Sudah tiga hari sejak malam itu.
Udara rumah terasa berbeda, lebih tenang, tapi juga lebih hati-hati.
Erika kembali ke ritme kerjanya yang padat, sementara Ayyara sibuk di lokasi shooting berikutnya.
Mereka tidak lagi bertengkar, tapi juga tidak banyak bicara.
Seolah masing-masing sedang belajar menata ulang cara berbicara satu sama lain.
Pagi itu, Erika duduk di meja makan sambil menatap laptopnya, rambut masih sedikit acak, kaus putih longgar, tanpa riasan.
Ayyara datang dari dapur membawa dua cangkir kopi.
“Aku buat tanpa gula,” katanya pendek sambil meletakkan salah satu cangkir di depan Erika.
Erika hanya melirik sebentar, lalu menutup laptopnya pelan.
“Kamu masih ada jadwal shooting hari ini?”
“masih, Sore ini cuma briefing,” jawab Ayyara.
Hening sejenak.
Ayyara duduk di seberang, menatap kopi yang masih beruap.
Sebenarnya ia ingin bilang sesuatu tentang bagaimana perasaan lega itu berubah jadi rindu, tentang betapa rumah ini terasa terlalu besar kalau mereka sibuk masing-masing.
Tapi seperti biasa, kata-kata itu berhenti di tenggorokannya.
Erika menghela napas, lalu bicara duluan.
“Aku kepikiran soal kemarin.”
“Yang mana?”
“Yang kamu bilang soal aku cuma baik karena promil.”
Ayyara menatapnya.
Suara Erika kali ini tenang, tapi dalam.
“Aku tahu itu yang kamu pikirin. Tapi gak semua hal yang aku lakuin buat kamu karena Daddy. Kadang… ya, karena aku memang pengen dan mau aja.”
Ayyara tidak langsung menjawab.
Ia hanya memutar cangkirnya perlahan, menatap pusaran kopi di dalamnya.
“Aku cuma takut aja, kak. Takut kalau aku ini cuma bagian dari rencana besar orang lain. Dari ‘keharusan’ yang kamu patuhi.”
Erika menatapnya lama.
“Aku bukan orang yang seperti itu Ayyara. Kamu tahu itu kaan.”
Ucapan itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuat dada Ayyara hangat dengan rasa yang sulit dijelaskan.
Ia menatap Erika, dan untuk pertama kalinya sejak lama, keduanya tersenyum kecil tanpa paksaan.
.
Siangnya, Ayyara sudah berangkat ke lokasi shooting.
Ia sibuk dari siang sampai malam, tapi kali ini Erika yang lebih sering mengirim pesan pendek.
Erika : “Udah makan?”
Erika : “Masih lama pulangnya?”
Erika : “Jangan lupa bawa jaket, cuaca lagi sering ujan, kamu gampang masuk angin.”
Pesan sederhana, tapi bagi Ayyara, rasanya lebih berarti dari ucapan “aku cinta kamu.”
Ia membalas singkat:
“Iya, lagi break. Kamu udah pulang?”
Erika hanya menjawab,
“Udah. Rumah sepi.”
Dan entah kenapa, kata itu—sepi—menggema lama di kepala Ayyara.
Malamnya, saat ia tiba di rumah, lampu ruang tamu masih menyala.
Erika tertidur di sofa, masih dengan kacamata yang nyaris jatuh dari hidungnya, laptop di pangkuan dan halaman Excel terbuka.
Ayyara berdiri lama, menatapnya.
Wajah yang biasanya tegas dan dingin itu kali ini tampak lembut, bahkan sedikit lelah.
Ia menunduk, menarik selimut tipis lalu menutupkan pelan di bahu Erika.
Erika menggeliat kecil, setengah sadar.
“Kamu Udah pulang?” suaranya serak.
“Iya, baru aja sampai. Lanjut tidur aja.”
“Mau aku buatin Teh hangat?”
“Gak usah kak. Besok aja.”
Ayyara hendak berbalik, tapi Erika menggenggam ujung bajunya tanpa membuka mata.
“Besok jangan berangkat pagi-pagi banget.”
“Kenapa?”
“Sarapan bareng dulu.”
Ayyara menatapnya.
Lalu mengangguk kecil.
“Oke, sekarang tidur ya. Udah malem.”
Mereka berjalan ke kamar, dengan langkah lebih ringan dari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficción GeneralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
