Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Happy New Year!

997 93 5
                                        

Ayyara duduk di pasir bersama teman-teman kampusnya. Adam berdiri tak jauh, ikut tertawa saat salah satu cerita dilempar.

“Akhirnya bisa ketemu di luar kantor juga,” kata Adam santai.
“Biasanya ketemu sambil bawa laptop.”
Ayyara tersenyum kecil.
“Iya… suasananya beda.”
“Lebih santai,” sambung Adam.
Ayyara mengangguk, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di situ.

Lalu ia melihat Erika.
Berjalan dari arah parkiran. Langkahnya mantap. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja melihat story itu.
Dada Ayyara menegang.
Adam ikut menoleh.
“eh itu bu Erika.?”
Nada itu.
Formal. Refleks. Karyawan yang sadar hierarki.

Erika mendekat, menyapa yang lain dulu. Profesional, sopan. Tidak ada kesan canggung. Baru kemudian menoleh ke Adam.
“Kamu di sini,?” katanya.
Bukan tanya. Pernyataan.
“Iya, Bu Er” jawab Adam cepat.
“Kebetulan ketemu Ayyara dan temannya.”

Ayyara menatap Erika.
Menunggu.
Erika mengangguk kecil.
“Enjoy. Tapi jangan lupa besok pagi ada call client”
Adam langsung tersenyum kaku.
“Oh iya. Siap, Bu.”
Kalimat itu ringan.

Tapi maknanya jelas: aku tahu siapa kamu, dan kamu tahu siapa aku.
Setelah Adam kembali ke kelompok, Erika mendekat ke Ayyara. Tidak menyentuh. Tidak menggurui.

“Kamu kenapa?” tanyanya.
Ayyara mendengus pelan.
“Kamu datang sebagai atasan atau sebagai istriku?”
Erika terdiam sepersekian detik.
Lalu menjawab jujur,
“Sebagai orang yang tadi salah ambil jarak.”
Ayyara menatap laut.

“Aku gak suka caranya.”
“Caraku ke Adam?” tanya Erika.
“Caramu ke aku,” jawab Ayyara lirih.
“Kamu jalan duluan sore tadi. Kamu bikin aku ngerasa… sendirian.”

Erika menarik napas panjang.
“Aku kira aku lagi jaga posisi. Ternyata aku malah ninggalin.”
Ayyara menoleh.
“Dan sekarang kamu datang karena dia?”
Erika menggeleng.
“Aku datang karena kamu.”
Sunyi sebentar.
“Aku gak keberatan kamu ngobrol sama siapa pun,” lanjut Erika.
“Tapi kalau itu orang kantor dan bawahanku aku gak mau kamu ngerasa kamu harus sendirian ngadepinnya.”
Ayyara terdiam.
“Bukan karena cemburu buta,” Erika menambahkan.
“Tapi karena kamu istriku. Dan aku harusnya berdiri di situ, dari awal.”

Ayyara menghela napas.
“Kamu sadar gak sih, aku sempat mikir kamu malu kelihatan sama aku?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari ombak.
Erika menatap Ayyara penuh.
“Kalau aku malu, aku gak akan datang ke sini. Aku gak akan nyapa. Aku gak akan ngasih batas ke Adam.”
Ia mendekat setengah langkah. Masih tanpa sentuhan.

“Aku cuma belum terbiasa,” katanya jujur.
“Punya pasangan yang masih belajar marah dengan caranya sendiri.”
Ayyara tersenyum kecil pahit.
“Dan aku belum terbiasa punya pasangan yang selalu mikir tiga langkah ke depan.”
Mereka saling pandang.
Dua dunia.
Dua usia.

Tapi satu titik yang sama: tak mau kehilangan.
Dari kejauhan, Adam melihat mereka. Ia tahu betul kapan harus mundur. Ia mengajak teman-temannya pindah posisi tanpa perlu alasan.

Pantai kembali terasa lebih lapang.
Erika akhirnya mengulurkan tangan.
“Kamu mau pulang bareng?”
Ayyara menatap tangan itu lama.
Lalu menggenggamnya.
“mauu,” katanya pelan.
“Tapi nanti kita ngobrol. Beneran ngobrol.”
Erika mengangguk.
“Deal.”

.

Sore itu berubah cepat jadi rencana dadakan.
“BBQ yuk,” celetuk salah satu teman kuliah Ayyara sambil mengangkat kantong belanjaan dari minimarket.
“Pantainya enak, anginnya pas.”

Yang lain langsung setuju. Tidak banyak mikir. Liburan memang seharusnya begitu.
Ayyara menoleh ke Erika, refleks.
Erika mengangkat bahu kecil. “Kalau kalian mau, aku ikut.”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang