Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Cemburu

1.1K 99 4
                                        

Sesampainya di apartemen, suasana langsung berubah sunyi.
Tidak ada gurauan kecil, tidak ada kulit tangan yang saling bersentuhan seperti biasa.

Keduanya duduk di sofa... tapi seperti terpisah oleh tembok tak terlihat.
Ayyara memainkan ujung jaketnya dengan gelisah.

Ia membuka ponselnya grup kuliah sedang ramai:

Reminder
Project Bandung confirmed 2 minggu penuh. Besok briefing final.
Ayyara menelan ludah.
Ia tahu ia harus bicara.
Tapi timing-nya... setelah hari yang rumit begini?

Sementara itu, ponsel Erika terus bergetar.
📞 Tama Calling...
📥 Message from: Aditya Pratama
Erika, soal proposal revisinya aku kirim sekarang ya. Bisa kita bahas malam ini?

Erika menghela napas dan menolak panggilan itu.
Lalu ia mengaktifkan mode silent - untuk pertama kalinya sepanjang hari.
Ayyara memperhatikan.
Ada rasa lega... tapi juga resah.

.

"Kaaakk..."
Ayyara memulai pelan.

Erika menoleh, wajahnya tampak lelah namun tetap fokus pada Ayyara.
"Aku... besok briefing. Daaan minggu depan aku harus ke Bandung. Project kampus. Selama Dua minggu."

Erika tidak langsung merespons.

Matanya berkedip pelan, memproses.
"Aku boleh ikut?"
Ayyara nyaris tersedak.
"Bukan liburan, kak. Ini tugas."
"Jadi?"
Erika menyilangkan tangan.

"Kamu mau pergi sendiri? Tinggal sama siapa? Penginapan apa?"

Ayyara menarik napas panjang.
"Kami sudah booking kost harian. Biar barengan anak kelas."

Erika langsung memijit pelipisnya.
"Kost-an?"
"Tiga perempuan, tiga laki-laki?"
"Kamar mandi luar?"

Nada suaranya naik sedikit.
"Bilang saja lokasi dan budgetnya. Aku carikan hotel yang proper. Dekat tempat tugas. Kamu share location tiap hari. Aku antar pulang pergi kalau perlu."

Ayyara langsung melotot.
"Kak Eca!..."
"Aku mau sama teman-teman. Aku bagian dari kelompok itu. Aku nggak bisa beda sendiri cuma karena-"
Karena aku milikmu.
Kalimat itu tertahan di tenggorokan Ayyara.

Erika berdiri.
"Kamu pikir aku nggak percaya kamu?"
"Aku cuma nggak percaya dunia luar."
Nada itu bukan marah tapi takut.
Sangat takut.

Ayyara menunduk.
"Aku tetap pergi dengan mereka, kak."
"Sebelum kamu marah: ini bukan aku menjauh. Aku kuliah. Aku ada masa depan juga."

Keheningan panjang.
Akhirnya Erika hanya mengangguk lemah.
"Oke."
"Syaratnya satu."
"Kamu harus video call aku setiap malam."

Ada sedikit senyum tipis yang muncul di bibir Ayyara.
"Deal."

Malam makin larut.

Ayyara pergi mandi, dan saat itu juga layar ponsel Erika menyala lagi.

📞 Tama calling... (urgent)
📩 Chat masuk:
Erika, aku harus bicara penting soal revisi final. Ini menyangkut kontrak.

Erika menatap pintu kamar mandi yang tertutup...
lalu akhirnya menjawab pesan itu.


Pembicaraan kerja

Tegas
Profesional
Tanpa kehangatan yang dulu pernah ada
Erika menjaga jarak.
Sangat menjaga.
Tapi tetap...
Nama Tama muncul terlalu sering malam itu.

Dan itu cukup untuk membuat Ayyara yang sedang mengeringkan rambut, merasakan rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh.

Ia keluar dengan handuk kecil di bahu, melihat Erika sibuk dengan mode kerja penuh.
"Kerjaan sama... pak Tama?"
Ayyara bertanya pelan.

gadis kecil milikkuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang