Matahari hampir tenggelam, langit Bali berubah jingga ke ungu lembut.
Mereka duduk melingkar di bean bag dekat pantai minuman dingin, camilan, suara ombak jadi latar.
Ini bukan first day awkward.
Ini hari liburan pasangan menikah yang kebetulan rame.
Kayla duduk santai, kaki selonjor, kacamata hitam diturunin dikit.
Matanya melirik Erika dan Ayyara bergantian.
“Gue penasaran deh,” katanya santai tapi jelas niat.
“Ini Bali, kalian honeymoon atau liburan rame-rame doang?”
Ayyara langsung tersedak minumnya.
Erika tenang. Terlalu tenang.
“Honeymoon itu gak harus tempat khusus,” jawab Erika datar.
Kayla ngakak.
“Jawaban orang yang udah menikah banget.”
Anya ikut nimbrung, sambil senyum tipis.
“Tapi biasanya honeymoon tuh… lebih privat.”
Revan angkat alis.
“Dan lebih capek.”
Kayla langsung nyamber, matanya ke Ayyara.
“Capek yang menyenangkan.”
Ayyara merah.
Erika baru nengok.
“Kaaak Kayla ihhh.”
“Apa siiih? Gue realistis.”
Kayla nyengir jail.
“gue sama mas bule aja udah keliling dunia dan… yaaah—”
Ia bikin gesture ambigu pakai tangan.
“—gak usah sedetail itu lah.”
Erika narik napas, tapi kali ini Ayyara duluan bereaksi.
“Kak Kayla…” katanya pelan tapi tegas,
“aku masih di sini yahh”
Kayla malah tambah gemas.
“Justru itu. Gue pengen tau… lu kuat gak sama istri lu inii?”
Semua langsung nengok Erika.
Erika senyum kecil.
“Ayyara, gak usah dengerin omongan tante-tante ini ya”
Kayla dan Anya berbarengan melempar tisu ke Erika
.
.
Pantai makin ramai.
Beberapa cowok sebaya usia awal 20-an mulai memperhatikan meja mereka.
Bukan ke Erika.
Ke Ayyara.
Wajar.
Ayyara santai, natural, gak kelihatan “istri orang” versi stereotip.
Salah satu mendekat pelan.
“Permisi, boleh gabung bentar?”
Ayyara refleks senyum sopan.
Sebelum sempat jawab
Erika geser sedikit.
Tanpa suara.
Tanpa drama.
Tangan Erika naik, melingkar di bahu Ayyara.
Bukan possessive kasar.
Lebih ke gesture ini milik aku.
“Dia lagi sama istrinya,” kata Erika tenang.
Cowok itu kaget setengah detik.
“Oh— sorry, mbak.”
Langsung mundur.
Kayla ngakak puas.
“Tuh kan. Gini nih orang menikah.”
Ayyara nengok ke Erika.
“Kak…”
“Hm?”
“Aku bisa jawab sendiri sebenernya.”
“Aku tau.”
“Terus kenapa—”
“Karena aku mau.”
Pendek. Tegas.
Ayyara langsung kehabisan kata.
.
Lampu-lampu nyala. Musik makin kenceng.
Orang mulai berdiri, ngobrol, nari.
Sekarang giliran Erika dan Anya yang diperhatiin.
Beberapa pria mapan, jelas lebih tua, mendekat.
Bukan modus murahan — obrolan kerja, networking.
Erika menanggapi normal. Profesional.
Dari jauh, Ayyara ngeliat itu.
Bedanya?
Kali ini dia gak langsung cemburu.
Tapi dia bangkit.
Jalan ke arah Erika.
Begitu sampai, Ayyara berdiri di samping Erika,
tangannya refleks nyangkut di lengan Erika.
Bukan marah.
Bukan posesif.
Tapi jelas.
“Aku laper,” katanya.
Erika langsung nangkap.
“Oh ya?”
Nada suaranya lembut, beda dari mode kerja barusan.
“Iya.”
Erika menoleh ke lawan bicara.
“Sorry, saya lanjut lain waktu.”
Tanpa drama.
Begitu mereka jalan menjauh, Kayla tepuk tangan pelan.
“DEWASA.”
.
Mereka duduk agak menjauh dari keramaian.
Angin laut pelan.
Ayyara bersandar sedikit.
“Kamu gak kesel aku ganggu obrolan kamu?”
“Enggak.”
“Padahal bisa jadi klien.”
“Aku bisa cari klien lain.”
Ayyara melirik.
“Berarti aku prioritas?”
Erika senyum tipis.
“Kamu istri aku.”
Ayyara senyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
gadis kecil milikku
General FictionTerjebak dalam situasi yang mengharuskan aku bertanggung jawab atas hidupnya. Entah keberanian seperti apa yang membuat aku berani dalam mengambil sikap untuk berganggung jawab penuh atas hidupnya, dan berjanji akan menjaganya di depan ibunya yang s...
