Ngambek

938 91 6
                                        

Ayyara duduk di lantai ruang tamu, melipat-lipat boarding pass padahal itu e-ticket.
Mulutnya nggak berhenti.
“Meeting lagi… meeting lagi… Bali bisa pindah pulau kali ya nunggu meeting Kak Eca selesai…”

Erika melakukan Meeting Online dengan klien.
Ayyara ngomel makin pelan tapi jelas terdengar.
“Client penting. Aku nggak penting. Bali nggak penting. Liburan nggak penting. Aku cuma koper berjalan.”

Erika tutup mic voice note.
“Nggak gitu…”
Ayyara berdiri.
“UDAH TAU HARI INI BERANGKAT.”
Nada anak SMA yang dilarang ikut study tour.

Kak Nana masuk rumah.
Langsung berhenti.
Liat Ayyara berdiri dengan tangan nyilang, muka ngambek level dewa.
Nana senyum pelan.
“Ada apa ini? Kok kayak bocahnya bukan Calista?”
Ayyara langsung:
“KA NANA LIHAT TUH.”
Tunjuk Erika.
“Dia masih meeting.”

“Ohhh… ini sindrom ditinggal atensi ya?”
Erika:
“Naaa jangan ikut-ikutan…”
Nana malah duduk di samping Ayyara.
“Iya ya kasian. Udah capek ngurus rumah, ngurus koper, ngurus bayi… eh ditinggal meeting.”
Ayyara:
“NAHHH KAN!”
Erika melotot kecil.
“Apaasihh Nana…”

Nana bisik ke Ayyara tapi cukup keras biar Erika dengar:
“Biasanya yang begini tuh nanti di Bali makin lengket loh. Takut kehilangan.”
Ayyara langsung makin drama.
“Aku nggak lengket!”
Nana:
“Iya iya, cuma ngambek dari jam 7 pagi.”
Erika narik napas panjang.
“Ini meeting 30 menit lagi selesai…”
Ayyara:
“30 menit itu bisa buat packing emosi aku.”

“Kamu tuh dramanya kebanyakan.”
“YA IYA AKU MASIH MUDA.”

Nana ngakak.

Erika pegang kening.
“Kamu tuh udah 20-an bukan 12.”
“Perasaan nggak kenal umur!”
.
.
Calista digendong Nana.
Malah nepuk pipi Ayyara.
Seolah bilang: “Tante drama banget.”
Nana makin senang.
“Aduh gemes banget sih ngambeknya.”
Erika:
“Jangan didukung dong…”
.
.
Ayyara duduk lagi di koper.
“Ya udah meeting aja terus sampe 2027.”
Erika jalan mendekat.
Nada mulai lembut.
“Ay…”
“Hmm.”
“Kamu pikir aku mau meeting hari ini?”
Diam.

Erika jongkok biar sejajar.
“Kalau bisa aku cancel, udah aku cancel dari kemarin.”
Ayyara masih manyun, tapi volumenya turun.
.

“Iya tapi tetap aja kamu bikin anak orang ngambek.” Nana menyahuti

Erika:
“NANA!”
Nana ketawa puas.
.
.

“Kan aku cuma pengen berangkat bareng, santai, nggak keburu-buru…”
Nada udah bukan marah. Tapi kecewa.
Erika langsung pegang tangan Ayyara.
“30 menit. Habis itu aku full buat kamu.”
Ayyara lirih:
“Bener?”
“Bener.”

.

Senyum tipis.
“Oke, aju sama Calista berangkat dulu ya, ketemu lagi nanyi di Jerman. Kalian berdua beresin dramanya.”
Ayyara:
“Ka Nanaaaa…”
Nana jalan keluar sambil ketawa.
“Liburan kalian pasti nggak akan tenang. Aura dramanya kuat banget.”
.
.

Rumah jadi hening.
Ayyara masih duduk di koper.
Erika berdiri di depan dia.
“Masih ngambek?”
“Sedikit.”
“Skala 1–10?”
“9,7.”
Erika senyum tipis.
“Turunin ke 3. Nanti di pesawat aku traktir camilan semua yang kamu mau.”
Ayyara mikir.
“…6.”
Erika ketawa kecil.
Dan akhirnnya Ayyara ikut senyum tipis.

Drama belum selesai.
Meeting belum selesai.
Ngambek belum 100% reda.

.
.

