Kecurigaan

1.3K 111 5
                                        

Tiga hari berlalu setelah Tini melihat Ayyara dan Erika dalam satu mobil yang di mana Ayyara menjadi pengemudinya.

Tini menaruh rasa curiga yang membinggungkan. sebab, tak ada interaksi antara mereka berdua. Erika bahkan tak berubah sedikitpun dengan wajah yang datar dan penuh penyelidik.

Tini sempat melupakan kejadian malam itu, sampai akhirnya tibalah kecurigaan lainnya.

bahwa memang malam itu hanya kebetulan kaan?!

tapi tidak hari ini. Tini melihat Erika keluar kantor tepat di waktu yang sama dengan Ayyara, padahal sebelumnya keduanya hampir tak pernah pulang bersama.

Tini tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan diam-diam. Dan entah kenapa... ia merasa sebentar lagi, ia akan terlibat lebih dalam.

.

Esok hari.

Erika sudah bisa mengemudikan mobil. Ayyara pun berencana menaiki kendaraan umum (bus). Erika tak menahan, karna ia akan mampir ke Apartmen Revan untuk menitipkan Calista. sepertinya Calista mengalami Demam. di kantor sedang ada banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggal dan mba pengasuh Calista yang baru tidak ada kabar hingga pagi ini.

.

Ayyara sudah sampai dengan menanyakan wajah tidak bersemangat. ia membuka Laptop dengan kekuatan yang lemah.

"kamu kenapa Ra? sedih bu Erika nggak masuk?" Tini menyelidik

"Kka.. eh Bu'Er gak masuk?" sedikit panik, takut Calista semakin parah demamnya. segera menggecek ponsel untuk menanyakan keadaan Calista.

"kka?" Tini mengucap pelan


"mm, ikky! meeting kamu sama bu'Er bisa di tunda gak? after lunch gitu?. bu'Er tadi info ke saya, dia datang siang ke kantor" Vanya berdiri. "Guys! yang hari ini ada plann mau ketemu bu'Er. atau meeting tanpa jadwal yang udah saya siapin, tolong konfirmasi ke saya yah. thank you"

Ikky dan Sadam mengampiri Meja Vanya.

"kenapa bu boss, Van?"

"u-r-u-s-a-n- p-r-i-b-a-d-i katanya. mana pake di teken perkata, guedeh yang muter otak mikiran jadwal meeting hari ini" Vanya melemas. pasalnya ia sudah meminta izin untuk kerja setengah hari, hari ini. dan dengan keadaan begini. mau tak mau ia batalkan izin nya.

"Masalah rumah tangga toh" cibir Ikky dan Sadam

.

"kak. kak Eca gak masuk? Calista demamnya makin tinggi yah kak? apa akku pulang aja kak?" Ayyara dengan emsionalnya menelpon Erika

"kamu bisa dimen dulu gak? dengerin aku ngomong dulu Ayyra" tegas Erika di seberang. "mobil mogok, untungnya Calista udah aku anter ke Revan". lanjutnya.

"iya kak, maaf. mau aku jemput? atau aku pesan taxi online?"

"gak usah. kebetulan supir daddy masih di sekitaran sini. jadi aku sekalian menta di anterin ke kantor" Erika mematikan panggilan, karna pak supir sudah sampai.

Tini yang mendengar panggilan Ayyara dan Erika pun terkejut saat Ayyara berbalik kembali ke ruangan

"waaah!"

"yaampun. kak Tini! ngagetin aku aja"

"kak Eca? siapa Ra?" selidik Tini

"eee.. ituuu. eee.." garuk kepala yang tidak gatal. "kakak aku. iya kakak aku tadi telpon"

"sejak kapan kamu punya kakak? ohhh Bu'Erika itu kakak kamuu?" senyum menyelidik Tini.

Ayyara sontak kaget dengan tindakkan Tini, ia menarik lengan Tini menjauh dari ruangan.

"Kak, Tini. kamu bisa jaga sebuah rahasia?"

Ayyara menimbang-nimbang terkait hubunggannya dengan Erika, apakah Tini akan mengerti, atau bahkan jijik dengan statusnya. di tambah dengan cerita yang melatarbelakangi mengapa ia bisa menikah dengan Erika.

"Raa?Ayaraaa?! haloooww" Tini menepok tanggannya. "Rahasia apa?"

"Kak, Tini. janji dulu sama aku. soal rahasia ini yang gak boleh kebongkat kemanapun" seriusnya Ayyara.

"yaaah. aku janji" memanggutkan kepala

"benarr yaaa." menautkan jari kelingking ke Tini.

"iya" jawab cepat Tini

"aku dan bu'Erika, sebenarnya adalaah..."

.

.

.

.



gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang