Ayyara tidak menunggu lift. Ia hampir berlari menaiki tangga darurat menuju lantai eksekutif dengan napas yang memburu sebuah tindakan yang sangat berbahaya bagi kandungannya, namun emosinya sudah mengalahkan logika.
Sesampainya di depan pintu ruangan Erika, ia mendapati pintu itu sedikit terbuka. Di dalamnya, Erika sedang berdiri menghadap jendela besar, menatap cakrawala Jakarta yang mulai gelap. Bahunya yang biasanya tegak, kini tampak sedikit turun. Vanya baru saja keluar dari ruangan, matanya merah, dan ia terkesiap melihat Ayyara yang berdiri di ambang pintu dengan wajah kacau.
"Ayyara..." Vanya ingin bicara, tapi Ayyara hanya mengangguk pelan, memintanya pergi. Vanya pun menutup pintu dari luar, memberi mereka ruang.
Erika tidak berbalik. Ia tahu siapa yang datang. "Kamu seharusnya nggak lari-lari, Ayy. Itu bahaya."
Suara Erika dingin, tapi Ayyara bisa menangkap getaran kecil di sana. Ayyara melangkah masuk, menutup pintu dengan bunyi klik yang tegas.
"Karawang?" tanya Ayyara pelan, suaranya bergetar. "Kakak mau pindah ke Karawang, diturunkan jabatannya, dan Kakak nggak bilang apa-apa sama aku?"
Erika akhirnya berbalik. Ia tampak sangat lelah. Wajahnya yang biasanya sempurna kini terlihat sangat manusiawi, penuh luka yang ia tutup-tutupi selama berminggu-minggu.
"Aku nggak mau kamu stres," jawab Erika datar. "Kamu lagi hamil. Masa depannya anak kita lebih penting daripada posisi aku di kantor ini."
"Masa depan anak kita?" Ayyara tertawa getir, air matanya jatuh. "Kakak pikir dengan nyembunyiin ini, Kakak melindungi aku? Kakak justru bikin aku merasa seperti orang asing di hidup Kakak! Kita baru aja dapet kabar baik dari Dokter Sarah, tapi kenapa Kakak malah nanggung beban seberat ini sendirian?"
Erika mendekat, ingin meraih tangan Ayyara, tapi Ayyara mundur selangkah.
"Aku bisa pindah. Aku bisa bolak-balik. Itu cuma kantor cabang, bukan akhir dunia," kata Erika berusaha tenang.
"Kak! Itu hukuman!" teriak Ayyara, kali ini ia tidak bisa menahannya lagi. "Mereka fitnah Kakak, dan Kakak malah pergi begitu aja tanpa ngelawan? Kakak yang aku kenal itu orang yang paling tangguh, tapi kenapa sekarang Kakak malah nyerah?"
"Aku nggak nyerah," potong Erika, suaranya naik satu oktaf, penuh dengan frustrasi yang selama ini ia tekan. "Aku cuma tahu kapan harus mundur demi keselamatan orang yang aku sayang! Kamu pikir aku nggak sakit hati? Aku yang bangun sistem ini, aku yang jaga perusahaan ini dari nol, dan sekarang mereka buang aku kayak sampah!"
Erika membanting map berisi surat kepindahan ke atas meja. Napasnya memburu. "Aku cuma nggak mau di saat kamu lagi berjuang buat anak kita, aku malah nyeret kamu ke dalam skandal kantor. Aku nggak mau anak kita lahir di tengah gunjingan orang-orang!"
Hening mencekam. Ayyara menatap Erika dengan pandangan yang perlahan berubah dari marah menjadi iba. Ia melihat istrinya yang selama ini ia anggap 'Ice Queen' yang tak tersentuh, kini hancur berkeping-keping di depannya.
Ayyara mendekat, kali ini tidak lagi ragu. Ia memeluk pinggang Erika, menyandarkan kepalanya di dada wanita itu yang berdegup kencang.
"Aku hamil, Kak," bisik Ayyara lembut, memecah keheningan. "Dan anak ini... dia bakal jadi alasan kenapa kita harus bertahan. Kalau Kakak pindah ke Karawang, aku ikut. Aku nggak peduli jabatan Kakak apa, manajer, atau staf biasa... aku cuma mau sama Kakak."
Erika tertegun. Ia membalas pelukan Ayyara dengan sangat erat, seolah takut Ayyara akan menghilang. "Kamu yakin? Kamu harus bolak-balik kalau mau kontrol ke ruma sakit.."
"Wiliam Hospital kan punya keluarga Kakak, pasti mereka bisa kasih akses telemedicine atau dokter kunjungan kalau aku nggak sanggup jalan jauh," kata Ayyara, berusaha tersenyum meski matanya masih basah. "Kita bakal tinggal di Karawang, kita bakal ngelewatin ini bareng-bareng. Kayak janji kita."
Erika memejamkan mata, membenamkan wajahnya di ceruk leher Ayyara. "Maafkan aku, Ra. Maaf karena selalu merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian."
"Mulai sekarang, jangan pernah lagi," kata Ayyara tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Ficção GeralTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