Ayyara meluk dari belakang, tapi itu bukan pelukan manis.
Itu pelukan orang yang lagi kesel tapi gak mau ditinggal.

“Kamu gak akan bohong kan, Kak?”
Nada suaranya bukan lembut.
Lebih ke: ancaman terselubung bercampur sedih.
Erika berhenti. Matanya merem sebentar.

HP di tangannya masih getar — Pak Dewa lagi. Vanya lagi.
“Ayy...” napasnya berat, “aku lagi dikejar satu kantor.”
“Yaudah sana kerja aja!!” Ayyara langsung lepas pelukan, mundur satu langkah. “Ngapain juga ke sini kalau ujungnya ninggalin aku!”

Kayla di belakang langsung buang muka pura-pura liat papan flight.
Anya gigit bibir nahan ketawa.
Revan bisik ke istrinya, “Ini lebih seru dari sinetron.”

Erika refleks pegang lengan Ayyara.
“Loh, kok jadi gitu sih?”
“IYA JADI GITU! Dari tadi meeting meeting meeting! Liburan ini siapa sih yang rencanain?!”
“Ayyara—”
“AKU!!”

Orang sebelah mulai nengok.

Erika langsung nurunin suara.
“Oke. Oke. Jangan teriak di bandara.”
“Aku udah capek. Di rumah capek. Di kampus capek. Di kantor capek. Sekarang mau liburan juga ditinggal. Lengkap udah.”

Erika keliatan kehabisan tenaga juga.
“Aku gak ninggalin kamu. Aku nyusul.”
“Semua orang yang bilang ‘nyusul’ itu ujungnya gak nyusul tau gak sih?”

kena.

Erika langsung diem setengah detik.

Kayla bisik pelan ke Anya,
“Waduh itu kalimat kritikal.”

HP bunyi lagi.
Erika lihat layar. Rahangnya kenceng.
Ayyara ngeliat.
“Nah. Angkat aja. Orang penting buat kamu kan itu, Pak Dewa.”

Kayla langsung keselek minum.

Erika: “Ayyaraa.”
Ayyara: “APA.”
Erika tarik napas panjang, pegang dua bahu Ayyara.
“Denger aku. Tatap aku.”
Ayyara masih manyun tapi liat.

“Aku gak mau ninggalin kamu. Tapi kalau aku gak selesain ini, efeknya panjang. Tim aku kena. Proyek batal. Orang-orang yang kerja sama aku bisa kena.”
Ayyara langsung nyengir tipis sinis.
“Tapi aku juga orang kamu kan?”
Erika langsung jawab tanpa mikir,
“Iya.”
Sunyi setengah detik.
Itu jawaban paling jujur yang keluar hari itu.

Ekspresi Ayyara goyah dikit.
Tapi gengsi masih ada.

“Aku tetep kesel.”
“Boleh.”
“Aku jutek di chat.”
“Udah biasa.”
“Aku bisa gak bales lama.”
“Jangan lama-lama banget.”
Ayyara hampir ketawa tapi ditahan.

Pengumuman boarding terdengar.

Kayla angkat tas.
“guys… udah.”
Momen jadi real.

Ayyara ngeliat Erika lagi. Kali ini matanya beda  bukan marah, tapi berat.
“Kalau kamu gak dateng…”
dia nunjuk,
“…aku blok.”

Erika senyum capek tapi hangat.
“Kalau aku gak dateng, kamu boleh marah seumur hidup.”
Ayyara maju, meluk lagi. Kenceng. Cepet.
“Jangan bohong.”
“Enggak.”

Begitu Ayyara jalan ke gate
Kayla langsung ke Erika:
“GILA itu ngambeknya level anak SMA ditinggal study tour.”
Erika cuma jawab,
“Iya. Tapi itu anak SMA aku.”
Terus HP bunyi lagi.
Wajah Erika balik ke mode perang.

Tapi sebelum pergi, dia liat gate tempat Ayyara masuk.
Pelan banget dia ngomong sendiri:
“Gue harus nyusul.”

.

Pak Dewa.
Erika matiin.
Belum sempat ngomong—
HP bunyi lagi.
Vanya.
Erika tarik napas, angkat.
“Iya Van, saya udah di bandara. Habis ini langsung ke lokasi meeting. File udah saya kirim— iya, iya.”

HP Erika bunyi lagi.
Kali ini Erika kesel beneran.
“Iya Pak… iya… saya OTW… 30 menit.”
Dia tutup telepon agak keras.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang