"kamu bisa bangun dulu ga? kaki sama pinggang aku sakit"
kak, bisa diam ga?" Ayyara mengeluh
"tapp,"
"sttt kak ih. kamu berisik banget kak. biarin seperti ini dulu lima menit aja." Ayya membenamkan kepalanya di dada Erika.
lima menit berlalu, Erika merasakan beribuan kakinya di hinggapi mahluk kecil. Erika kesemutan.
tetapi dilain sisi ia menyukai kehangatan yang diberikan oleh Ayyara.
tiga puluh menit berlalu, terdengar dengkuran pelan dari Ayyara.
dan yaapp Ayyara tertidur di atas Erika. bagaimana mungkin Ayyara bisa tertidur dengan mudahnya padahal Erika merasakan kaki dan pinggangnya seperti tertusuk ribuan jarum.
tak lama Ayyara bergerak, membuat Erika makin tersiksa karna kakinya menyangkut diantara meja dan sofa.
dalam hitungan detik ketika Ayyara ingin beranjak dan tak sengaja menekan kaki Erika
kreeek tak!
"AAWWWWHHHH kakikuu" Erika berteriak
"kak Ecaaa?"Ayyara langsung memeriksa kaki Erika yang sudah sedikit membengkok.
"JANGAN DIPEGANG!" teriak cepat Erika
Ayyara terkejut setengah mati dengan teriakkan Erika. ia terdiam dengan wajah pucat pasi.
"telpon Nana sekaranggg!" Erika belum bisa bangun dari saofa, karna pingangnya juga sakit.
Setelah Ayyara menelpon Erina. Ia mengonpres kaki Erika dengan air suhu ruang.
Erika hanya memejamkan mata tertahan menahan rasa sakit. Ia malu jika meringis di depan Ayyara.
Satu jam berlalu Erina sampai. Ia terkikik melihat Erika dengan wajah memerah menahan tangis. Mata berkaca-kaca.
"Ca, gue dokter yaah. Bukan tukang urut" Erina cekikikkan.
"Lu dokter percaya tukang urut na?" Sinis Erika
"Gue dokter bedah, gue ngeoperasi, ngejait. Apa perlu mulut lo gue jait?" Nyinyir Erina
"Gak guna emang, kamu ngapain telpon dokter gadungan ini Ayyara"
"Tadi kakak kan yang nyuruh telpon kak nana" polos Ayyara.
Erina tertawa terbahak-bahak
Kreeekk
Pintu kamar terbuka
"Hiks, hiks mamammmaaa"
Calista terbangun karna suara tawa Erina.
"Lo berisik sih Naa" Erika melempar bantal sofa tepat di wajah Erina.
Dengan cepat Ayyara kembali menidurkan Calista.
.
.
"Lo abis ngapain emangnya sampe keseleo gini Ca?"
"Yaa menurut lo aja?"
Setelah di suntikkan pereda nyeri.
Erika tampak lebih tenang. Rasa kantung mulai menyerang.
"Gue tidur di sini ya. Gue gak minta persetujuan, gue cuma kasih informasi" ketus Erina.
Erika masuk dan kembali keluar dari kamarnya memberikan bantal serta selimut ke Erina, tanpa bicara sepatah kata.
"Gue gamau tidur di sofa yaah, gue tidur sama Calista aja."
"Ter-se-rah" Erika.
.
.
Pagi telah tiba.
Ayyara menggalami kesulitan bernafas.
'Kok gabisa gerak? Ketindihan nih?. Yatuhann' Ayyara bahkan kesulitan bernafas.
Serrttt !plak!
Sebuah tangan bergerak dengan cepat menyeret bagian wajah dari dagu hingga ke mata.
"Waaaaah mati suriii gueee!!" Teriak Ayyara
Ayyara menangkap ternyata cuma tangan di wajahnya
"Eh! Ohhh, cuma tangan. Whatt?!! Tangan siapa ini?" Bergerakk memindahka tangan, melihatnya dan berbalik dann ternyata,
Erika memeluknya dengan erat. Seolah Ayyara sebuah guling yang menghasilkan rasa kehanggatan.
Ayyara begitu terkejut, ia melepaskan diri dengan cara tergesah-gesah.
"ARRRGGGHHHHH!! SAKITTT!" Erika berteriak sangat keras, kaki keseleo nya di lempar begitu saja oleh Ayyara.
Air mata Erika mengalir cukup banyak.
Daaan terjadilah kegaduhan pagi-pagi ini.
"Kak, Maaaaafff"
Ayyara mendekati Erika
.
.
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiction GénéraleTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
