Pagi itu terasa dingin, meski matahari sudah naik.
Suara ketel air berdenging pelan di dapur — tanda Erika sudah bangun lebih dulu.
Ayyara keluar kamar dengan mata berat, rambutnya diikat asal, masih dengan hoodie abu yang sama semalam.
Di meja, ada roti panggang, telur setengah matang, dan segelas susu yang uapnya masih menari.
Erika duduk di seberang, membuka laptopnya sambil sesekali melirik.
“Pagi,” katanya pelan.
Ayyara tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, duduk, lalu menatap sarapan itu cukup lama sebelum berkata,
“Kamu gak perlu repot-repot nyiapin ini.”
“Gak repot.” Erika menjawab datar, masih menatap layar.
“Aku cuma mikir kamu belum sempat makan semalam.”
“Jadi ini bentuk tanggung jawab lagi?”
Nada Ayyara kali ini halus, tapi penuh sindiran.
Erika mengangkat wajahnya, sedikit terkejut. “Apa maksudmu?”
“Ya, kamu tadi malam bilang capek karena harus ngurus semuanya. Sekarang kamu masak, buat apa? Biar aku inget kalau kamu masih berperan baik sebagai ‘penanggung jawab keluarga’?”
Erika menarik napas pelan, menahan diri. “Ayyara, jangan mulai pagi-pagi.”
“Aku gak mulai,” balas Ayyara cepat. “Aku cuma tanya.”
Sunyi kembali menyelimuti ruangan, hanya terdengar bunyi sendok menyentuh piring.
Ayyara akhirnya bersuara lagi, suaranya nyaris berbisik tapi menyengat,
“Aku tahu kenapa kamu tiba-tiba jadi perhatian lagi. Karena promil, kan?”
Erika menoleh cepat. “Apa?”
“Ya, Daddy kamu yang nguruh kan? Supaya kita fokus ke program’”
Erika memejamkan mata, mencoba menahan gelombang emosi yang mulai naik.
“Ayyara, jangan bawa-bawa Daddy.”
“Kenapa gak? Semua yang kamu lakukan belakangan ini kayak bukan karena kamu mau. Tapi karena Daddy yang tekan.”
“Enggak begitu—”
“Lalu kenapa kamu mendadak kaya gini? Apa daddy semalam telepon lagi? Setelah itu kamu tiba-tiba jadi manis.”
Ayyara tersenyum sinis. “Seolah aku proyek.”
Erika menatap kosong ke arah meja. “Kamu tahu gak, semua yang aku lakuin—"
“Aku tahu,” potong Ayyara cepat, “tapi itu semua hal yang bisa dilakuin siapa aja. Siapa pun bisa bayar uang kuliah, siapa pun bisa belanja bulanan. Tapi cuma kamu yang bisa bilang ‘aku sayang kamu’, dan kamu gak pernah.”
Erika menggenggam cangkirnya, jari-jarinya gemetar.
“Kalau aku gak sayang, aku gak akan di sini,” katanya lirih.
“Kalau kamu sayang, kamu akan bilang,” balas Ayyara dengan mata berair.
“Cuma itu bedanya, kak. Aku gak butuh kamu buat tanggung jawab, aku butuh kamu karna kamu”
Udara di dapur semakin berat.
Erika menatap Ayyara, suaranya mulai serak, “Kamu pikir semudah itu buat aku? Aku gak tumbuh di rumah yang ngomong cinta setiap hari. Aku belajar tanggung jawab dulu, baru perasaan. Aku gak tahu cara ngomong kayak kamu.”
Ayyara berdiri pelan, menahan air mata. “Kamu gak perlu belajar ngomong cinta, cuma jangan sembunyi di balik kata ‘capek’. Aku juga capek, kak. dinginnya cuma aku yang rasain.”
Erika berdiri juga, langkahnya mendekat. “Aku gak pernah maksud bikin kamu ngerasa sendiri.”
“Kalau gak maksud, kenapa terus begini?”
Mereka berdiri hanya beberapa langkah berjarak, sama-sama menahan emosi.
Erika ingin memeluk — tapi gengsinya masih tinggi, bibirnya masih terkunci.
Sementara Ayyara ingin lari — tapi hatinya masih berharap satu kalimat sederhana bisa meruntuhkan semua dingin itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
Fiksi UmumTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
