan atau tanpa bayi. Dengan atau tanpa tuntutan siapa pun.”

Ayyara memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, tekanan tentang cucu bukan lagi tentang bayi.
Tapi tentang pilihan, waktu, dan keberanian melindungi satu sama lain.

.

Lampu kamar kost sudah redup.
Hanya satu lampu meja yang menyala, warnanya kuning hangat.

Ayyara masih memeluk Erika.
Bukan pelukan yang rapi.
Bukan pelukan tenang.
Pelukan seseorang yang seperti takut kalau melepaskan satu detik saja, sesuatu akan hilang.

Erika bisa merasakan napas Ayyara di rambutnya, di area lehernya. Hangat. Teratur. Sedikit gemetar.

Ayyara tidak bicara.
Ia hanya menghirup napas pelan, seperti ingin memastikan Erika benar-benar ada.

Erika menutup mata.
Ia biasanya tidak suka disentuh terlalu lama.
Tapi kali ini… ia tidak ingin Ayyara menjauh.

Tangannya naik perlahan, menyentuh punggung Ayyara. Awalnya ragu. Lalu menekan sedikit lebih erat.
“Ay…” suaranya pelan, hampir bergetar. “Kamu kenapa?”

Ayyara menggeleng kecil, masih memeluk.
“Gak apa-apa. Aku cuma… pengen kamu dekat.”

Kalimat itu sederhana. Tapi membuat dada Erika menghangat dengan cara yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Ia menyentuh dahi Ayyara dengan dahinya sendiri.

Hening.

Lalu sebuah sentuhan kecil  tidak penting secara logika, tapi penting secara perasaan.

Ayyara mencium dada Erika.
Bukan ciuman yang besar. Hanya sentuhan singkat. Seperti refleks.
Erika menahan napas.

Ayyara kemudian mencium Leher Erika.
Lalu berhenti.
Seperti menyadari jarak mereka terlalu dekat.
Erika tidak mundur.
Ia malah mengangkat wajah Ayyara sedikit, membiarkan jarak itu ada.

“Ayyara…” bisiknya. Bukan peringatan. Bukan permintaan.
Hanya panggilan.

Ayyara menatapnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, tatapan Ayyara bukan marah, bukan kesal, bukan sedih.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
Lebih berbahaya.

Erika merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena takut  tapi karena ia sadar:
ia ingin Ayyara menginginkannya.
Dan itu bukan hal yang biasa bagi Erika.

Tangannya menguat di lengan Ayyara.
“Ay… kamu jangan lihat aku kayak gitu,” ucapnya pelan.
“Kenapa?”
“Karena aku jadi…”
Ia berhenti. Tidak tahu kata yang tepat.
“… jadi gak bisa mikir lurus.”

Ayyara tersenyum kecil. Bukan senyum nakal. Tapi senyum seseorang yang juga sedang kehilangan kendali sedikit demi sedikit.

“Terus kamu mau aku berhenti… atau kamu mau aku tetap di sini?”
Pertanyaan itu tidak mengancam.
Tidak mendesak.
Hanya jujur.
Erika tidak menjawab.

Ia hanya memeluk Ayyara lebih erat.
Dan itu jawabannya.

Ayyara kembali mengendus bagian-bagian sensitif Erika.
Erika merasakan sensasi mengelitik, pasalnya bibir Ayyara yang plumpy itu sangat lembut dan sedikit basah. Semakin terasa di kulit Erika.

Erika yang terbawa suasana, membuat tanggannya semakin merajalela dipunggung Ayyara.

Mereka terbawa suasana gairah yang mengasyikan.
Tak tahan dengan itu, Erika menekan Ayyara agar berbaring. Dengan kecepatan kilat Erika sudah berada di atas Ayyara, bertompangkan tanggan menahan tubuhnya.

Erika memandangi wajah Ayyara yang memerah akibat gairahnya.
Tanpa pikir waktu Erika dengan nafsunya mencumbu Ayyara hingga Ayyara mengerang.

Erika reflek menutup mulut Ayyara, khawatir akan terdengar kamar sebelah
"Sstttt. Kan aku udah bilang dari awal, kita ke hotel aja" cemberutnya Erika.

"aku gak kepikiran sampe sana kak" cicit Ayyara.
"Yaudah yukk pindah ke hotel"
"Aku punya ide" jawab cepat Ayyara

Ayyara memakai jaket dan mengambil kunci mobil, Erika menggekor karna memang masih ada sisa-sisa kegiatan tadi.

Mereka memasuki area parkir mobil, gak ada siapapun.

"Aku sambil reservasi dul.." handphome Erika diambil paksa oleh Ayyara.
"Gak usahh kak"
"Langsung on the spot?"

Ayyara melihat sekitar luar mobil.
"Amaaan"
"Aman!? Emang kita mau maling?"

Tanpa aba-aba, Ayyara langsung menyerang Erika dengan cara pindah duduk di pangkuan Erika.
"Ayyara? Kamu ngapain?" Kagetnya

Ayyara tak menjawab Erika, ia semakin berani untuk membuka resliting jaket Erika.

"disini banget Ay?" Erika tak habis pikir dengan ide Ayyara.

"Banyak yang bilang seru, kita cobaiin yuk kak"

"Kamu abis nonton ap.." terhenti karna Ayyara langsung melumat bibir Erika.

.
.

Malam itu tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Apa yang mereka lakukan sesuai dengan apa yang kamu pikirkan 👀 🥰

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang