Ayyara membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan Adam. Lantai khusus fertilitas adalah area yang sangat privasi, dan tidak ada alasan logis bagi seorang staf kreatif biasa untuk berada di sana, apalagi sendirian.
"Hah? Oh, ini..." Ayyara mencoba mencari alasan, otaknya berputar cepat. "Tadi aku nemenin kakak sepupuku. Dia... dia lagi program kehamilan. Aku cuma nungguin sebentar."
Adam tampak sedikit tidak percaya, matanya menatap Ayyara dari atas ke bawah, lalu melirik ke arah lift privat yang baru saja tertutup. "Oh, gitu. Kukira kamu kenapa-kenapa. Tadi aku nganterin nyokap buat kontrol rutin."
"Iya, Dam. Kebetulan banget ya," Ayyara berusaha tersenyum semanis mungkin, meski hatinya gelisah luar biasa. "Ya udah, aku duluan ya."
Ayyara segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu rapat-rapat. Ia mengembuskan napas panjang, tangannya gemetar. Hampir saja, pikirnya.
.
.
Suasana di kantor pusat siang itu jauh dari kata normal. Erika baru saja tiba di lobi dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh Vanya yang terlihat pucat pasi. Namun, begitu mereka sampai di depan lift, langkah Erika terhenti.
Tiga orang dengan setelan jas abu-abu gelap, membawa tas kerja kulit, berdiri di depan pintu ruangannya. Di belakang mereka, ada beberapa orang dari divisi keuangan yang tampak ketakutan.
"Bu Erika," salah satu pria itu melangkah maju, memberikan kartu identitas. "Saya dari firma audit independen, ditunjuk oleh dewan komisaris. Kami menerima laporan adanya ketidaksesuaian dalam alokasi dana proyek merger tahun lalu. Kami perlu melakukan audit mendadak hari ini."
Rahang Erika mengeras. Proyek merger yang seharusnya ditandatangani hari ini tiba-tiba menjadi skandal. Ia tahu ini adalah permainan kotor dari pihak internal yang ingin menjatuhkannya tepat saat ia sedang dalam posisi rentan karena urusan pribadi.
"Audit?" suara Erika dingin dan berwibawa. "Saya baru saja akan rapat dengan investor. Kalian tidak bisa masuk ke ruangan saya tanpa izin."
"Kami punya perintah resmi dari dewan komisaris, Bu," jawab auditor itu tenang. "Kami harus menyita semua dokumen digital dan fisik terkait transaksi tersebut saat ini juga."
Erika merasa dunianya seolah terguncang. Jika audit ini berjalan tanpa pengawasannya, mereka bisa memutarbalikkan fakta dan menyeret namanya ke dalam masalah hukum yang serius.
Ia teringat Ayyara, ia teringat rencana program IVF mereka. Jika ia terseret skandal ini, rencana memiliki anak akan hancur berantakan.
"Vanya, hubungi pengacara sekarang," perintah Erika dengan suara rendah. "Dan panggil seluruh kepala divisi untuk rapat darurat. Jangan biarkan mereka mengambil berkas apa pun dari lemari brankas saya sampai saya ada di sana."
Vanya mengangguk panik, sementara Erika merasa pusing yang hebat. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Ayyara untuk memberi tahu bahwa ia akan pulang terlambat, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin Ayyara cemas dan stres di hari pertama ia seharusnya beristirahat.
Erika menatap pantulan dirinya di pintu lift. Ia harus tenang.
.
.
Ayyara sudah sampai di rumah dan mencoba beristirahat, namun perasaannya tidak enak. Ia terus menatap ponselnya, menunggu kabar dari Erika.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari Erika, melainkan sebuah notifikasi berita dari grup kantor yang tidak sengaja terbaca oleh Tini dan diteruskan kepadanya.
.
"Breaking News: EL's Creatuv dikabarkan sedang menjalani audit mendadak terkait dugaan manipulasi dana proyek merger."
Ayyara terlonjak dari kasur. Ia mencoba menelepon Erika, namun ponsel istrinya tidak aktif.
Ayyara meremas ponselnya. Ia tahu Erika sedang berjuang sendirian di sana. Tanpa pikir panjang, ia meraih jaketnya dan kunci motor kesayangannya. Ia tidak bisa diam saja di rumah saat istrinya sedang diserang. Ia harus berada di sana, entah hanya untuk sekadar memegang tangannya.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
