Ayah dan anak

1K 102 4
                                        

Ruang tamu rumah utama itu terlalu rapi untuk disebut ruang keluarga. Sofa putih bersih tanpa satu pun bantal meleset, meja kaca bening seperti tak pernah disentuh, dan aroma kayu manis dari diffuser mahal mengambang di udara. Tapi dingin—terlalu dingin.

Daddy duduk lebih dulu di kursi tunggal di ujung ruangan, tegak lurus seperti patung marmer hidup.

“Silakan duduk.”

Erika menarik napas, lalu duduk di sofa panjang tepat di depannya. Ayyara ikut duduk di samping Erika, menjaga jarak sopan. Calista dipeluk di pangkuannya, masih mengemut jari sambil memandangi chandelier di atas mereka.

Erina duduk agak jauh, menyandar lemas sambil memencet hidungnya dengan tisu. “Gue saksi,” katanya pelan.

Daddy tidak menanggapi. Tatapannya hanya pada pasangan muda di hadapannya.

Hening. Lima detik. Sepuluh detik. Dua puluh.

Erika mulai gelisah. “Daddy mau bicara apa? Kita nggak bisa lama, Ayara harus balik urus tugas kuliah.”

Tatapan itu bergeser sekilas ke Ayyara. Lalu kembali ke Erika.

“Daddy ingin memastikan,” suara Daddy terdengar pelan tapi tegas. “Bahwa kamu menjalankan tanggung jawabmu.”

“Tanggung jawab apa?” Erika mengangkat dagu. “Aku kerja. Aku biayain rumah. Aku—”

“Bukan itu,” potong Daddy.

Erika terdiam.

Daddy melanjutkan. “Kamu sudah menikah. Tentu kamu paham apa yang daddy maksud.”

Ayyara menoleh pelan, bingung.

Erika langsung menegang. “Daddy… jangan mulai lagi.”

Ayyara melirik Erika. *Mulai apa?* — tapi ia diam saja.

Daddy bersandar sedikit ke belakang. “Daddy tidak akan memaksa. Tapi Daady butuh kepastian.”

Erika mengepal tangan. “Aku bilang belum waktunya.”

“Berapa lama lagi kamu akan menunda?” tanya Daddy tanpa menaikkan nada.

“Aku—”

Sebelum Erika sempat menyelesaikan kalimatnya, Daddy mengangkat tangan, menghentikannya. Lalu menatap lurus ke Ayyara.

“Kamu.”

Ayyara langsung tegak. “Eh? I-iya, Dadd”

“Pindah ke kursi ini,” Daddy menunjuk kursi tunggal di depannya.

Erika spontan refleks. “Daddy, kenapa Ay yang—”

“Tinggal berdiri sebentar,” ujar Daddy tenang tanpa menoleh ke Erika.

Erika mematung. Matanya ke Ayyara, seperti berkata *Jangan nurut.*

Tapi Ayyara pelan berdiri sambil menggendong Calista, lalu melangkah gugup menuju kursi tunggal itu. Ia duduk. Calista diposisikan di pangkuan depannya, kecil dan tenang.

Erika berdiri di samping sofa, kelihatan kesal tapi tak bisa menolak.

Daddy menatap Ayyara. Lama. Sangat lama. Sampai Ayyara merasa kalau napasnya sendiri terdengar terlalu keras.

“Apakah kamu bahagia?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja. Ayyara sampai tidak yakin apakah ia mendengarnya dengan benar.

“Aakkuu… bahagia, Dad” jawabnya pelan. “kak Eca baik.”

“Baik?” Daddy mengulang datar, menoleh sedikit ke arah Erika. “Sejauh yang kamu lihat?”

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang